Ekosistem Pendidikan Nasional Perlu Kolaborasi Lintas Sektor
JAKARTA — Tantangan pendidikan yang semakin kompleks memerlukan pendekatan kolaboratif. Festival pendidikan Belajaraya Jakarta menjadi ruang kolaborasi yang mempertemukan berbagai pemangku kepentingan untuk memperkuat ekosistem pendidikan nasional. Inisiatif dari Semua Murid Semua Guru (SMSG) ini mengintegrasikan lebih dari 1.000 Komunitas dan Organisasi Pendidikan (KOP) guna mendorong inovasi pembelajaran yang lebih relevan dan inklusif.
Belajaraya Jakarta mengusung semangat kerja bersama lintas sektor mulai dari pemerintah, komunitas, hingga masyarakat untuk menciptakan solusi pendidikan yang berkelanjutan dan berdampak luas.
Salah satu sesi utama, “Gotong Royong untuk Sekolah dan Madrasah: Kebijakan dan Aspirasi Komunitas”, menghadirkan sejumlah tokoh penting seperti Nasaruddin Umar, Abdul Mu’ti, dan Saifullah Yusuf. Diskusi yang dipandu oleh Najelaa Shihab ini menekankan pentingnya sinergi antara sektor pendidikan, sosial, dan keagamaan dalam merumuskan kebijakan yang responsif terhadap kebutuhan masyarakat.
Pendidikan Berkelanjutan
Abdul Mu’ti menegaskan bahwa keterlibatan masyarakat merupakan fondasi penting dalam menciptakan dampak pendidikan yang berkelanjutan.
“Partisipasi aktif masyarakat merupakan kunci dalam menghadirkan dampak pendidikan yang nyata dan berkelanjutan. Semangat gotong royong yang menjadi DNA masyarakat Indonesia menjadi modal penting untuk menjawab tantangan,” ujarnya.
Sementara itu, Najelaa Shihab menyoroti pentingnya ruang kolaborasi lintas sektor.
“Pentingnya ruang temu lintas sektor untuk memperkuat dampak pendidikan, khususnya dalam menghubungkan kebijakan dengan praktik di lapangan serta memperluas partisipasi publik,” katanya.
Pada sesi lain bertajuk “Indonesia 2045: Mimpi Besar, dan Kerja Kolektif”, diskusi berfokus pada peran pendidikan dalam menyiapkan sumber daya manusia menuju visi Indonesia Emas 2045. Forum ini menghadirkan Najelaa Shihab, Rangga Septyadi, serta Mandira Bienna Elmir.
Diskusi tersebut menegaskan bahwa kualitas pendidikan saat ini akan sangat menentukan kesiapan generasi masa depan. Kolaborasi lintas sektor dinilai sebagai fondasi penting untuk membentuk individu yang adaptif, kritis, dan siap menghadapi dinamika global.
Mandira Bienna Elmir menyampaikan bahwa sikap kritis menjadi awal dari perubahan.
“Rasa kritis adalah api yang menyadarkan kita bahwa ada sesuatu yang harus berubah, dan itulah awal dari sebuah pergerakan,” ujarnya.
Najelaa Shihab juga menambahkan pentingnya membangun kepercayaan antar pemangku kepentingan agar inovasi pendidikan dapat terus berkembang secara berkelanjutan.
Melalui Belajaraya Jakarta, pendidikan tidak lagi dipandang sebagai tanggung jawab satu pihak saja, melainkan sebagai gerakan kolektif. Festival ini menjadi wadah untuk berbagi praktik baik, memperkuat jejaring, serta mendorong transformasi pendidikan Indonesia agar lebih inklusif dan relevan dengan kebutuhan masa depan.










