Value-Driven University: Ikhtiar Universitas Darunnajah Menjawab Tantangan Link and Match
Wakil Rektor I Universitas Darunnajah Fajar Suryono, M.A
Perdebatan mengenai keselarasan antara lulusan perguruan tinggi dan kebutuhan dunia industri (link and match) kerap mengerucut pada satu tuntutan praktis: kampus harus mampu bertransformasi menjadi pemasok tenaga kerja siap pakai.
Menyikapi arus pragmatisme ini, Universitas Darunnajah (UDN) justru mengambil sikap yang teguh dengan memposisikan institusinya sebagai Value-Driven University (Universitas Berbasis Nilai). Kampus ini tidak sekadar membekali mahasiswanya untuk siap bersaing di bursa kerja, tetapi memikul tanggung jawab yang jauh lebih besar, yakni menyiapkan kader pemimpin masa depan yang mampu menebar maslahat seluas-luasnya di tengah masyarakat.
Penegasan identitas dan arah gerak universitas ini disampaikan secara gamblang dalam Pengarahan Mahasiswa Universitas Darunnajah untuk Persiapan Ujian Tengah Semester (UTS).
Fajar Suryono, M.A., selaku Wakil Rektor I, menjabarkan bahwa UDN berdiri di atas prinsip Value-Driven University yang secara fundamental berbeda dengan konsep pendidikan Market-Driven University.
Dalam tata kelola Value-Driven University, amanah diletakkan sebagai fondasi utama institusi, bukan semata-mata menjadikan profit sebagai tujuan utama seperti halnya entitas bisnis. Kampus juga membangun akuntabilitasnya langsung kepada Allah, bukan sekadar kepada investor.
Pendekatan ini dinilai krusial untuk memastikan keberlanjutan visi institusi dalam jangka panjang, menjaga stabilitas visi lintas generasi, dan mengamankan independensi akademik agar tidak rentan digoyahkan oleh tekanan maupun tren pasar sesaat.
Menanamkan Tiga DNA Lulusan Utama
Untuk melahirkan lulusan yang berdaya saing global namun tetap membumi pada nilai-nilai ajaran Islam, UDN secara serius menanamkan Sibghah atau identitas karakter pada mahasiswanya.Konsep Sibghah ini tidak hanya diartikan secara harfiah sebagai "celupan", tetapi dimaknai secara mendalam sebagai totalitas nilai yang terinternalisasi ke dalam diri mahasiswa.Proses internalisasi tersebut berfokus pada pembentukan tiga DNA Universitas Darunnajah.
Pertama, Tafaqquh Fiddin (Ulama yang Intelek), di mana lulusan dididik agar kelak mampu mengambil istinbat hukum Islam di tengah ragam persoalan umat modern.
Kedua, DNA Saudagar (Entrepreneur), yang bertujuan mencetak pribadi-pribadi kreatif yang pantang menyerah dan "punya 1000 cara" dalam menghadapi kebuntuan.
Ketiga, DNA Leader atau Mundzirul Qoum, yakni penekanan pada kaderisasi pemimpin.
Ketiga pilar DNA ini berakar kuat pada cita-cita dan wasiat pendiri Darunnajah, KH. Abdul Manaf Mukhayyar.
Beliau mewariskan visi pendidikan yang inklusif dengan menyatakan, "Jika saya jadi orang kaya maka saya akan membuka sekolah gratis untuk orang-orang fakir".Cita-cita kemanusiaan inilah yang menjadi ruh dari visi mencetak kader pemimpin umat.
Redefinisi Kurikulum dan Makna Belajar
Dalam mewujudkan tujuannya, Universitas Darunnajah melakukan redefinisi terhadap makna pembelajaran itu sendiri.Di kampus ini, kurikulum tidak direduksi sekadar menjadi deretan mata kuliah demi mengejar nilai sebagai syarat kelulusan mencapai strata tertentu.
