Horor! Prajurit Kopassus Ini Tersesat ke Alam Lain saat Kejar KKB Papua
JAKARTA - Prajurit Kopassus dilatih untuk menguasai berbagai keahlian seperti teknik tempur, membaca peta, pionir, patroli, survival, mendaki gunung, pendaratan kendaraan, hingga taktik perang gerilya. Mereka juga dilatih di berbagai medan perang mulai dari perkotaan, pegunungan, perhutanan, rawa-rawa, dan laut.
Prajurit Kopassus memiliki pengalaman dan kisah-kisah yang menarik selama penugasannya, seperti yang dialami oleh Selvanus (bukan nama sebenarnya), seorang prajurit Kopassus yang sempat bertugas di Papua.
Dilansir dari buku Kopassus untuk Indonesia, karangan Iwan Santosa dan E.A Natanegara, Minggu (19/4/2026), kisah itu terjadi saat Selvanus ditempatkan sebagai komandan pos di Timika yang sangat rawan karena keberadaan kelompok kriminal bersenjata (KKB) Papua.
Prajurit baret merah itu mendapat perintah untuk melakukan penyerbuan ke markas KKB yang berjarak enam hari perjalanan dari lokasi mereka. Di hari kelima, Selvanus dan timnya menemukan sebuah sungai berarus deras dan memutuskan menyeberang menggunakan tali.
"Kebetulan saya jago renang. Jadi ketika saya lihat ada prajurit yang masuk ke pusaran air, saya juga ikut masuk dan menyelam," ujarnya. Namun, dia kemudian menemukan bahwa sungai itu menghilang dan menjadi air terjun.
Sejumlah anggota timnya telah berhasil menyeberang, tetapi Selvanus dan seorang Kopral hanyut. Dia kemudian menepi di tengah hutan Papua yang berada di ketinggian 4.000 meter di atas permukaan laut dan berusaha mencari prajurit yang hanyut bersamanya.
Sayangnya, dia justru tersesar di hutan belantara saat melakukan pencarian.
"Di kepala saya, saya harus mencari arah ke Timika untuk melapor ke komandan dan melanjutkan mencari anak buah yang hilang," tuturnya.
Di hari keenam, Selvanus sudah hampir kehilangan kesadaran. Dengan semua perlengkapan, termasuk sepatunya hanyut, Selvanus mulai berhalusinasi.
"Hari keenam itu saya sudah melihat alam lain. Saya mulai mengobrol dan berkomunikasi. Mungkin itu hanya halusinasi saja,” ujarnya.
Anehnya, dalam kondisi itu, Selvanus masih dapat terus berjalan, bahkan sampai hari kesebelas. Dia bahkan berhasil menyeberangi sungai selebar 200 meter dan mencapai Timika. Dia ditemukan oleh warga setelah hilang di hutan selama 18 hari.
"Saat itu saya hanya tinggal tulang berbalut kulit, mata yang terus berputar liar dan telapak kaki yang bengkak akibat tertancap potongan kayu. Dokter yang memeriksa saya saat itu menyatakan bebas dari penyakit malaria dan cacing tambang," kenangnya.
Setelah dinyatakan sehat, Selvanus diundang oleh Pangdam Cendrawasih ke Jayapura untuk makam malam. Pada acara itu, Selvanus juga merasakan ada keanehan pada dirinya.
"Anehnya, makanan satu meja itu semua habis saya makan sendiri. Saya makan banyak begitu bukan balas dendam, tapi rupanya ada yang 'ikut',” ujarnya.
Menurutnya, selama tersesat di hutan selalu ada tiga orang yang menemaninya, yang dia duga adalah makhluk dari alam lain.
“Tiba-tiba saya ingat bahwa saya selama di hutan memang selalu ditemani tiga orang. Kalau matahari sudah terbenam, satu memijati kaki, satu memijati pundak dan satu lagi berbagi rokok dengan saya. Alamnya sudah lain," tutup Selvanus.










