MUI: Perbedaan Awal Ramadhan Wajar, yang Penting Tetap Bersatu

MUI: Perbedaan Awal Ramadhan Wajar, yang Penting Tetap Bersatu

Nasional | okezone | Rabu, 18 Februari 2026 - 07:15
share

JAKARTA – Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH. Anwar Iskandar, menegaskan bahwa perbedaan dalam penentuan awal dan akhir Ramadhan merupakan hal yang wajar dalam khazanah keilmuan Islam. Perbedaan tersebut berada pada ranah ijtihad yang bersifat teknis, bukan menyangkut prinsip akidah.

"Perbedaan itu adalah keniscayaan karena sifatnya ijtihadi dan teknis. Karena itu, kemungkinan memulai atau mengakhiri puasa berbeda bisa saja terjadi. Namun yang paling penting adalah menjaga keutuhan sebagai umat Islam dengan saling memahami dan saling menghormati," ujarnya di Jakarta, Selasa, 17 Februari 2026.

Ia menambahkan, dalam kehidupan berbangsa yang demokratis, masyarakat perlu membiasakan diri menyikapi perbedaan secara dewasa. Selama tidak menyentuh prinsip dasar keimanan, perbedaan justru menjadi bagian dari kekayaan ilmu pengetahuan dan tradisi intelektual Islam.

Menurutnya, perbedaan yang dikelola dengan baik dapat menjadi harmoni bagi persatuan Indonesia dan berkontribusi pada stabilitas nasional. Kondisi tersebut diharapkan memperkuat sinergi antara pemerintah dan masyarakat dalam membangun masa depan bangsa yang lebih baik.

 

Ia juga mengajak umat Islam menjadikan Ramadhan sebagai momentum peningkatan kualitas ibadah dan ketakwaan.

"Mari kita berusaha sekuat tenaga menyempurnakan ibadah selama bulan Ramadhan ini agar kualitas iman dan takwa kita semakin meningkat,” katanya.

Kepada masyarakat nonmuslim, ia turut mengimbau untuk bersama-sama menjaga suasana saling menghormati, khususnya terhadap umat Islam yang sedang menjalankan ibadah puasa, agar Ramadhan berlangsung khusyuk dan penuh kedamaian.

KH. Anwar Iskandar juga mengingatkan umat agar menjaga perilaku selama berpuasa dan tidak melakukan tindakan yang dapat menyakiti orang lain, menyebarkan fitnah, atau membuat kegaduhan, termasuk melalui media sosial.

“Secara syariat, puasa bukan hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menahan diri dari perbuatan yang tidak dibenarkan agama. Jangan sampai secara lahir berpuasa, tetapi secara hakikat ternodai oleh sikap yang merusak persaudaraan,” pesannya.

Ia berharap Ramadhan melahirkan pribadi-pribadi yang penuh kasih sayang (rahmah), sehingga semangat saling menghormati dan menyayangi terus terjaga dalam kehidupan bermasyarakat.

Topik Menarik