Ketika Karisma Pergi, Nilai Harus Tetap Hidup

Ketika Karisma Pergi, Nilai Harus Tetap Hidup

Nasional | sindonews | Jum'at, 6 Maret 2026 - 14:10
share

Muhammad Irfanudin Kurniawan, Dosen Universitas Darunnajah (UDN) Jakarta

Berita duka itu menyebar cepat. Seorang pemimpin yang selama hampir empat dekade menjadi poros telah berpulang. Di Iran, ribuan orang turun ke jalan, menangis, memukul dada. Di Lebanon, Irak, Yaman, para loyalis bertanya-tanya. Apa yang akan terjadi sekarang?

Wafatnya Ali Khamenei bukan sekadar pergantian pemimpin. Ia adalah akhir dari sebuah era. Tapi bagi kami yang sehari-hari bergelut dengan dunia pesantren, peristiwa ini mengingatkan pada pertanyaan yang sama. Pertanyaan yang selalu muncul setiap kali seorang kiai besar wafat. Akankah organisme ini terus bertahan? Apakah nilai-nilai yang dijaga selama puluhan tahun akan tetap hidup, atau ikut terkubur bersama jasadnya?

Pertanyaan ini tidak hanya relevan di Iran. Ia adalah pertanyaan universal bagi setiap organisme yang dibangun di atas karisma seorang pemimpin.

Tiga Pertanyaan yang Sama

Di Iran, pertanyaan itu berbunyi: apakah loyalitas diberikan kepada pribadi Khamenei, kepada prinsip wilayat al-faqih (kepemimpinan tertinggi para fukaha), atau kepada negara sebagai institusi? Selama puluhan tahun, ketiganya menyatu dalam satu figur. Kini, setelah figur itu tiada, ke mana loyalitas harus diarahkan?

Di pesantren, kita mengenal pertanyaan yang persis sama. Santri mencintai kiai mereka sebagai guru dan pembimbing ruhani, sebagai sumber berkah, sebagai panutan hidup. Tapi ketika kiai itu tiada, apakah cinta itu otomatis berpindah pada anaknya? Pada menantunya? Pada santri seniornya? Atau pada pesantren sebagai lembaga?

Pertanyaan kedua: bagaimana mentransfer otoritas karismatik ke dalam sistem institusional? Karisma tidak bisa diwariskan seperti harta. Ia tidak bisa dipindahkan melalui rapat atau surat keputusan. Lalu bagaimana sebuah sistem bisa tetap berjalan ketika sumber karismanya tiada?

Pertanyaan ketiga: apa yang membuat jaringan tetap utuh saat pusat simboliknya hilang? Hizbullah di Lebanon, faksi-faksi di Irak, Ansarullah di Yaman, semua ini adalah jaringan yang selama ini terhubung ke Teheran. Begitu pula jaringan alumni pesantren yang tersebar di seluruh Nusantara. Ketika pusatnya goyah, apakah jaringan akan tetap kokoh, atau mulai merenggang?

Gontor: Ketika Trimurti Pergi, Sistem Tetap Jalan

Pondok Modern Darussalam Gontor mungkin contoh paling sukses dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan ini. Ketika KH Imam Zarkasyi wafat pada 1985, para santri menangis. Tapi air mata itu tidak berlangsung lama. Sebab, Trimurti (KH Ahmad Sahal, KH Imam Zarkasyi, KH Zainuddin Fananie) telah memikirkan apa yang akan terjadi setelah mereka tiada jauh-jauh hari.

Keputusan paling radikal yang mereka ambil adalah mewakafkan pesantren milik mereka kepada umat Islam. Dengan demikian, tidak ada lagi kepemilikan pribadi atas Gontor. Badan Wakaf lah yang menjadi pemilik sah, dan Badan Wakaf pula yang akan memilih pengganti ketika seorang pimpinan wafat.

