Berapa Rata-Rata IQ Orang Korea Selatan yang Viral Tak Bisa Bahasa Inggris?

Berapa Rata-Rata IQ Orang Korea Selatan yang Viral Tak Bisa Bahasa Inggris?

Gaya Hidup | okezone | Selasa, 17 Februari 2026 - 16:50
share

JAKARTA - Berapa rata-rata IQ Orang Korea Selatan yang viral tak bisa Bahasa Inggris? Netizen Korsel kerap menjadi bahan bullyan di media sosial dan dianggap tak bisa Bahasa Inggris. Teranyar adalah debat antara netizen Korea alias K-Netz dengan warganet Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Perseteruan ini terjadi usai netizen Korea disebut melakukan rasisme pada warganet Malaysia dan negara Asia Tenggara lainnya.

Momen perseteruan itu terlihat di media sosial X, di mana banyak K-Netz dan SEAblings, sebutan netizen Asia Tenggara saling melayangkan hujatan. Bahkan, sejumlah artis Korea hingga Indonesia juga ikut terseret dan menjadi korban rasisme yang tengah ramai di media sosial.

Dalam beberapa tahun terakhir, ketegangan antara Knetz dan netizen Indonesia beberapa kali mencuat dan menjadi perbincangan luas. Perseteruan ini umumnya bermula dari komentar di forum komunitas Korea yang kemudian diterjemahkan dan viral di Indonesia. 

Lalu sebenarnya berapa rata-rata IQ orang Korea Selatan?

Melansir dari laman International IQ Test, rata-rata IQ Korea Selatan adalah 106,97 dan menempati peringkat pertama dari 137 daftar negara. 

Adapun perbedaan rata-rata IQ antarnegara dapat mencerminkan banyak faktor. Para peneliti sering membahas pengaruh seperti:

- Beban kesehatan (termasuk paparan penyakit infeksi): Sebuah studi tahun 2010 menemukan bahwa negara dengan beban penyakit infeksi yang lebih tinggi cenderung memperoleh skor lebih rendah pada tes kognitif, kemungkinan melalui dampaknya terhadap perkembangan dan pendidikan. Afrika termasuk kawasan yang paling terdampak oleh penyakit infeksi.

- Gizi dan ketahanan pangan: Sebuah studi tahun 2024 menunjukkan bahwa anak-anak dengan pola makan yang lebih sehat cenderung memperoleh skor lebih tinggi pada ukuran IQ. Karena itu, negara dengan pola makan yang lebih sehat (dan ketidakamanan pangan yang lebih rendah) dapat menunjukkan skor rata-rata yang lebih tinggi.

- Kesempatan belajar dan stimulasi kognitif: Sebuah studi tahun 2022 melaporkan bahwa bermain catur secara rutin dapat meningkatkan kinerja anak pada ukuran yang berkaitan dengan IQ. Sebuah studi klasik tahun 1962 menemukan bahwa anak dwibahasa berkinerja lebih baik pada beberapa tes inteligensi dibandingkan anak yang hanya menguasai satu bahasa. Secara lebih luas, aktivitas yang menstimulasi kognisi dan dipraktikkan secara rutin dalam suatu budaya dapat berkaitan dengan kemampuan penalaran yang lebih kuat.

- Genetika (pengaruh dalam-populasi): Sebuah studi kembar tahun 2013 melaporkan bahwa estimasi heritabilitas IQ sering berada pada kisaran 50–80, bergantung pada usia dan populasi. (Penting: heritabilitas menggambarkan variasi di dalam suatu populasi pada kondisi tertentu—dan tidak, dengan sendirinya, menjelaskan perbedaan antarnegera.)

Secara umum, negara dengan sistem kesehatan yang lebih kuat, gizi yang lebih baik, serta akses yang lebih luas ke pendidikan bermutu tinggi dan lingkungan yang memperkaya kemampuan kognitif cenderung meraih skor lebih tinggi pada tes berbasis penalaran.

Topik Menarik