Rotasi Bumi Berubah Jadi 25 Jam Sehari? Ini Fakta Ilmiahnya
JAKARTA – Gagasan bahwa satu hari di Bumi bisa berlangsung lebih dari 24 jam kerap terdengar seperti fiksi ilmiah. Namun, para ilmuwan menegaskan bahwa perubahan ini memang sedang terjadi, meski berlangsung sangat lambat dan tidak akan dirasakan manusia dalam waktu dekat. Rotasi Bumi secara bertahap melambat, sehingga panjang hari perlahan bertambah.
Belakangan, topik ini kembali ramai diperbincangkan di internet. Sejumlah unggahan viral seolah menggambarkan bahwa hari 25 jam akan segera terjadi, padahal kenyataannya perubahan tersebut membutuhkan waktu ratusan juta tahun. Artinya, tidak ada dampak langsung terhadap jam, kalender, maupun kehidupan sehari-hari manusia saat ini.
Kapan Hari di Bumi Menjadi 25 Jam?
Melansir NDTV, secara ilmiah hari di Bumi memang akan semakin panjang. Para peneliti memperkirakan, satu hari berdurasi 25 jam baru akan terjadi sekitar 200 juta tahun mendatang. Perlambatan ini dipicu oleh berbagai faktor alam, dengan laju sekitar 1,7 milidetik per abad.
Meski secara umum rotasi Bumi melambat, terdapat fluktuasi jangka pendek yang dipengaruhi kondisi atmosfer, pencairan es, hingga dinamika di dalam planet itu sendiri. Perubahan-perubahan kecil ini dapat mempercepat atau memperlambat putaran Bumi dalam skala waktu tertentu, tetapi tidak mengubah tren jangka panjangnya.
Penyebab Rotasi Bumi Melambat
Ada beberapa faktor utama yang berkontribusi terhadap melambatnya rotasi Bumi, antara lain:
- Gaya pasang surut Bulan
Tarikan gravitasi Bulan terhadap lautan Bumi menimbulkan gesekan yang memperlambat rotasi planet. Dalam proses ini, Bulan juga secara perlahan menjauh dari Bumi.
- Pergerakan inti dan mantel Bumi
Aliran besi cair di inti luar serta dinamika mantel menyebabkan redistribusi massa Bumi, yang berdampak pada kecepatan rotasinya.
- Perubahan gletser dan permukaan laut
Mencair atau menumpuknya es mengubah distribusi berat antara daratan dan lautan, sehingga memengaruhi putaran Bumi.
- Atmosfer dan pola angin
Sistem angin skala besar dan dinamika atmosfer mentransfer momentum sudut antara udara dan permukaan Bumi, yang turut memengaruhi rotasi.
Proses-proses ini telah berlangsung selama miliaran tahun. Bahkan, di masa lampau, panjang hari di Bumi jauh lebih singkat. Pada era dinosaurus, satu hari diperkirakan hanya berlangsung sekitar 23 jam.
Dampak Jika Hari Menjadi 25 Jam
Jika suatu saat satu hari di Bumi benar-benar menjadi 25 jam, sistem penanggalan dan pengukuran waktu harus disesuaikan. Tak hanya itu, perubahan tersebut juga akan memengaruhi ritme biologis makhluk hidup.
Manusia dan sebagian besar organisme hidup memiliki ritme sirkadian 24 jam yang mengatur siklus tidur, produksi hormon, hingga fungsi metabolisme. Ritme ini berevolusi mengikuti panjang hari di Bumi. Perubahan durasi hari berpotensi mengganggu keseimbangan biologis, seperti yang terjadi pada pekerja shift malam atau orang yang mengalami jet lag.
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa gangguan ritme sirkadian dapat meningkatkan risiko masalah metabolisme, gangguan suasana hati, hingga penyakit jantung. Meski demikian, jika perubahan panjang hari terjadi secara bertahap dalam skala jutaan tahun, organisme hidup diperkirakan akan beradaptasi melalui proses evolusi, meski tidak tanpa tantangan.
Dengan demikian, meski hari 25 jam secara ilmiah mungkin terjadi, hal itu bukan sesuatu yang perlu dikhawatirkan saat ini. Perubahannya terlalu lambat untuk memengaruhi kehidupan manusia modern.










