Kenalan dengan Robot Penyembuh Cedera Atlet

Kenalan dengan Robot Penyembuh Cedera Atlet

Gaya Hidup | okezone | Kamis, 2 April 2026 - 14:56
share

JAKARTA - Cedera tulang atau sendi kerap menjadi momok menakutkan bagi kalangan atlet profesional maupun amatir. Menjawab tantangan itu, dr. Evan, Sp.OT (K) Sports, seorang spesialis ortopedi dan traumatologi sekaligus konsultan cedera olahraga, mengungkap rahasia kesembuhan kilat para atlet.

Tak main-main, dr. Evan membawa ilmu dari Aspetar Hospital, Qatar, yang merupakan pusat rujukan medis bagi atlet-atlet terbaik dunia.

"Di Aspetar, saya belajar banyak mengenai cartilage (tulang rawan) dan ortobiologik. Itu adalah salah satu pusat rujukan rumah sakit untuk para atlet dunia. Sekarang, ilmu dan tim serupa sudah kita terapkan di sini," ujar dr. Evan di kawasan Thamrin, Jakarta Pusat, Kamis (2/4/2026).

dr. Evan mengatakan penggunaan ortobiologik, termasuk teknologi stem cell dan Platelet-Rich Plasma (PRP), bisa memanfaatkan sel dari tubuh pasien untuk mempercepat proses regenerasi jaringan yang rusak.

Jika biasanya patah tulang membutuhkan waktu sekitar 6 bulan untuk pulih total, dengan bantuan ortobiologik, durasi tersebut bisa dipangkas secara signifikan.

"Kalau biasanya patah tulang butuh 6 bulan untuk healing, dengan ortobiologik kita bisa persingkat menjadi 3 bulan. Kita bantu dengan sel-sel dari tubuh sendiri atau stem cell yang ada untuk mempercepat proses penyembuhan," jelasnya.

Bagi penderita pengapuran sendi atau osteoarthritis, teknologi ini menjadi angin segar. dr. Evan menjelaskan bahwa pasien dengan masalah tulang rawan tidak harus selalu berakhir di meja operasi untuk penggantian sendi.

"Penggunaan stem cell untuk tulang rawan di lutut sudah kami lakukan. Jadi, untuk cedera tulang rawan atau osteoarthritis, tidak harus langsung diganti sendinya, bisa kita lakukan tindakan ortobiologik," tambahnya.

Selain sel punca (stem cell), dr. Evan juga menyoroti penggunaan teknologi robotik dalam rehabilitasi. Berbeda dengan zaman dulu, di mana pasien harus tirah baring (bed rest) lama setelah operasi, kini teknologi robotik memungkinkan pasien kembali beraktivitas lebih agresif namun aman.

Alat robotik ini bekerja secara cerdas dengan mendeteksi kemampuan gerak pasien.

"Robot ini membantu gerakan sendi. Misalnya hari pertama robot membantu 80, lalu besoknya ketika pasien lebih kuat, robot hanya membantu 50. Ini menstimulasi pasien agar lebih cepat back to work atau back to sport," ungkapnya.

Dengan kombinasi keahlian internasional dan teknologi mutakhir seperti ortobiologik serta robotik, dr. Evan optimistis standar pelayanan kesehatan ortopedi di Indonesia, khususnya di Primaya Hospital Bekasi Timur, kini sudah selevel dengan pusat-pusat medis olahraga ternama di luar negeri.

Topik Menarik