5 Fakta Harga Minyak Goreng Meroket dan Penyebabnya
JAKARTA - Harga minyak goreng menjadi sorotan karena meroket pada pekan ini. Bahkan ada yang menjual minyak goreng hingga Rp60 ribu untuk kemasan dua liter.
Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso mengakui kenaikan harga minyak goreng tersebut. Menurutnya, penyebab utama kenaikan tidak sepenuhnya dipicu oleh masalah ketersediaan minyak.
Berikut fakta-fakta menarik terkait melonjaknya harga minyak goreng, Minggu (26/4/2026):
1. Harga MinyaKita Naik
Harga minyak goreng merek MinyaKita mengalami kenaikan tipis dari Harga Eceran Tertinggi (HET) Rp15.700 menjadi sekitar Rp15.900 per liter. Kenaikan harga minyak goreng premium lebih terasa di daerah tertentu, seperti Papua, yang disebut dipengaruhi oleh faktor distribusi.
"Kalau harga minyak goreng MinyaKita, saya lihat di SP2KP itu Rp15.900-an ya dari Rp15.700-an HET-nya. Kalau minyak goreng premium itu terutama memang di daerah seperti Papua, karena memang distribusinya," kata Mendag Budi Santoso.
2. Penyebab Kenaikan Harga
Selain faktor distribusi, Mendag menyebut kenaikan harga minyak goreng dipicu oleh meningkatnya harga bahan baku plastik. Ia menambahkan pemerintah telah berkomunikasi dengan produsen minyak goreng dan industri plastik untuk memastikan produksi tetap berjalan.
"Tadi kami sudah komunikasi dengan para produsen, pada prinsipnya stok barang ada, tidak ada masalah. Jadi ketersediaan pasokan ada. Memang salah satu imbas kenaikan itu karena harga plastik naik," lanjutnya.
Meski demikian, Mendag optimistis kondisi ini dapat segera diatasi. Menurutnya, stabilitas harga tidak hanya bergantung pada produksi minyak goreng, tetapi juga pada kelancaran distribusi bahan kemasan.
3. Peringatan Keras ke Produsen Minyak Goreng
Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman melontarkan peringatan keras kepada produsen minyak goreng yang menaikkan harga di atas ketentuan pemerintah. Ia menegaskan tidak akan ragu mengambil tindakan tegas terhadap pelaku usaha yang terbukti melanggar aturan.
"Suruh saja naikkan, saya turun tangan nanti. Beritahu mereka, produsen minyak goreng yang bermain-main, saya cek. Bila melanggar regulasi, saya tindak, bersama Satgas," katanya.
4. Jangan Ambil Untung Berlebih
Tak hanya produsen minyak goreng, Mentan juga meminta para pelaku impor untuk tidak mengambil keuntungan berlebihan, terutama di tengah situasi geopolitik global yang memanas dan berdampak pada rantai pasok.
Ia menyoroti bahwa para importir telah menikmati keuntungan dalam waktu lama sehingga diharapkan memiliki tanggung jawab sosial terhadap masyarakat. Ia mengingatkan agar pelaku usaha tidak bersikap semena-mena dalam menentukan margin keuntungan.
"Seluruh importir kan sudah untung puluhan tahun. Dalam kondisi geopolitik memanas, pedulilah sesama anak bangsa. Jangan ambil untung berlebihan. Kami sudah panggil semua yang terkait impor, tidak boleh ambil keuntungan semena-mena. Kalau semena-mena, saya evaluasi izin impornya," tegas Mentan.
5. Jadi Sorotan BPS
Industri Manufaktur RI Kena Pukulan Ganda, Terhimpit Krisis Gas hingga Konflik Timur Tengah
Badan Pusat Statistik (BPS) menyoroti adanya fluktuasi harga minyak goreng yang masih cukup tinggi. Hingga minggu ketiga April, kenaikan harga minyak goreng tercatat terjadi di 207 kabupaten/kota, meningkat dari 177 kabupaten/kota pada minggu sebelumnya.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menyampaikan bahwa pemerintah pusat dan daerah perlu memberikan perhatian lebih intensif sebagai langkah intervensi untuk meredam fluktuasi harga minyak goreng.
"Minyak goreng ini sebagai catatan, peningkatannya terjadi pada 207 kabupaten/kota. Sengaja kami beri tanda karena pada minggu kedua hanya 177 kabupaten/kota. Sekarang menjadi 207 kabupaten/kota. Jadi peningkatannya cukup banyak," ungkap Ateng.










