Diundang Prabowo, Pimpinan MUI, PBNU, dan Muhammadiyah Hadiri Buka Puasa di Istana
JAKARTA – Sejumlah pimpinan organisasi Islam mulai tiba di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, untuk menghadiri undangan buka puasa bersama yang digelar Presiden Prabowo Subianto, Kamis (5/3/2026).
Dari pantauan Okezone, yang pertama tiba adalah Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia, Anwar Iskandar, sekitar pukul 15.54 WIB. Setelah itu, hadir pula Ketua Umum Muhammadiyah, Haedar Nashir, serta Rais Aam Nahdlatul Ulama, Miftachul Akhyar.
Anwar mengatakan agenda utama kehadirannya di Istana adalah menghadiri acara buka puasa bersama yang diinisiasi Presiden Prabowo.
“Buka puasa bersama,” kata Anwar kepada awak media di Kompleks Istana Kepresidenan.
Ia menyebutkan sejumlah tokoh agama dan pimpinan ormas Islam lainnya juga diundang dalam kegiatan tersebut, termasuk mubalig serta pengasuh pondok pesantren besar yang memiliki jaringan luas di Indonesia.
“Ya nanti semua ketua umum ormas Islam, sama mubalig dan pengasuh pondok pesantren, yang pondok pesantren besar dan mempunyai jaringan yang luas,” ujarnya.
Dalam kesempatan yang sama, Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional, Nusron Wahid, menyampaikan bahwa mantan Wakil Presiden RI ke-10 dan ke-12, Jusuf Kalla, juga turut diundang dalam acara tersebut.
Menurut Nusron, Jusuf Kalla hadir dalam kapasitasnya sebagai Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia.
Terkait kemungkinan pembahasan isu geopolitik, khususnya konflik yang tengah terjadi di Timur Tengah, Anwar mengaku belum mengetahui apakah hal tersebut akan menjadi topik pembicaraan dalam pertemuan tersebut.
“Enggak tahu itu,” ujarnya singkat.
Ia menilai agenda tersebut kemungkinan hanya sebatas buka puasa bersama mengingat waktu yang cukup terbatas. Meski demikian, ia menilai komunikasi antara ulama dan pemerintah tetap penting untuk terus diperkuat.
“Kalau ada diskusi malah lebih bagus. Karena mungkin perlu ada komunikasi yang lebih baik antara ulama dan umara,” katanya.
Anwar juga berharap konflik di Timur Tengah tidak semakin meluas dan semua pihak dapat menahan diri demi terciptanya perdamaian. Ia menekankan pentingnya menjaga stabilitas agar konflik tersebut tidak berdampak pada kondisi ekonomi, termasuk di Indonesia.
“Saya enggak mau berandai-andai. Yang jelas kita inginnya semuanya menahan diri, perdamaian tercipta, dan tidak berpengaruh kepada ekonomi, terutama Indonesia. Kalau berpengaruh, kan kalian juga susah,” ujarnya.
Ia menambahkan undangan untuk menghadiri buka puasa bersama di Istana Kepresidenan tersebut diterimanya sehari sebelum acara berlangsung.
“Kemarin kayaknya ya, kemarin,” pungkasnya.









