Rupiah Menguat ke Rp17.333, Geopolitik dan Ekonomi AS Jadi Sentimen Pasar
JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup menguat pada akhir perdagangan hari ini. Rupiah naik 54 poin atau sekitar 0,31 persen ke level Rp17.333 per dolar AS.
Pengamat Pasar Uang Ibrahim Assuaibi mengatakan bahwa sentimen datang dari global, yaitu optimisme atas kemungkinan berakhirnya perang di Timur Tengah. Namun, pasar mengurangi kerugian setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa “terlalu dini” untuk pembicaraan tatap muka dengan Teheran, dan seorang anggota parlemen senior Iran menyebut proposal AS lebih merupakan daftar keinginan daripada kenyataan.
“Iran mengatakan pada hari Rabu bahwa mereka sedang meninjau proposal perdamaian AS yang menurut sumber akan secara resmi mengakhiri perang sambil membiarkan tuntutan utama AS agar Iran menangguhkan program nuklirnya dan membuka kembali Selat Hormuz tetap belum terselesaikan,” tulis Ibrahim dalam risetnya, Kamis (7/5/2026).
Seorang juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran yang dikutip kantor berita ISNA mengatakan Teheran akan menyampaikan tanggapannya. Trump mengatakan dia percaya Iran menginginkan kesepakatan.
Sumber mediasi Pakistan dan pihak lain yang diberi informasi tentang pembicaraan tersebut mengatakan bahwa kesepakatan hampir tercapai mengenai memorandum satu halaman yang secara resmi akan mengakhiri konflik.
Media AS Axios melaporkan bahwa AS mengharapkan tanggapan Iran mengenai beberapa poin penting dalam 48 jam ke depan, mengutip sumber yang mengatakan bahwa ini adalah kesepakatan terdekat yang pernah dicapai kedua pihak sejak perang dimulai.
Fokus pasar hari ini akan tertuju pada klaim pengangguran awal dan pidato para pejabat Federal Reserve. Para pedagang juga bersiap untuk data laporan ketenagakerjaan AS bulan April yang akan dirilis besok, Jumat, karena hal itu dapat menentukan langkah The Fed selanjutnya terkait kebijakan suku bunga.
Dari sentimen domestik, potensi penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) kian terbuka seiring tekanan fiskal yang meningkat akibat lonjakan harga energi global, ditambah beban subsidi yang berpotensi melampaui asumsi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Kondisi geopolitik global yang memanas membuat harga energi bertahan di level tinggi dalam waktu yang tidak singkat. Situasi tersebut turut mendorong kenaikan komponen crack spread, yakni selisih harga minyak mentah dan produk turunannya seperti BBM.
Dengan crack spread yang masih tinggi, biaya subsidi bisa menjadi lebih besar dari perhitungan pemerintah dalam APBN. Hal ini membuat kapasitas fiskal menjadi terkonstrain. Apabila harga minyak dunia, yang tercermin dari harga acuan seperti Brent, bertahan di level USD120 per barel dalam beberapa bulan, maka penyesuaian harga BBM menjadi sesuatu yang sulit dihindari.
Dalam kondisi tersebut, pemerintah sebenarnya memiliki ruang untuk melakukan penyesuaian harga BBM bersubsidi. Namun, opsi tersebut dinilai akan menjadi langkah terakhir mengingat dampaknya terhadap daya beli masyarakat. Dengan keterbatasan fiskal ini, langkah yang paling masuk akal dilakukan pemerintah adalah menyelesaikan pekerjaan rumah yang belum tuntas, yakni deregulasi. Hal ini penting untuk menjaga keberlangsungan industri.
Selain itu, pemerintah juga berupaya menjaga napas industri, terutama dalam meningkatkan produksi dalam negeri melalui hilirisasi. Jika bahan baku berbasis energi bisa diproduksi lokal, industri di Tanah Air bisa mengurangi ketergantungan impor.
Situasi yang terjadi saat ini menjadi waktu yang tepat bagi semua pihak untuk berbenah, termasuk menghadirkan energi yang lebih ramah lingkungan untuk digunakan masyarakat maupun sektor industri.
Berdasarkan analisis tersebut, Ibrahim memprediksi bahwa rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan selanjutnya dan berpotensi ditutup melemah dalam rentang Rp17.300–Rp17.340 per dolar AS.










