Kisah Jatuh Paling Mahal, Detik-Detik Michael Jordan Nyaris Celaka di Malam Debut NBA
KISAH jatuh paling mahal yang melibatkan sang legenda hidup NBA, Michael Jordan menarik untuk dibahas. Pasalnya insiden jatuh iut nyaris mencelakakan karier Jordan pada malam debutnya di ajang NBA.
Seperti yang diketahui, dunia mengenal Michael Jordan sebagai simbol kesempurnaan di lapangan basket. Namun, sedikit yang mengingat bahwa status Greatest of All Time (GOAT) miliknya hampir saja pupus tepat pada malam pembukaan karier profesionalnya.
Terpilih di urutan ketiga pada Draft NBA 1984 oleh Chicago Bulls, ekspektasi terhadap alumnus North Carolina ini memang tinggi, namun tak ada yang menyangka ia akan menjadi fenomena global. Momen mencekam itu terjadi pada 26 Oktober 1984, saat Chicago Bulls menjamu Washington Bullets (sekarang Wizards).
Jordan, yang kala itu masih berusia 21 tahun, mencoba melakukan aksi posterizer ikonik di depan Jeff Ruland. Namun, tabrakan hebat di udara dengan sang raksasa Bullets membuat keduanya jatuh terhempas ke lantai dengan posisi yang sangat janggal.
1. Momen Menegangkan di Chicago
Napas seisi stadion seolah terhenti saat melihat Jordan terkapar tak bergerak di lantai selama hampir 40 detik. Jatuhnya sang rookie terlihat jauh lebih mengerikan dari dugaan awal, memicu kekhawatiran bahwa karier sang bintang masa depan akan berakhir bahkan sebelum benar-benar dimulai.
Beruntung, setelah dibantu ke bangku cadangan untuk mengatur napas, Jordan mampu kembali ke lapangan. Meski sempat mengalami insiden traumatis, Jordan tetap memberikan kilasan bakat yang memukau.
Bulls berhasil menundukkan Bullets dengan skor 109-93. Pada malam debutnya tersebut, Jordan mengemas statistik yang cukup menjanjikan bagi seorang pemula: 16 poin, 7 assist, 6 rebound, 4 block, dan 2 steal, meski hanya berhasil memasukkan 5 dari 16 percobaan tembakan.
2. Lahirnya Legenda
Musim perdana Jordan berakhir dengan torehan yang mencengangkan meskipun Bulls hanya mencatat rekor 38-44 dan tersingkir di babak pertama playoff. Ia bermain penuh dalam 82 pertandingan reguler dengan rata-rata 28,2 poin per gim, yang akhirnya membuahkan gelar Rookie of the Year.
Musim 1984-1985 itu menjadi cetak biru bagi dominasi yang ia pertahankan selama 15 musim di NBA. Walau sudah pensiun lebih dari dua dekade lalu, pengaruh Jordan tetap tak tergoyahkan.
Jordan masih menempati posisi keenam pencetak skor terbanyak sepanjang sejarah musim reguler dan kedua di babak playoff. Lebih mengagumkan lagi, ia memegang rekor rata-rata skor tertinggi sepanjang karier di musim reguler (30,12 PPG) dan playoff (33,4 PPG).
Satu hal yang pasti, jika tabrakan dengan Jeff Ruland malam itu berakhir berbeda, sejarah olahraga dunia mungkin tidak akan pernah mengenal sosok Air Jordan.










