Angela Tanoesoedibjo Targetkan 50 Persen Konten Berbasis AI di V+Short
HONG KONG - CEO MNC Digital Entertainment, Angela Tanoesoedibjo, mengungkap strategi besar dalam menghadapi perubahan konsumsi media global. Salah satunya dengan integrasi teknologi Artificial Intelligence (AI) secara masif dalam produksi konten.
Angela menegaskan bahwa ke depan, MNC Digital tidak hanya bergantung pada produksi konvensional.
Ia menargetkan keseimbangan antara kreativitas manusia dan kecanggihan teknologi dalam platform terbarunya, V+Short.
"Hari ini kami memiliki produksi yang didukung AI, tetapi kami juga memiliki produksi sintetis AI—jadi sepenuhnya menggunakan AI. Kami menargetkan untuk memiliki proporsi 50-50; 50 produksi langsung dan 50 produksi AI di platform kami ke depannya," ujar Angela saat memberikan sambutan di peluncuran V+Short di Hong Kong pada Jumat (8/5/2026).
Tak hanya soal efisiensi produksi, Angela juga melihat peluang dalam pengembangan manusia digital. Hal ini diprediksi akan menjadi masa depan industri hiburan global.
"Kita bisa berada di dua tempat pada waktu yang sama karena nantinya kita bisa
mengembangkan manusia digital ini," tambahnya.
Hal senada juga disampaikan oleh CEO V+Short, Clarissa Tanoesoedibjo. Ia menilai V+Short hadir untuk mengisi waktu luang masyarakat urban melalui konten vertikal yang intim dan mudah diakses.
"Tindakan sederhana memegang ponsel Anda secara tegak (vertikal) menghilangkan hambatan bagi Anda untuk mengonsumsi konten secara instan. Ini terjadi seketika dan tanpa usaha; pada dasarnya ini adalah hiburan yang hanya digerakkan oleh jempol Anda," kata Clarissa Tanoesoedibjo dalam kesempatan yang sama.
Menurut Angela, durasi perhatian (attention span) penonton kini sangat singkat. Hal inilah yang mendasari lahirnya platform V+Short yang fokus pada konten drama vertikal format pendek.
"Tiga detik sebenarnya adalah waktu rata-rata yang dibutuhkan orang saat ini untuk memutuskan apakah mereka ingin menonton suatu konten atau tidak. Dan selama waktu yang terbatas itu, mereka juga ingin merasakan emosi yang besar," ungkapnya.
Ia menambahkan, penonton masa kini mendambakan konten yang mampu memicu perasaan secara instan dalam hitungan detik.
"Mereka ingin menangis, tertawa, marah; mereka ingin merasakan emosi. Dan kombinasi antara waktu yang tepat serta emosi yang tepat adalah peluang berikutnya dalam industri media digital ini," jelas Angela.


