Usung Gagasan HMI Resilience, Nur Latuconsina Siap Bertarung di Kongres HMI XXXIII
M Nur Latuconsina menyatakan diri maju sebagai bakal calon Ketua Umum Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI) periode 2026-2028. Kader HMI Cabang Ambon itu membawa gagasan “HMI Resilience” sebagai tawaran pembaruan organisasi menuju Kongres HMI XXXIII di Bandar Lampung.
Pernyataan tersebut disampaikan Nur Latuconsina dalam Silaturahmi dan Deklarasi Bakal Calon Ketua Umum PB HMI yang berlangsung di Baileo Cafe, Ambon, Selasa (15/9/2026).
Baca juga: Hari ke-9 Pencarian 5 Jurnalis Hilang di Perairan Gunung Anak Krakatau Masih Nihil
Pria yang kerap disapa Reno ini menjabat Ketua Bidang Ketenagakerjaan PB HMI periode 2024-2026. Dalam sambutannya, Reno menyebut HMI Resilience bukan sekadar jargon politik elektoral internal. Ia menempatkannya sebagai cetak biru pembaruan organisasi yang bertumpu pada tiga pilar, yakni intelektual, perjuangan, dan integritas.
“HMI Resilience bukan sekadar jargon retorika politik elektoral internal, melainkan cetak biru strategis pembaruan organisasi,” demikian salah satu poin deklarasi Reno.Tiga Pilar HMI Resilience
Pilar pertama adalah intelektual. Reno menawarkan reformasi kurikulum perkaderan formal agar HMI mampu mempertemukan khazanah pemikiran Islam klasik dengan ilmu pengetahuan modern.Baca juga: Nusron Wahid Absen Rapat Bareng Komisi II DPR usai Anak Buahnya Kena OTT KPK, Ada Apa?
Ia juga mendorong HMI kembali menjadi pusat keunggulan intelektual yang aktif memproduksi dan mempublikasikan gagasan strategis di ruang publik akademik.
Pilar kedua adalah perjuangan. Orientasi HMI, menurut gagasan yang dibawa Reno, harus kembali diarahkan pada persoalan konkret masyarakat.
Bentuknya antara lain advokasi kebijakan berbasis bukti, pemberdayaan ekonomi kerakyatan, pendidikan masyarakat marjinal, mitigasi krisis iklim, dan penguatan jaringan solidaritas dengan masyarakat sipil.Pilar ketiga adalah integritas kelembagaan. Fokus ini diarahkan pada pembenahan tata kelola organisasi yang bersih, akuntabel, dan transparan di seluruh tingkatan struktur HMI. Langkah praktisnya meliputi penerapan standar meritokrasi yang objektif dalam penjenjangan kepemimpinan, transparansi pengelolaan administrasi serta keuangan organisasi, dan penegakan disiplin aturan secara tegas untuk menjaga kredibilitas kelembagaan.
Tiga agenda tersebut memperlihatkan bahwa pencalonan Latuconsina tidak hanya dibangun dengan narasi pergantian kepemimpinan. Ia mencoba memasukkan isu kapasitas intelektual, relevansi perjuangan, dan tata kelola organisasi sebagai bagian dari agenda kongres.
Ia juga mengatakan deklarasi di Ambon merupakan pernyataan sikap terbuka kepada publik internal HMI, senior, alumni, kader, dan cabang-cabang HMI.
“Momentum hari ini, deklarasi ini sebagai bentuk daripada pernyataan sikap saya kepada publik, para senior dan adik-adik maupun cabang-cabang di bawah bahwa saya siap bertarung untuk menjadi Ketua Umum PB HMI,” kata Reno.
Namun, ia menyadari statusnya saat ini masih sebagai bakal calon. Proses pencalonan masih menunggu tahapan organisasi, termasuk pembentukan Steering Committee Kongres dan mekanisme administrasi serta rekomendasi yang akan menjadi persyaratan pencalonan.
“Ketika administrasi sudah keluar, baik berapa rekomendasinya akan dipenuhi. Ketika saya terpenuhi dengan rekomendasi, apa administrasi itu, maka penetapan saya sebagai calon ketua umum,” ujarnya.
Ia mengatakan tahapan berikutnya akan dijalankan melalui konsolidasi bersama tim yang sedang dibentuk.









