Tiga Skenario Perang Israel-AS vs Iran

Tiga Skenario Perang Israel-AS vs Iran

Nasional | okezone | Selasa, 10 Maret 2026 - 15:26
share

(Penulis: Ridwan Al-Makassary, Dosen Jurusan Ilmu Politik Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) dan Direktur Center of Muslim Politics and World Society (COMPOSE) UIII)

PERANG acap dimulai dengan keyakinan penuh bahwa ia bisa dimenangkan. Para jenderal sibuk menyusun peta operasi, politisi menghitung biaya dan manfaat perang dan analis memperkirakan durasi konflik. Semua tampak rasional, seolah-olah perang hanyalah persoalan strategi. Namun, sejarah acap mengajarkan ironi bahwa perang hampir selalu berkembang melampaui rencana para pelakunya. Israel-Amerika Serikat (AS) mengalaminya saat ini. Mereka menyangka bahwa dengan membunuh pemimpin Iran, yang dikenal dengan teori “decapitation strike” (pemenggalan kepala rezim), akan mengakibatkan Iran lumpuh dan rakyat bangkit melawan. Singkatnya rezim berganti dalam waktu singkat. 

Namun, yang terjadi adalah sebaliknya. Di luar perkiraan Isreal-AS. Serangan militer yang awalnya dimaksudkan sebagai operasi terbatas kini berpotensi membuka babak baru konflik di Timur Tengah, karena Iran tidak menyerah bahkan menunjukkan ketangguhan dalam perang yang berlangsung. Gugurnya sang rahbar Khamenei telah menjadi situs perlawanan. Terpilihnya Mojtaba Khamenei, putra kedua Ali Khamenei, menandai babak baru konflik yang tidak akan berhenti segera. Pertanyaan yang bisa diajukan adalah seberapa besar perang akan meluas dan hingga kapan? Tulisan ini hendak mengulas, paling tidak, ada tiga skenario masa depan yang mungkin muncul dari perang ini, dan juga rapuhnya kemanusiaan.

Skenario Pertama: Perang Timur Tengah 

Jika Iran memutuskan untuk melakukan balasan penuh, perang tidak akan berhenti di Israel, namun meluas ke Kawasan Teluk. Iran memiliki jaringan pengaruh yang luas di Kawasan, sejak dari Lebanon, Irak, Suriah, hingga Yaman. Kelompok-kelompok bersenjata yang selama ini menjadi sekutu strategisnya bisa membuka front baru secara simultan. Karenanya, dalam situasi seperti itu, Israel tidak hanya menghadapi satu musuh, tetapi lingkaran konflik regional.

Sementara itu, AS hampir pasti akan memperluas keterlibatannya untuk melindungi sekutunya. Pangkalan militer AS di Teluk Persia dapat menjadi target serangan rudak Iran. Selat Hormuz, jalur energi paling vital di dunia, dapat berubah menjadi arena konfrontasi militer. Sebagai satu akibat, jika jalur ini terganggu, harga minyak dunia bisa melonjak tajam. Inflasi global akan meningkat. Ekonomi dunia yang sudah rapuh bisa kembali terguncang. Singkatnya, dalam skenario ini, Timur Tengah tidak lagi sekadar kawasan konflik. Ia berubah menjadi epicentrum krisis global.

Skenario Kedua: Perang Panjang Tanpa Akhir

Ada kemungkinan lain yang lebih berbahaya. Perang tidak meluas secara dramatis, tetapi juga tidak pernah benar-benar selesai. Serangan udara terus berlangsung. Iran akan menggunakan strategi pedrang atrisi dengan membalas dengan misil, drone, dan operasi proksi untuk melemahkan Israel-AS. Sedangkan Israel menyahuti dengan teknologi militer yang lebih canggih. AS tetap berada di belakang layar, dengan terlibat untuk menjaga keseimbangan, tetapi tidak cukup untuk mengakhiri konflik. Inilah bentuk perang modern, yaitu perang tanpa garis akhir.

Perang model ini tidak menghasilkan kemenangan mutlak, tetapi terus menguras energi politik, ekonomi, dan kemanusiaan. Perang seperti ini bisa berlangsung bertahun-tahun. Dunia mungkin tidak lagi menempatkannya sebagai berita utama, tetapi dampaknya tetap terasa di mana-mana. Perang yang mirip-mirip dengan terjadi antara Rusia dan Ukraina dan dahulu perang delapan tahun antara Iran dan Iran.

Skenario Ketiga: Perdamaian yang Rapuh

Skenario ketiga adalah yang paling diharapkan, tetapi juga yang paling sulit. Tekanan internasional dapat memaksa semua pihak yang berperang untuk menghentikan eskalasi. Negara-negara besar seperti China dan Rusia mungkin mendorong de-eskalasi demi stabilitas global. Negara-negara Eropa akan khawatir terhadap krisis energi dan gelombang pengungsi baru. Negara-negara teluk mengkhawatirkan oerang meluas ke Kawasan tersebut. Hasilnya bisa berupa gencatan senjata atau perjanjian tidak resmi untuk menghentikan serangan langsung.

Tetapi perdamaian seperti ini biasanya tidak benar-benar menyelesaikan masalah. Ia hanya menunda terbitnya konflik berikutnya. Sejarah Timur Tengah penuh dengan perjanjian damai yang rapuh. Ia hanya berupa kesepakatan yang bertahan cukup lama untuk memberi jeda, tetapi tidak cukup kuat untuk menghilangkan permusuhan dan dendam kesumat.

Rapuhnya Kemanusiaan

Di balik semua kemungkinan itu, ada pertanyaan yang menghunjam, yaitu mengapa perang terus berulang terjadi dalam sejarah panjang kemanusiaan? Jawabannya mungkin terletak pada cara pandang kita memahami kekuasaan. Dalam politik internasional, kekuatan militer acap dianggap sebagai bahasa terakhir dari keamanan. Negara merasa harus menunjukkan kekuatan agar dihormati. Rivalitas geopolitik mendorong logika keseimbangan kekuatan. Singkatnya, pendekatan keamanan dengan lensa teori realis yang acap digunakan.

Sementara itu, pendekatan liberalisme yang nempatkan kerjasama dan penghormatan pada institusi perdamaian dan norma acap tidak dilirik. Selain itu, dalam tradisi etika yang lebih tua, termasuk dalam warisan moral agama menunjukkan bahwa kekuatan seharusnya justru digunakan untuk melindungi kehidupan, bukan menghancurkannya.

Dalam perspektif kemanusiaan, perang selalu menyisakan paradoks. Para pemimpin acap berbicara tentang kemenangan. Para strategi berbicara tentang keseimbangan kekuatan. Namun,  mereka abai bahwa korban terbesar selalu adalah mereka yang tidak pernah memilih jalan perang, yaitu warga sipil, anak-anak, dan masyarakat biasa yang hidupnya tiba-tiba hancur oleh keputusan politik pemimpin yang dirasuki kekuasaan yang jauh dari kehidupan mereka. Di sinilah kita diingatkan pada satu prinsip moral sederhana, yaitu tidak ada kemenangan sejati dalam perang yang menghancurkan kemanusiaan.

Pungkasannya, perang antara Isreal-AS dan Iran mungkin akan menemukan jalannya sendiri, cepat atau lambat, apakah menuju eskalasi, perang panjang, atau jeda diplomatik, sebagaimana disebutkan di atas. Namun, yang dipertaruhkan sesungguhnya bukan hanya stabilitas kawasan, melainkan juga masa depan kemanusiaan kita sendiri.

Topik Menarik