Falsafah yang mereka tanamkan sederhana namun dalam. Patah tumbuh, hilang berganti. Belum patah sudah tumbuh, belum hilang sudah berganti. Ini bukan slogan. Ini adalah mekanisme yang hidup. Gontor selalu memiliki tiga pimpinan secara bersamaan, sehingga ketika satu wafat, dua masih ada, dan yang baru segera dipilih untuk melengkapi.KH Hasan Abdullah Sahal mengisahkan bagaimana dirinya bersama KH Abdullah Syukri Zarkasyi digembleng KH Imam Zarkasyi selama delapan tahun sebelum wafat. Dalam suasana haru di pondok, beliau mengenang bahwa mereka tidak hanya diajari tentang manajemen pondok, tapi juga ditempa secara mental dan spiritual. KH Imam Zarkasyi memastikan bahwa nilai, bukan sekadar figur, yang akan diwariskan.

Proses kaderisasi panjang ini dilengkapi dengan dimensi spiritual yang tak terlihat. Warisan batin inilah yang kemudian menjadi energi bagi para penerus ketika mereka harus memimpin di masa sulit.

Ketika KH Syukri wafat pada 2020, Badan Wakaf bergerak cepat. Kurang dari 48 jam, dua pimpinan baru ditunjuk. Seperti yang dikatakan Sekretaris Badan Wakaf saat itu, pimpinan boleh tiada, boleh meninggal dunia, tapi pondok harus tetap hidup.

Apa yang dilakukan Gontor adalah menjawab pertanyaan pertama dengan tegas. Loyalitas diberikan pada nilai dan sistem, bukan pada pribadi. Loyalitas pada pribadi tetap ada, tapi ia adalah tambahan, bukan fondasi.

Darunnajah: Tiga Pendiri dan Tunas yang Terus Tumbuh

Pondok Pesantren Darunnajah lahir dari cita-cita tiga orang. KH Abdul Manaf Mukhayyar, Drs H Kamaruzzaman, dan Drs KH Mahrus Amin. Mereka adalah tiga serangkai yang saling melengkapi.

KH Abdul Manaf Mukhayyar adalah penggagas utama. Ulama Betawi kelahiran Palmerah, 29 Juni 1922 ini, sejak muda sudah bercita-cita mendirikan lembaga pendidikan Islam. Inspirasi itu ia dapatkan saat belajar di Jam'iyyat Khair, sekolah Islam modern pertama di Indonesia. Konon, saat masih menjadi murid di sana, ia pernah menulis sebait syair. Idza sirtu ghaniyyan daaftahu madrasatan majjanan lil fuqara'. Seandainya kelak menjadi orang kaya, saya akan membuka sekolah gratis untuk anak-anak yang tidak mampu.

Cita-cita itu ia wujudkan dengan perjuangan panjang. Pada 1942, ia mendirikan Madrasah Islamiyah di Palmerah. Setelah tanahnya digusur untuk proyek Asian Games 1962, ia mencari lahan baru di Ulujami. Saat membeli tanah itu, ia bahkan merelakan cincin kawin istrinya, Hj Tsurayya, untuk dijual sebagai tambahan biaya. Saya ingat sekali, cincin berliannya saya ambil, saya minta dengan ikhlas. Diserahkan, saya jual, saya beli itu tanah, begitu penuturannya.

KH Mahrus Amin datang kemudian. Alumni KMI Gontor angkatan 1961 ini mulai menetap di Jakarta pada 2 Februari 1961. Ia dipercaya mengelola pendidikan. Istrinya, Hj Suniyati, adalah putri KH Abdul Manaf. Pertemuan Gontor dan Darunnajah terjadi dalam dirinya.

Drs H Kamaruzzaman melengkapi dengan pengalaman birokrasi dan militernya. Ketiganya bersepakat mendirikan Yayasan Kesejahteraan Masyarakat Islam pada 1960. Mereka bergerak bersama. Ada yang mengurus tanah, ada yang mengelola pendidikan, ada yang mengurusi perizinan dan jaringan.

Pada 1 April 1974, Pondok Pesantren Darunnajah resmi beroperasi di Ulujami. Santri pertamanya hanya tiga orang. Tiga orang yang menjadi awal dari ribuan tunas yang akan lahir kemudian. KH Mahrus Amin sering mengajarkan falsafah pohon pisang di hadapan para santri. Lihatlah pohon pisang. Ia hanya berbuah sekali, lalu mati. Tapi sebelum mati, ia meninggalkan tunas-tunas baru di sekitarnya. Tunas ini harus dipisahkan, ditanam di tanah baru, agar tumbuh menjadi pohon-pohon baru yang juga bermanfaat.

