Bitcoin Ungguli Emas dan Saham di Tengah Perang, Kripto Jadi Sorotan Investor

Bitcoin Ungguli Emas dan Saham di Tengah Perang, Kripto Jadi Sorotan Investor

Ekonomi | okezone | Selasa, 24 Maret 2026 - 19:25
share

JAKARTA - Meningkatnya eskalasi konflik di Timur Tengah memicu ketidakpastian di pasar keuangan global. 

Di tengah kondisi tersebut Bitcoin justru menunjukkan ketahanan dengan kenaikan sekitar 12 dalam 60 hari terakhir dan diperdagangkan di kisaran USD70.000 - USD71.000 per Selasa (24/3/2026). 

Sebaliknya indeks S&P 500 turun sekitar 4, sementara harga emas terkoreksi hingga 16 dan mencatatkan penurunan terbesar sejak 1983 dengan menyentuh level sekitar USD4.400 per ons troy.

Kondisi ini mendorong meningkatnya perhatian investor terhadap Bitcoin sebagai alternatif lindung nilai di tengah gejolak pasar.

Vice President Indodax Antony Kusuma menjelaskan, kinerja kuat Bitcoin saat krisis bukanlah fenomena baru, melainkan pola yang sudah pernah terjadi seperti pada krisis pandemi COVID-19, ketegangan AS-Iran 2020, hingga konflik Rusia-Ukraina. 

“Karakteristik Bitcoin yang terdesentralisasi, dapat diperdagangkan 24 jam, serta tidak bergantung pada sistem perbankan konvensional menjadikannya relevan di tengah terganggunya stabilitas sistem keuangan akibat konflik geopolitik. Hal ini membuat Bitcoin memiliki fungsi praktis sekaligus potensi sebagai alternatif lindung nilai,” kata Antony di Jakarta, Selasa (24/3/2026).

Kepala Strategi Logam JPMorgan Greg Shearer menyebutkan penurunan harga emas dipicu oleh aksi sell-off di tengah lonjakan harga minyak akibat konflik di Timur tengah yang meningkatkan kekhawatiran inflasi. 

Tekanan ini turut didorong oleh penguatan dolar AS serta meningkatnya keuntungan dari obligasi, sehingga membuat emas kurang menarik dibandingkan aset imbal hasil dan berpotensi mengubah pola pembelian emas oleh bank sentral.

 

Di sisi lain, ketegangan di Timur Tengah yang berdampak pada jalur distribusi energi global di Selat Hormuz, meningkatkan risiko inflasi akibat lonjakan harga minyak. Kondisi ini mendorong ekspektasi bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. 

Dalam kondisi tersebut, emas yang tidak memberikan imbal hasil rutin cenderung kehilangan daya tarik, khususnya bagi investor institusional.

Meski demikian, pasar kripto masih berada dalam fase volatil dengan sentimen yang cenderung berhati-hati. Faktor makro ekonomi seperti inflasi dan kebijakan suku bunga masih akan menjadi penentu arah pergerakan harga ke depan.

Dengan demikian, investor disarankan untuk tetap memperhatikan manajemen risiko dan memahami dinamika pasar secara menyeluruh sebelum mengambil keputusan investasi.

Topik Menarik