Purbaya soal Asumsi Makro: Ekonomi 2025 Tumbuh 5,2 Persen di Tengah Dinamika Harga Minyak hingga Kurs
JAKARTA - Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan laporan komprehensif terkait capaian asumsi makro dan realisasi sementara APBN Tahun Anggaran 2025. Dalam pemaparannya, Menkeu menegaskan bahwa pertumbuhan ekonomi nasional tetap tangguh dan berhasil mencapai target yang telah ditetapkan.
Purbaya memproyeksikan ekonomi sepanjang tahun 2025 akan menutup di angka 5,2 persen. Optimisme ini didorong oleh performa kuat pada penghujung tahun.
"Pertumbuhan ekonomi 5,2 persen sepanjang 2025 dengan asumsi kuartal IV-2025 tumbuh 5,45 persen," kata Purbaya dalam konferensi pers APBN KiTa di Jakarta, Kamis (8/1/2026).
Meski pertumbuhan ekonomi terjaga, beberapa indikator makro lainnya menunjukkan dinamika yang beragam akibat tekanan global. Inflasi tercatat sebesar 2,92 persen pada Desember 2025, sedikit melampaui target awal sebesar 2,5 persen.
GMF AeroAsia (GMFI) Mulai Bangun Kertajati Aerospace Park, Ditargetkan Beroperasi Kuartal III-2026
Untuk Nilai Tukar Rupiah berada di level Rp 16.475 per dolar AS, meleset dari proyeksi awal di angka Rp 16.000 per dolar AS. Yield SBN 10 Tahun menunjukkan performa positif di angka 6,71 persen, lebih rendah (lebih baik) dari target 7 persen.
Realisasi Harga Minyak Mentah (ICP) sebesar 67,95 dolar AS per barel, jauh di bawah perkiraan semula sebesar 82 dolar AS per barel.
Sementara itu, Lifting Migas masih berada di bawah target, dengan lifting minyak mencapai 577,6 ribu barel per hari (target 605 ribu) dan lifting gas sebesar 965,5 ribu barel setara minyak per hari (target 1.005 ribu).
Sejalan dengan kondisi makro tersebut, realisasi sementara APBN 2025 mencerminkan peran pemerintah sebagai instrumen pelindung ekonomi. Pendapatan negara tercatat mencapai Rp2.756,3 triliun (91,7 persen dari target), sementara belanja negara lebih ekspansif mencapai Rp3.451,4 triliun (95,3 persen dari target).
Ketimpangan antara pendapatan dan belanja ini membuat defisit anggaran melebar menjadi 2,92 persen terhadap PDB, atau secara nominal sebesar Rp695,1 triliun.
Purbaya menjelaskan bahwa pelebaran defisit dari rencana awal 2,53 persen ini adalah kebijakan sadar untuk menjaga momentum pertumbuhan.
"Defisitnya memang naik ke 2,92 persen dari rencana awal 2,53 persen. Ini tadi dengan misi untuk menjaga ekonomi tetap bisa berekspansi di tengah tekanan global yang tinggi," jelas Purbaya.
Ia menegaskan bahwa meskipun defisit meningkat, pemerintah tetap disiplin menjaga batas aman di bawah 3 persen guna memastikan kesehatan fiskal jangka panjang.









