5 Fakta Rencana Impor 105 Ribu Mobil Pick-Up dari India Jadi Sorotan

5 Fakta Rencana Impor 105 Ribu Mobil Pick-Up dari India Jadi Sorotan

Ekonomi | okezone | Senin, 23 Februari 2026 - 09:03
share

JAKARTA – PT Agrinas Pangan Nusantara berencana mengimpor 105 ribu unit mobil pick-up dari India untuk operasional Koperasi Desa dan Kelurahan Merah Putih (KDKMP). Rencana impor ini mendapat sorotan dari DPR, pelaku industri, dan buruh, karena industri otomotif nasional sebenarnya mampu memproduksi kendaraan pick-up hingga sekitar 1 juta unit per tahun.

Berikut fakta-fakta menarik seputar rencana impor 105 ribu unit mobil pick-up, Senin (23/2/2026):

1. Respons DPR

Wakil Ketua Komisi VII DPR RI Evita Nursanty mewanti-wanti kontrak pengadaan kendaraan niaga senilai Rp24,66 triliun yang digarap PT Agrinas Pangan Nusantara. Menurutnya, perlu dicermati efisiensi anggaran dan penggunaan produk dalam negeri.

Evita menilai, dengan nilai proyek sebesar Rp24,66 triliun, kebijakan ini memiliki dampak strategis, tidak hanya terhadap distribusi pangan desa, tetapi juga terhadap arah kebijakan industri nasional.

“Ini pengadaan dalam skala sangat besar. Dampaknya bukan hanya pada logistik desa, tetapi juga terhadap struktur industri otomotif nasional,” ujar Evita.

2. Detail Mobil Pick-Up Impor

Detailnya, ada 35.000 unit Scorpio Pick-Up dipasok oleh Mahindra & Mahindra, dan 70.000 unit lainnya berasal dari Tata Motors, terdiri atas 35.000 unit Yodha Pick-Up dan 35.000 unit Ultra T.7 Light Truck.

Evita menyoroti transparansi dan rasionalisasi spesifikasi teknis, terutama apabila pengadaan diarahkan pada tipe penggerak empat roda (4x4). Menurutnya, tidak semua jalan desa di Indonesia membutuhkan fungsi 4x4. Mayoritas distribusi logistik desa masih dapat dilayani kendaraan 4x2 produksi dalam negeri.

Atas dasar itu, penggunaan anggaran untuk pengadaan ini patut ditinjau lebih lanjut. Sebab, kendaraan 4x4 memiliki harga pembelian dan biaya operasional yang lebih tinggi dibanding 4x2, sehingga keputusan spesifikasi harus mempertimbangkan efisiensi anggaran dan keberlanjutan operasional koperasi.

3. Gerus PDB hingga Rp39 Triliun

Ekonom Center of Economic and Law Studies (Celios), Nailul Huda, menekankan bahwa importasi kendaraan dari India berpotensi besar mengurangi mata pencaharian pekerja pabrik otomotif.

Tak hanya itu, pelaku usaha seperti pemilik bengkel dan penyedia suku cadang juga terdampak. Bahkan pengusaha besar yang memiliki pabrik berskala nasional bakal terguncang kestabilan keuangannya.

"Tidak ada aktivitas ekonomi yang diciptakan dari importasi ini. Bahkan bisa menggerus pangsa pasar produk pick-up yang sudah diproduksi atau dirakit dalam negeri. Ekonomi kita bisa menyusut karena impor ini akan mengurangi PDB," kata Huda.

Dari kajian Celios, PDB bisa tergerus hingga Rp39,29 triliun, kehilangan pendapatan masyarakat mencapai Rp39,05 triliun, dan 330 ribu orang berpotensi kehilangan pekerjaan.

 

4. Siap Dipenuhi Industri Dalam Negeri

Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (GAIKINDO) menegaskan pabrikan otomotif dalam negeri mampu memproduksi kendaraan pick-up ratusan ribu unit per tahun. Penekanan ini muncul menyusul rencana impor 105.000 unit pikap dan truk yang dilakukan BUMN Agrinas Pangan Nusantara untuk operasional logistik Koperasi Merah Putih.

Ketua Umum GAIKINDO, Putu Juli Ardika, menekankan bahwa saat ini ada 61 anggota organisasi dengan total kapasitas produksi 2,5 juta unit kendaraan bermotor roda empat atau lebih. Produksi kendaraan komersial kelas menengah ke bawah atau pick-up pun selama ini telah dilakukan oleh sejumlah perusahaan anggota, antara lain:

PT Suzuki Indomobil Motor

PT Isuzu Astra Motor Indonesia

PT Krama Yudha Tiga Berlian Motor

PT SGMW Motor Indonesia (Wuling Motors)

PT Sokonindo Automobile (DFSK)

PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN)

PT Astra Daihatsu Motor

"Secara keseluruhan, anggota GAIKINDO memiliki kapasitas produksi pick-up lebih dari 400.000 unit per tahun yang hingga kini belum dapat dipergunakan secara optimal," kata Putu.

5. Kata Menperin

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menjelaskan bahwa industri otomotif nasional telah memiliki kemampuan produksi kendaraan pick-up dengan kapasitas signifikan sekitar 1 juta unit per tahun. Produsen kendaraan pick-up antara lain:

PT Astra Daihatsu Motor

PT Isuzu Astra Motor Indonesia

PT Mitsubishi Motor Krama Yudha Indonesia

PT Suzuki Indomobil Motor

PT SGMW Motor Indonesia

PT Sokonindo Automobile

“Dengan kapasitas tersebut, industri kendaraan pick-up nasional dinilai mampu memenuhi kebutuhan pasar domestik sekaligus memperkuat daya saing industri otomotif Indonesia di tingkat global,” tegas Menperin.

Lebih lanjut, Agus menyampaikan bahwa standar dan kualitas kendaraan pick-up (4x2) produksi dalam negeri sangat kompetitif dibanding produk impor. Selain itu, produk lokal mampu memenuhi kebutuhan operasional di berbagai wilayah Indonesia dengan kondisi infrastruktur jalan yang beragam. Kendaraan niaga produksi dalam negeri juga diterima baik oleh masyarakat dan pelaku usaha karena performanya andal dan mampu melayani distribusi serta mobilitas barang.

Namun, Menperin mengakui bahwa Indonesia belum memproduksi tipe kendaraan pick-up penggerak empat roda (4x4) khusus untuk medan sangat berat, seperti di daerah tambang dan perkebunan. Ia menegaskan bahwa dari sisi efisiensi ekonomi, biaya perawatan kendaraan 4x4 relatif lebih mahal, ketersediaan suku cadang dan layanan purna jual terbatas, serta harga jual kembali rendah dibanding kendaraan pick-up 4x2 produksi lokal

Topik Menarik