Prabowo Minta Dukungan Negara ASEAN Wujudkan Proyek PLTS 100 GW di Indonesia

Prabowo Minta Dukungan Negara ASEAN Wujudkan Proyek PLTS 100 GW di Indonesia

Ekonomi | okezone | Jum'at, 8 Mei 2026 - 08:49
share

JAKARTA - Presiden Prabowo Subianto meminta dukungan negara-negara ASEAN untuk mewujudkan proyek pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berkapasitas 100 gigawatt (GW) yang tengah dikembangkan Indonesia sebagai bagian dari percepatan transisi energi nasional.

Permintaan tersebut disampaikan Presiden saat menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Khusus Brunei Darussalam-Indonesia-Malaysia-Philippines East ASEAN Growth Area (BIMP-EAGA) di Cebu, Kamis (7/5) waktu setempat.

Dalam pidatonya, Prabowo menegaskan kawasan ASEAN memiliki potensi besar dalam pengembangan energi baru terbarukan, mulai dari tenaga air, surya, hingga energi angin yang dapat menjadi fondasi ketahanan energi kawasan di masa depan.

"Pertanyaannya adalah apakah kita siap untuk bertindak berdasarkan potensi tersebut. Bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan subregional kita, tetapi juga untuk berkontribusi pada transisi energi ASEAN," ujarnya dalam keterangan siaran pers yang diterima Jumat (8/5/2026). 

Presiden menilai kerja sama lintas negara menjadi kunci untuk mempercepat pengembangan energi bersih di kawasan. Karena itu, ia mendorong negara-negara anggota BIMP-EAGA untuk memperkuat kolaborasi dalam pembangunan infrastruktur energi hijau, termasuk proyek tenaga air di Kalimantan, pengembangan energi surya di Palawan, serta pemanfaatan energi angin di kawasan pesisir.

"Transisi energi kita sedang melaju dengan kecepatan penuh. Kita tengah membangun tenaga surya 100 GW. Bersama-sama kita tingkatkan infrastruktur energi kita. BIMP-EAGA memiliki potensi yang besar," ujar Prabowo.

Sementara itu, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan proyek-proyek energi bersih yang dibangun dalam kerja sama subregional ASEAN akan membuka akses listrik yang lebih terjangkau bagi masyarakat, khususnya di wilayah terpencil.

 

Menurut Bahlil, hasil kerja sama dalam Power and Energy Infrastructure Cluster (PEIC) mencakup proyek interkoneksi jaringan listrik, pengembangan energi terbarukan, elektrifikasi pedesaan, hingga program efisiensi energi dan konservasi energi.

"Program ini akan memperkuat kolaborasi subregional, sehingga masyarakat di daerah remote area mampu mengakses energi dengan harga yang terjangkau untuk kesejahteraan yang lebih baik," kata Bahlil.

Dalam forum tersebut, negara-negara anggota juga mengesahkan dokumen BIMP-EAGA Vision (BEV) 2035 yang menjadi kerangka strategis pembangunan kawasan agar lebih inklusif, berkelanjutan, dan kompetitif secara ekonomi melalui penguatan konektivitas dan pembangunan energi bersih.

Topik Menarik