Kebijakan Kita Goes to Campus di UGM, Mahasiswa Diajak Hidupkan Kembali Dialog Kritis
YOGYAKARTA, iNews.id – Ruang demokrasi dan akses pendidikan dinilai menghadapi tantangan di tengah kuatnya pengaruh kepentingan politik dan ekonomi dalam kebijakan publik. Situasi tersebut dinilai menuntut keterlibatan generasi muda, khususnya mahasiswa, untuk tetap aktif menjaga ruang kritik dan mengawal arah kebijakan negara.
Forum Kebijakan Kita Goes to Campus di Universitas Gadjah Mada (UGM), Selasa (19/5/2026), turut menyoroti kondisi tersebut melalui diskusi di Ruang Seminar Timur FISIPOL UGM. Kegiatan ini menghadirkan Founder Gunungkidul Menginspirasi Joko Susilo dan perwakilan Social Movement Institute Achmad Fauzan Mahdi.
Kegiatan itu juga menjadi bagian dari peluncuran Kebijakan Kita chapter Jogja yang difokuskan pada penguatan ruang dialog publik di lingkungan kampus.
“Kegiatan ini menjadi awal dari peresmian Kebijakan Kita chapter Jogja. Kolaborasi bersama kampus menjadi upaya kami untuk menghidupkan kembali ruang-ruang dialog kritis,” tutur Imam Gazi, Direktur Eksekutif Kebijakan Kita.
Dalam forum tersebut, Joko Susilo menilai dunia pendidikan saat ini tidak dapat dilepaskan dari dinamika kebijakan, kepentingan ekonomi dan arah pembangunan sosial.
“Dunia pendidikan hari ini bukan arena bebas nilai, di sini semua saling bertarung antara nilai moral, kapital dan kekuasaan,” ujar Joko.
Menurut dia, pendidikan seharusnya tetap menjadi barang publik yang dapat diakses seluruh masyarakat tanpa hambatan ekonomi. Karena itu, negara dinilai perlu hadir memastikan akses pendidikan berjalan lebih setara.
“Semua hal yang berhubungan dengan pendidikan idealnya menjadi barang publik, dan harus disubsidi oleh negara, agar segala bentuk produksi pendidikan harus bisa diakses oleh semua orang,” katanya.
Joko Susilo menilai perjuangan sosial dan kebijakan publik di Indonesia saat ini berlangsung melalui tiga jalur utama, yakni pertarungan wacana melalui ruang diskusi kritis, upaya judicial review di Mahkamah Konstitusi, serta demonstrasi di ruang publik yang dinilai semakin menghadapi berbagai tantangan.
Joko menambahkan perjuangan sosial saat ini berlangsung melalui pertarungan wacana, judicial review hingga demonstrasi. Karena itu, dia mendorong penguatan ruang dialog lintas kelompok dan generasi untuk memperkuat partisipasi publik.
“Perbanyak ruang tengah untuk menemukan semua entitas dari segala entitas dan generasi, dan perbanyak dialog, dan dengan mendobrak secara struktural,” katanya.
Melalui forum Kebijakan Kita Goes to Campus, penyelenggara berharap kampus tetap menjadi ruang diskusi kritis yang mampu memperkuat literasi kebijakan publik sekaligus mendorong keterlibatan generasi muda dalam menjaga demokrasi.









