3 Duet Baru di Ganda Campuran Pelatnas PBSI, Nomor 1 Peraih Medali Emas Olimpiade!
TIGA ganda campuran baru Indonesia racikan PBSI menarik diulas. Salah satunya ada peraih medali emas Olimpiade yang bakal mendapat tandem baru.
Ya, PBSI mengumumkan racikan baru untuk sektor ganda campuran. Hal ini dilakukan karena berbagai alasan, salah satunya lantaran ada pemain yang sedang dalam kondisi tak fit hingga harus menduetkan pasangannya dengan pemain lain.
Hadirnya duet-duet baru ini bukan cuma jadi penyegaran, tetapi juga diharapkan dapat membuat ganda campuran Indonesia lebih tangguh di turnamen-turnamen berikutnya. Lantas, siapa saja mereka?
Berikut 3 Ganda Campuran Baru Indonesia Racikan PBSI:
1. Taufik Aderya/Apriyani Rahayu
Salah satu ganda campuran baru Indonesia racikan PBSI adalah Taufik Aderya/Apriyani Rahayu. Duet ini ramai disorot karena Apriyani diketahui merupakan peraih medali emas Olimpiade Tokyo 2020 di sektor ganda putri.
Apriyani lebih diandalkan di sektor ganda putri sebelumnya. Duetnya dengan Greysia Polii bahkan bisa membuahkan medali emas Olimpiade pertama di sektor ganda putri Indonesia.
Usai Greysia pensiun, Apriyani memang kerap berganti pasangan di ganda putri. Dia pernah berduet dengan Siti Fadia Silva Ramadhanti, Febi Setianingrum, hingga teranyar adalah Lanny Tria Mayasari. Namun, duetnya masih gagal jaga performa apik secara konsisten untuk berbicara banyak di setiap ajang.
Kini, Apriyani akan menjajal duet baru di sektor ganda campuran bersama Taufik Aderya. Diketahui, Taufik adalah pemain muda di pelatnas PBSI. Lahir di Sungguminasa, 22 Januari 2006, Taufik baru berusia 20 tahun.
Taufik pun lolos ke pelatnas PBSI lewat jalur Seleksi Nasional pada Februari 2025. Dia belum bisa langsung bergabung di pelatnas PBSI karena dari hasil pemeriksaan kesehatan ada kendala cedera di bagian lutut. Dia baru resmi gabung pada September 2025.
Awalnya, Taufik diplot untuk bermain di sektor ganda putra. Tetapi kini, dirinya juga siap berjuang di ganda campuran bersama Apriyani. Duet ini akan mentas juga di Ruichang China Masters Super 100 pada 10-15 Maret 2026.
2. Daniel Edgar Marvino/Lanny Tria Mayasari
Kemudian, ada duet Daniel Edgar Marvino/Lanny Tria Mayasari. Ya, bukan hanya Apriyani yang akan jajal sektor baru, tetapi juga Lanny.
Lanny juga sebelumnya diandalkan di sektor ganda putri dengan pernah berduet bersama sejumlah pemain. Lanny pernah bermain bersama Siti Fadia, Amallia Cahaya Pratiwi, Ribka Sugiarto, hingga Jesita Putri Miantoro yang kini sudah pensiun.
Meski kerap berganti pasangan, penampilan Lanny kerap gacor. Dia berhasil juara Indonesia International II 2022 dan Bahrain International 2022 bersama Ribka, lalu kampiun di Indonesia International II 2024 bersama Fadia, dan teranyar jadi runner-up Astana International 2025 bersama Amallia.
Menarik kini, menantikan penampialnnya di ganda campuran bersama Daniel Edgar. Daniel sendiri bukan pendatang baru di pelatnas PBSI. Dia sudah masuk pelatnas sejak 2022. Namun, Daniel Edgar biasanya diandalkan di sektor ganda putra.
Duet ini akan mentas di Ruichang China Masters Super 100. Nantinya, Lanny akan bermain rangkap di sektor ganda putri juga bersama Apriyani.
3. Verrell Yustin Mulia/aAisyah S Putri Pranata
Daftar Harga Tiket Piala Asia Futsal 2026, Ayo Dukung Langsung Perjuangan Timnas Futsal Indonesia!
Terakhir, ada duet Verrell Yustin Mulia/Aisyah S Putri Pranata. Sebelumnya, Aisyah berduet dengan Marwan Faza. Namun, Marwan harus menepi untuk fokus pada pemulihan kondisi kesehatannya karena didiagnosis terindikasi gejala glaucoma.
Nantinya, pasangan ini akan mentas di Sri Lanka International Series 2026 digelar di Dadella International Stadium, Galle, pada 9–15 Maret. Sementara Sri Lanka International Challenge 2026 berlangsung pada 16–22 Maret di arena pertandingan yang sama.
Sebelum duet dengan Aisyah, Verrell belum memiliki pasangan di sektor ganda putra. Menarik nantikan duet ini.
“Untuk Aisyah Salsabila Putri Pranata sementara akan kami pasangkan dengan Verrell Yustin Mulia sambil menunggu Marwan Faza kembali pulih,” ujar Kabid Binpres PBSI, Eng Hian, dalam keterangannya.









