20.334 Titik Panas Terdeteksi dalam 24 Jam, DPR Desak Pemerintah Bergerak Cepat Tangani Karhutla

20.334 Titik Panas Terdeteksi dalam 24 Jam, DPR Desak Pemerintah Bergerak Cepat Tangani Karhutla

Nasional | sindonews | Jum'at, 16 Oktober 2026 - 15:33
share

Wakil Ketua Komisi IV DPR Alex Indra Lukman menyoroti lonjakan titik panas (hotspot) kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia yang mencapai 20.334 titik dalam 24 jam. Ia meminta pemerintah mempercepat penanganan untuk mencegah kebakaran meluas.

Berdasarkan pemantauan Sistem Informasi Deteksi Dini Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (SiPongi) Kementerian Kehutanan per 14 Oktober 2026, sebanyak 20.334 titik panas terdeteksi di Indonesia dalam periode 24 jam.

"Angka tersebut harus menjadi perhatian serius. Konsentrasi titik panas dalam jumlah besar dapat menjadi sinyal awal yang membutuhkan pemeriksaan dan respons cepat di lapangan," kata Alex di Jakarta, Kamis (15/10/2026).

Baca juga: DPR Dorong Pemerintah Kaji Status KLB Nasional Usai Kasus ISPA Akibat Karhulta Melonjak Tinggi

Dari total titik panas tersebut, sebanyak 1.784 titik memiliki tingkat kepercayaan tinggi (high confidence), 17.916 titik tingkat sedang, dan 634 titik tingkat rendah. Kalimantan Tengah menjadi provinsi dengan jumlah hotspot terbanyak, yakni 11.166 titik, disusul Sumatera Selatan sebanyak 2.404 titik dan Kalimantan Selatan sebanyak 1.156 titik.

Sementara itu, laporan pada Senin (12/10) pukul 21.00 WIB mencatat 1.085 hotspot nasional dengan tingkat kepercayaan tinggi. Di enam provinsi prioritas, jumlah titik panas juga meningkat menjadi 542 titik dari sebelumnya 238 titik.

Alex menilai pemerintah tidak boleh menunggu hingga kebakaran meluas untuk meningkatkan penanganan karhutla. Menurutnya, setiap indikasi kebakaran harus segera ditindaklanjuti sebelum menimbulkan dampak yang lebih besar.

"Pemerintah tidak boleh menunggu sampai api membesar, asap meluas, atau masyarakat mulai mengalami gangguan kesehatan untuk meningkatkan penanganan," tuturnya.

Ia mengatakan, teknologi satelit telah membantu pemerintah memantau wilayah yang luas dan mengidentifikasi indikasi kebakaran. Namun, efektivitas pemantauan tersebut bergantung pada kecepatan petugas dalam menindaklanjuti temuan di lapangan."Teknologi satelit telah membantu Pemerintah memantau wilayah yang luas dan mengidentifikasi indikasi kebakaran.Namun, manfaatnya sangat bergantung pada kemampuan petugas menindaklanjuti informasi tersebut," ungkap Alex.

Karena itu, Alex meminta setiap titik panas berisiko tinggi segera diverifikasi melalui pengecekan lapangan, patroli, serta koordinasi dengan pemerintah daerah dan masyarakat setempat.

"Wilayah dengan konsentrasi hotspot tinggi harus menjadi prioritas, terutama jika berdekatan dengan permukiman, kawasan gambut, lahan pertanian, atau area yang sulit dijangkau," jelasnya.

Alex menambahkan, lonjakan titik panas tersebut menjadi sinyal bahwa upaya pencegahan karhutla perlu dilakukan lebih cepat dan terarah agar kebakaran dapat diantisipasi sejak dini.

Topik Menarik