Bukit Asam Cetak Laba Bersih Rp2,93 Triliun, Meski Harga Batu Bara Turun

Bukit Asam Cetak Laba Bersih Rp2,93 Triliun, Meski Harga Batu Bara Turun

Ekonomi | okezone | Jum'at, 3 April 2026 - 14:05
share

JAKARTA – PT Bukit Asam (Persero) Tbk (PTBA) mencatat laba bersih Rp2,93 triliun dan EBITDA Rp6,08 triliun sepanjang 2025. Meskipun profitabilitas terdampak tekanan harga batu bara global, perseroan menunjukkan pemulihan yang menjanjikan secara kuartalan.

Pemulihan ini didukung oleh posisi keuangan yang kokoh, terlihat dari kenaikan arus kas operasi sebesar 24 menjadi Rp6,26 triliun, yang mencerminkan fundamental bisnis yang sehat.

Pertumbuhan aset perseroan meningkat menjadi Rp43,92 triliun, didorong oleh penambahan aset tetap strategis. Realisasi belanja modal (CapEx) mencapai Rp4,55 triliun, difokuskan pada pengembangan infrastruktur jangka panjang, termasuk proyek angkutan batu bara relasi Tanjung Enim–Kramasan.

Di tengah koreksi harga batu bara global, PTBA berhasil meningkatkan volume produksi sebesar 9 menjadi 47,2 juta ton, sementara volume penjualan naik 6 menjadi 45,4 juta ton. Sejalan dengan itu, volume angkutan batu bara juga meningkat 6, dari 38,2 juta ton menjadi 40,4 juta ton sepanjang 2025.

Capaian positif di sisi hulu dan hilir ini mencerminkan keberhasilan strategi adaptif perusahaan dalam menjaga kesinambungan pasokan energi, baik untuk kebutuhan domestik maupun pasar internasional.

PTBA tetap menjadi pilar utama ketahanan energi nasional, dengan 54 dari total penjualan dialokasikan untuk pasar domestik. Perseroan juga agresif melakukan ekspansi dan diversifikasi pasar global, dengan porsi ekspor mencapai 46.

Selain memperkokoh posisi di negara-negara Asia seperti Bangladesh, India, Vietnam, Korea Selatan, dan Filipina, PTBA berhasil menembus pasar baru di Eropa, yakni Spanyol dan Rumania.

Direktur Utama PTBA Arsal Ismail menekankan bahwa capaian kinerja operasional sepanjang 2025 menjadi cerminan ketahanan bisnis perseroan di tengah fluktuasi harga batu bara global.

“Tahun 2025 membuktikan resiliensi operasional kami. Meski harga jual rata-rata terkoreksi akibat penurunan indeks Newcastle sebesar 22, PTBA mampu menjawab tantangan tersebut melalui peningkatan efisiensi operasional dan perluasan pangsa pasar global,” ujar Arsal, Jumat (3/4/2026).

 

Kinerja keuangan PTBA tetap sehat, didukung arus kas yang kuat meski menghadapi volatilitas pasar global.

Memasuki 2026, PTBA menyambut persetujuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) tanpa pemotongan volume produksi, dan membidik target produksi dan penjualan sebesar 49,5 juta ton. Arsal menambahkan, strategi cost leadership melalui skema selective mining dan optimasi rantai pasok akan terus menjadi motor utama perusahaan untuk menjaga daya saing.

“Dengan fokus pada efisiensi dan pengembangan bisnis berkelanjutan, serta tetap mengedepankan kepatuhan terhadap tata kelola perusahaan, PTBA optimis dapat mempertahankan kinerja positif secara berkelanjutan, berkontribusi pada perekonomian nasional, dan menjaga ketahanan energi Indonesia,” tutup Arsal.

Topik Menarik