Profil dan Pendidikan Pratiwi Sudarmono, Astronot Pertama Indonesia yang Nyaris ke Luar Angkasa

Profil dan Pendidikan Pratiwi Sudarmono, Astronot Pertama Indonesia yang Nyaris ke Luar Angkasa

Gaya Hidup | okezone | Sabtu, 11 April 2026 - 11:05
share

JAKARTA – Prof. Pratiwi Sudarmono dikenal sebagai salah satu perempuan Indonesia yang mencetak sejarah di bidang sains dan antariksa. Ia menjadi calon astronot perempuan pertama dari Asia yang hampir terbang ke luar angkasa melalui program kerja sama dengan NASA pada 1986.

Namun, misi tersebut akhirnya batal terlaksana akibat insiden besar dalam program penerbangan luar angkasa saat itu.

Masa Kecil dan Latar Belakang

Pratiwi Sudarmono memiliki nama lengkap Pratiwi Pujilestari Sudarmono. Ia lahir pada 31 Juli 1952 di Bandung. Sejak kecil, ia sudah menunjukkan ketertarikan besar terhadap dunia luar angkasa dan sains.

Ia merupakan anak pertama dari enam bersaudara dan dikenal memiliki tekad kuat sejak usia dini untuk berkarier di bidang penelitian, bahkan bercita-cita terlibat dalam program luar angkasa Indonesia.

Riwayat Pendidikan

Setelah menyelesaikan pendidikan dasar dan menengah di Bandung, Pratiwi melanjutkan pendidikan SMA di Jakarta. Ia kemudian menempuh studi di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Di kampus tersebut, ia berhasil meraih gelar master pada 1977. Tak berhenti di situ, ia melanjutkan karier sebagai pengajar dan peneliti di bidang mikrobiologi.

Pada 1984, Pratiwi melanjutkan studi ke Jepang dan meraih gelar doktor di bidang mikrobiologi dari Universitas Osaka. Ia menjadi salah satu perempuan Indonesia pertama yang meraih gelar doktor di bidang kedokteran dari universitas di Jepang.

Perjalanan Menuju Antariksa

Pada 1985, pemerintah Indonesia menjalin kerja sama dengan NASA untuk misi pesawat ulang-alik. Dalam seleksi ketat yang diikuti ratusan kandidat, Pratiwi terpilih sebagai wakil Indonesia.

Ia bahkan berhasil unggul dari lebih dari 200 peserta, termasuk puluhan kandidat perempuan lainnya. Saat itu, ia masih aktif sebagai dosen dan peneliti di bidang genetika dan mikrobiologi.

Pratiwi direncanakan terbang menggunakan pesawat ulang-alik Space Shuttle Columbia dalam misi peluncuran satelit, termasuk Palapa B3.

Dalam misi tersebut, ia akan bertugas sebagai spesialis muatan sekaligus melakukan berbagai eksperimen ilmiah di luar angkasa.

Rencana keberangkatan pada Juni 1986 harus dibatalkan setelah terjadinya insiden besar dalam program pesawat ulang-alik NASA. Akibatnya, misi yang melibatkan Pratiwi pun tidak jadi dilaksanakan.

Meski demikian, pencapaiannya tetap dikenang sebagai tonggak penting dalam sejarah sains Indonesia. Ia sempat menjadi simbol kemajuan perempuan Indonesia di bidang teknologi dan antariksa, bahkan dijuluki sebagai sosok “Kartini modern”.

Walaupun tidak jadi terbang ke luar angkasa, perjalanan Pratiwi Sudarmono tetap menjadi inspirasi bagi banyak generasi muda Indonesia. Dedikasinya di bidang ilmu pengetahuan dan keberaniannya menembus dunia antariksa menunjukkan bahwa mimpi besar bisa diraih dengan kerja keras dan pendidikan tinggi.

Topik Menarik