Ini Kisah di Balik "Tim Ganjel" Tanjakan Lingkar Gentong saat Mudik 2026
TASIKMALAYA - Hari-hari Aip dan timnya selalu sibuk saat musim arus balik tiba. Mereka berjaga dari pagi hingga malam di sekitar tanjakan Lingkar Gentong. Sepanjang berjaga, tangan mereka menggenggam sebilah kayu berbentuk cekung.
Tujuan mereka sederhana namun krusial, yakni memastikan kendaraan roda empat hingga bus tidak mundur saat tak kuat menanjak di jalur yang terkenal terjal itu. Tak sedikit kendaraan mogok di tengah maupun di tepi tanjakan, mulai dari kopling terbakar hingga mesin mati, terutama saat kemacetan parah arus balik.
Begitu mobil atau bus mogok, Aip dan timnya sigap mengganjal dua ban belakang kendaraan. Satu orang menahan ban dengan balok kayu, sementara yang lain berjaga di belakang untuk mengantisipasi kendaraan mundur atau tabrakan.
Karena tugasnya itu, mereka dijuluki “tim ganjel”. Berkat aksi mereka, kendaraan yang kepayahan menanjak bisa tertahan sebelum akhirnya didorong menepi ke sisi jalan.
Aip, Ketua Tim Ganjel, mengatakan kegiatan ini sudah ada sejak pertengahan 1990-an. Ia bahkan mengaku sudah ikut membantu sejak berusia enam tahun. Saat itu, Lingkar Gentong masih satu jalur dan rawan aksi bajing loncat yang mengincar muatan truk.
Tak terhitung berapa banyak kendaraan yang telah ia bantu saat arus balik memuncak. Dari pengalaman itu, ia melihat beragam respons pengendara—ada yang tersenyum dan berterima kasih, namun ada pula yang menutup rapat kaca mobil tanpa sepatah kata.
Di sisi lain, Aip dan timnya hanya berharap imbalan seadanya atas tenaga yang mereka keluarkan. Tak jarang, bantuan mereka dipandang sinis karena stigma yang dikaitkan dengan pungutan liar.
“Duka-dukanya, kami ambil ikhlasnya saja. Padahal anak-anak sini, walaupun tidak dikasih, tetap tersenyum,” kata Aip saat berbincang dengan Okezone, Sabtu (28/3/2026).
Bagi kepolisian setempat, keberadaan Tim Ganjel sangat vital. Saat petugas fokus mengurai kemacetan di berbagai titik, tim ini hadir sebagai pelengkap di lapangan.
“Ya, tim ganjel pastinya sangat membantu,” ujar Kasat Lantas Polres Tasikmalaya Kota, AKP Riki Kustiawan.
Bagi Aip, kehidupan yang layak memang menjadi impian. Namun, ia menegaskan hal itu tak boleh diraih dengan cara yang salah. Ia bahkan pernah menemukan uang dan ponsel milik pemudik yang terjatuh, dan memilih mengembalikannya.
“Kalau kami berhasil menahan mobil yang mundur dan tidak menabrak kendaraan lain, itu yang paling membahagiakan. Tapi kalau terlambat dan terjadi tabrakan, saya merasa sedih karena tidak bisa membantu lebih cepat,” tuturnya.










