Kisah Tak Biasa Pesepakbola George Weah, Pemenang Ballon dOr 1995 yang Terpilih Jadi Presiden Liberia

Kisah Tak Biasa Pesepakbola George Weah, Pemenang Ballon dOr 1995 yang Terpilih Jadi Presiden Liberia

Terkini | okezone | Kamis, 26 Maret 2026 - 03:05
share

KISAH tak biasa pesepakbola George Weah menarik diulas. Pemenang Ballon dOr 1995 ini terpilih jadi presiden Liberia.

Tentunya, kabar ini langsung jadi sorotan besar. Ini jadi perubahan karier yang begitu drastis bagi seorang pesepakbola.

1. Pemenang Ballon dOr 1995

Kala membicarakan soal sepakbola dunia, nama George Weah tentu tak boleh terlewat. Pesepakbola kelahiran Monrovia, Liberia, pada 1 Oktober 1966 ini berhasil ukir prestasi manis.

George Weah pernah memperkuat klub-klub top dunia. Di antaranya, ada Paris Saint-Germain (PSG), AC Milan, Chelsea, hingga Manchester City.

Bermain di posisi striker, banyak gol yang bisa dicetak George Weah dalam kariernya. Di AC Milan, dia bukukan 58 gol dan 36 assist dari 147 penampilannya. Dia juga cetak 55 gol dan 11 assist dari 138 penampilan di PSG.

Bersama Chelsea, George Weah hanya main 15 kali. Namun, dari penampilannya itu, dia bisa cetak 5 gol dan 2 assist. Begitu juga di Man City, meski hanya main 9 kali, dia tetap bekerja optimal hingga cetak 4 gol dan 2 assist.

Penampilan apiknya itu membawa klub-klub yang dibelanya bisa berjuang merebut gelar bergengsi. George Weah bawa PSG juara Liga Prancis, 2 kali Piala Prancis pada musim 1992-1993 dan 1994-1995, hingga juara Piala Liga Prancis pada musim 1994-1995.

Lalu, bersama Chelsea, dia bawa klub tersebut juara Piala FA pada musim 1999-2000. Di AC Milan, George Weah angkat trofi juara Liga Italia dua kali pada musim 1995-1996 dan 1998-1999.

Kegemilangannya di PSG bahkan membuahkan trofi Ballon dOr juga. Dia meraihnya pada 1995 yang tentunya mengalahkan sederet nama top di dunia sepakbola pada masa itu.

 

2. Jadi Presiden Liberia

Kegemilangan George Weah tak hanya terlihat kala menjadi pesepakbola, tetapi juga saat banting setir ke dunia politik. Dia tak sekadar jadi politikus di negaranya, bahkan sukses terpilih jadi pemimpin tertinggi di negaranya, yakni presiden.

Langkah George Weah menjadi orang nomor satu di Liberia tidak ditempuh dengan mudah. Pada 2005, George Weah maju sebagai calon presiden (capres), namun harus mengakui keunggulan Ellen Johnson Sirleaf.

Tetapi, George Weah tak menyerah. Dia coba peruntungan lagi pada 2017 dengan maju sebagai capres lewat Partai Perubahan Demokratik (CDC). Ia mengendus peluang besar untuk menang karena sang petahana tidak bisa maju lagi.

Janji kampanye George Weah sebagai calon Presiden Liberia sangat sederhana, yakni meningkatkan pendidikan kejuruan untuk mengatasi kemiskinan, meningkatkan APBN, dan toleransi umat beragama. Ia juga kerap menyinggung asal-usulnya dari keluarga miskin selama berkampanye.

George Weah menepati janji kampanyenya, tidak lama setelah dilantik sebagai Presiden Liberia. Pada Januari 2018, ia memotong gaji sebagai kepala negara hingga sebesar 25 persen. Hal itu dilakukan untuk menghemat anggaran negara mengingat Liberia terancam bangkrut.

Namun, dalam masa 1,5 tahun kepemimpinannya, masyarakat Liberia menganggap George Weah gagal. Ibu Kota Monrovia diguncang gelombang protes massal pada 7 Juni 2019 akibat lambatnya pertumbuhan ekonomi negara serta tingginya inflasi yang menyebabkan harga bahan pokok melambung.

Topik Menarik