Lebih holistik dari itu, kurikulum bagi UDN adalah apa yang dihasilkan dan didapatkan oleh mahasiswa sepanjang masa pendidikannya berupa pengetahuan, pengalaman, dan kesan.
Selaras dengan pandangan tersebut, makna belajar di UDN merupakan sebuah aktivitas yang dilatih dan dibiasakan secara terus-menerus untuk mengubah sikap serta jalan hidup seseorang.
Pihak universitas menyadari bahwa hasil dari proses pendidikan nilai ini tidak akan datang dan terlihat secara instan, melainkan akan terlihat perkembangannya perlahan-lahan selama masa pendidikannya.
Menjawab Kebutuhan Industri melalui Ekosistem Futuristik
Lantas, bagaimana UDN menjawab isu link and match dengan dunia usaha?Jawabannya terletak pada model ekosistem pendidikan mereka yang dirancang secara integratif, komprehensif, dan futuristik.
Sebagai ekosistem yang integratif, UDN menyatukan elemen pendidikan rumah, pendidikan sekolah, dan pendidikan lingkungan.Ketiga elemen ini diejawantahkan melalui asrama sebagai laboratorium karakter, kampus sebagai ruang akademik dan ta'dib, serta masjid sebagai episentrum spiritual, epistemik, dan etis.
Universitas berbasis Pesantren berperan sentral menyatukan tripusat pendidikan tersebut menjadi sebuah ekosistem yang utuh.
Pendidikan juga diberikan secara komprehensif menyentuh aspek jasmaniah, intelektual, dan pembentukan akhlak mulia.
Aspek fisik dibangun lewat olahraga dan organisasi; intelektual diasah melalui penelitian dan pembelajaran; sementara akhlak dijadikan etalase kehidupan Islami sehari-hari.
Di sinilah peran elemen futuristik untuk merespons dinamika industri.
Sistem pendidikan UDN didorong agar bersifat adaptif, tidak kaku atau statis, melainkan menyerupai organisme yang terus tumbuh menyesuaikan zaman.
Mahasiswa dicetak agar memiliki kompetensi yang relevan untuk menjawab tantangan zaman dan kebutuhan industri, tanpa harus mengorbankan nilai-nilai fundamental agama.UDN tidak mendidik mahasisanya hanya untuk memecahkan persoalan hari ini, melainkan secara visioner menyiapkan generasi yang siap memimpin di masa depan.
Peta Jalan Menuju Puncak Dunia
Guna merangkai seluruh gagasan tersebut ke dalam kerja institusional, Universitas Darunnajah telah menyusun roadmap atau peta jalan menuju level global.Berangkat dari fondasi Good University Governance pada 2022-2026, kampus ini menargetkan pencapaian sebagai Nationally Standard University pada periode 2027-2031.
Inovasi terus dipacu agar kampus menjadi Center of Excellence University di tahun 2032-2036, sebelum melebarkan sayap kolaborasi regional sebagai Pre World Class University di periode 2037-2041.
Puncak dari perjalanan panjang ini adalah mewujudkan World Class University pada rentang tahun 2042-2046.
Peta jalan ambisius tersebut ditopang oleh empat pilar pembangunan tradisi kampus: Visionary Leadership (meliputi keteladanan dan kebijakan strategis), interaksi sosial dan komunitas alumni, budaya akademik dan intelektual, serta lingkungan fisik dan simbolisme arsitektur.
Seluruh gagasan besar Universitas Darunnajah terangkum indah dalam prinsip "Al-Muhafazhatu 'alal qiyami wa at-taghyiiru ilal kamal"—senantiasa menjaga nilai-nilai luhur dan berani berubah menuju kesempurnaan.
Dengan fondasi ini, UDN membuktikan bahwa kesiapan menghadapi dunia industri dan pembentukan karakter pesantren bukanlah dua hal yang bertolak belakang, melainkan jalan terpadu untuk melahirkan lembaga yang senantiasa "Rooted in Tradition, Leading in Education".










