Mengenal Dialisis Mandiri CAPD, Alternatif bagi Pasien Gagal Ginjal Selain Cuci Darah

Mengenal Dialisis Mandiri CAPD, Alternatif bagi Pasien Gagal Ginjal Selain Cuci Darah

Gaya Hidup | okezone | Sabtu, 14 Maret 2026 - 19:27
share

JAKARTA – Pasien gagal ginjal di Indonesia lebih mengenal terapi hemodialisis (HD) atau cuci darah dibandingkan Continuous Ambulatory Peritoneal Dialysis (CAPD). Adapun CAPD adalah metode dialisis mandiri yang dapat dilakukan di rumah dengan kontrol rutin ke rumah sakit sekitar satu kali dalam sebulan.

Ketua Umum Komunitas Pasien Cuci Darah Indonesia (KPCDI), Tony Richard Samosir, mengatakan pengalaman seperti yang dialami Rudi cukup sering terjadi. Banyak pasien baru mengetahui adanya pilihan terapi lain setelah bertahun-tahun menjalani hemodialisis.

Menurut Tony, di Indonesia sekitar 98 persen pasien gagal ginjal langsung menjalani terapi hemodialisis. Sementara itu, opsi lain seperti CAPD atau transplantasi ginjal belum selalu dijelaskan secara menyeluruh kepada pasien.

“Bagi kami di komunitas pasien, ini bukan hanya soal metode terapi, tetapi soal hak pasien untuk mendapatkan informasi lengkap dan menentukan pilihan pengobatannya sendiri,” ujarnya.

Penyakit ginjal kronik kerap disebut sebagai silent killer karena gejalanya sering tidak terasa pada tahap awal. Banyak pasien baru menyadari penyakitnya ketika sudah memasuki stadium lanjut, yaitu stadium 4 atau 5, saat fungsi ginjal telah menurun drastis.

Pada kondisi tersebut, pasien umumnya memerlukan terapi dialisis atau transplantasi untuk mempertahankan hidup.

Data menunjukkan sekitar 90 persen pasien tidak menyadari penyakit ginjal yang dideritanya hingga mencapai stadium lanjut. Jumlah pasien gagal ginjal kronik di Indonesia sendiri diperkirakan mencapai sekitar 1,5 juta orang pada 2023 dan diprediksi terus meningkat dalam beberapa tahun ke depan.

Di tengah peningkatan jumlah pasien tersebut, layanan dialisis di Indonesia masih didominasi oleh hemodialisis. Selama periode 2022 hingga 2024, jumlah pasien yang menjalani terapi ini tercatat mencapai 134.057 orang.

Lonjakan jumlah pasien juga berdampak pada peningkatan beban pembiayaan yang ditanggung BPJS Kesehatan. Biaya layanan dialisis meningkat dari sekitar Rp6,5 triliun pada 2019 menjadi Rp11 triliun pada 2024.

Mengenal Terapi CAPD

CAPD menawarkan pendekatan yang berbeda dibandingkan hemodialisis. Pada terapi ini, pasien memasukkan cairan dialisat melalui kateter yang dipasang di rongga perut. Cairan tersebut berfungsi menyerap zat sisa metabolisme dari darah.

Setelah beberapa jam, cairan tersebut kemudian dikeluarkan dan diganti dengan cairan baru. Proses ini biasanya dilakukan tiga hingga empat kali dalam sehari secara mandiri di rumah.

Dengan metode tersebut, pasien memiliki fleksibilitas yang lebih besar dalam menjalani aktivitas sehari-hari, termasuk bekerja.

Dari sisi pembiayaan, terapi CAPD telah diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 3 Tahun 2023 sebagai tarif non-Indonesian Case Based Groups (non INA-CBG). Besaran tarifnya sekitar Rp8 juta per bulan yang mencakup bahan habis pakai, jasa pelayanan medis, serta distribusi logistik terapi ke rumah pasien.

Sementara itu, klaim BPJS untuk terapi hemodialisis melalui skema INA-CBG berkisar antara Rp820 ribu hingga Rp1,2 juta per sesi, tergantung kelas rumah sakit dan wilayahnya.

Jika pasien menjalani hemodialisis dua kali dalam seminggu, biaya klaim dapat mencapai sekitar Rp6,5 juta hingga Rp9,6 juta per bulan, belum termasuk biaya transportasi dan kebutuhan nonmedis lainnya.

Bagi Rudi, mengenal CAPD bukan hanya soal mengganti metode pengobatan, tetapi juga kesempatan untuk kembali memiliki kendali atas kehidupan sehari-harinya.

Edukasi Terapi Masih Terbatas

Meski telah tersedia dalam sistem kesehatan nasional, pemanfaatan CAPD di Indonesia masih tergolong rendah. Pemerintah menargetkan setidaknya 10 persen pasien dialisis menggunakan terapi ini sebagai bagian dari transformasi layanan kesehatan rujukan.

Upaya tersebut diharapkan dapat mengurangi ketergantungan pada mesin hemodialisis sekaligus meningkatkan efisiensi sistem kesehatan.

Tony menilai salah satu kendala utama rendahnya penggunaan CAPD adalah kurangnya edukasi mengenai pilihan terapi bagi pasien gagal ginjal.

Di beberapa negara lain, pasien biasanya mendapatkan penjelasan menyeluruh mengenai berbagai pilihan terapi sebelum memulai dialisis. Misalnya, di Malaysia pasien diberikan informasi mengenai hemodialisis maupun peritoneal dialysis sehingga dapat menentukan metode yang paling sesuai dengan kondisi mereka.

Di Indonesia, edukasi semacam itu belum selalu menjadi bagian dari proses pelayanan.

Akibatnya, banyak pasien terus menjalani hemodialisis karena itulah satu-satunya terapi yang mereka ketahui.

“Kami sering mendengar pasien berkata, ‘Kenapa tidak dari dulu saya tahu CAPD?’ Banyak yang justru mengetahui terapi ini dari komunitas pasien, bukan dari sistem layanan kesehatan,” kata Tony.

Selain dapat dilakukan di rumah, CAPD juga dinilai memiliki beberapa keunggulan lain. Risiko infeksi nosokomial cenderung lebih rendah karena pasien tidak perlu sering datang ke rumah sakit. Terapi ini juga tidak memerlukan penusukan akses pembuluh darah secara berulang seperti pada hemodialisis.

Tony menekankan bahwa pasien gagal ginjal umumnya harus menjalani terapi dialisis sepanjang hidupnya. Oleh karena itu, mereka perlu dilibatkan secara aktif dalam proses pengambilan keputusan terkait terapi yang akan dijalani.

“Pasien tidak boleh hanya menjadi objek pengobatan. Mereka harus menjadi subjek yang memahami pilihan terapi dan dapat menentukan mana yang paling sesuai,” ujarnya.

Momentum World Kidney Day 2026 yang mengusung tema “Kidney Health for All: Caring for People, Protecting the Planet” dinilai menjadi waktu yang tepat untuk memperkuat upaya deteksi dini penyakit ginjal serta meningkatkan edukasi mengenai berbagai pilihan terapi.

Selain itu, pengembangan layanan kesehatan berbasis rumah (home-based care) juga dipandang dapat membantu mengurangi beban mobilitas pasien dan kepadatan layanan di fasilitas kesehatan.

Topik Menarik