Dari falsafah ini lahir Gerakan Seribu Pesantren Nusantara. KH Mahrus prihatin melihat belum meratanya kader-kader umat di pelosok. Menurutnya, perlu disebar pondok pesantren di seluruh Indonesia untuk melahirkan kader-kader yang akan melanjutkan perjuangan.

Kini, Darunnajah memiliki puluhan cabang di berbagai daerah. Setiap cabang adalah tunas yang tumbuh di tanah baru, beradaptasi dengan kondisi lokal, tapi tetap membawa DNA yang sama. Nilai-nilai panca Bina, panca Dharma dan semangat khidmah.

Pada 7 Oktober 1994, di hadapan para ulama dan umara, para pendiri Darunnajah mengikrarkan wakaf dengan pesan yang terus diulang hingga kini. Darunnajah harus tetap eksis dan berkembang sampai hari kiamat. Pesan ini bukan mantra, melainkan pengingat bahwa yang diwariskan bukan sekadar lembaga fisik, tapi nilai abadi.

Yang menarik, KH Mahrus tidak hanya mewariskan posisi, tapi juga cara berpikir. Cara membangun jaringan.

Sidogiri: Ketika Nilai Inti Bertahan di Tengah Ekspansi

Pesantren Sidogiri di Pasuruan menawarkan model yang berbeda. Di sini, regenerasi tidak hanya menyangkut kepemimpinan spiritual, tapi juga sistem ekonomi yang menjadi perpanjangan dakwah.

KH Nawawi Thoyib, pada 1993, merasa prihatin melihat masyarakat di sekitarnya dicekik rentenir. Dalam suatu pengajian, beliau berkata dengan lantang. Tidak cukup kita hanya mengharamkan riba. Kita harus bisa memberi solusi. Kata-kata itu bukan sekadar nasihat. Ia menjadi inspirasi bagi para ustadz muda untuk bergerak.

Mereka belajar, mencari jejaring, mengirimkan santri untuk pelatihan, hingga akhirnya mendirikan Koperasi BMT pada 1997 dengan modal awal Rp 13,5 juta dari 148 orang anggota.

Kini, BMT Sidogiri memiliki 256 cabang di 10 provinsi, dengan aset Rp 1,2 triliun. Yang menarik, Sidogiri dengan tegas memisahkan manajemen pesantren dan manajemen ekonomi. Ini memastikan bahwa nilai-nilai pesantren tidak tergerus oleh logika bisnis.

KH Nawawi Thoyib mungkin telah tiada. Tapi nilai inti yang ia wariskan tetap hidup. Ekonomi adalah perpanjangan dakwah, bukan tujuan. Setiap tahun, para pengurus BMT dari berbagai cabang berkumpul di pondok pusat. Mereka tidak hanya membahas laporan keuangan, tapi juga mengaji bersama, ziarah ke makam pendiri, dan memperbarui komitmen pada visi awal.Jawaban atas pertanyaan ketiga: jaringan tetap utuh karena diikat oleh nilai, bukan hanya oleh figur. Alumni Sidogiri tersebar di seluruh Indonesia, mengelola cabang-cabang BMT, tetap terhubung dalam satu visi: melayani umat, memberdayakan ekonomi syariah.

Ketika Regenerasi Gagal

Namun, tidak semua pesantren seberuntung Gontor, Darunnajah, atau Sidogiri. Di berbagai tempat, kita menyaksikan pesantren besar yang meredup atau bahkan mati setelah pendirinya wafat.

Penyebabnya beragam. Ada yang karena konflik internal antara anak-anak kiai, rebutan warisan, atau ketidakmampuan penerus yang hanya mengandalkan garis keturunan tanpa kapasitas memadai. Ada pula yang karena sistem kaderisasi tidak pernah dibangun, sehingga ketika pemimpin wafat, tidak ada satu pun yang siap menggantikan.

Di sebuah pesantren, misalnya, setelah kiai wafat, anak-anaknya justru sibuk memperebutkan aset. Santri bubar, kegiatan berhenti, dan pesantren yang dulu ramai kini hanya tinggal bangunan tua. Tragedi ini mengajarkan bahwa pewarisan nilai tidak cukup hanya dengan nasihat. Ia harus dilembagakan, dikaderkan, dan dijaga dengan sistem yang kuat.

Kegagalan regenerasi juga bisa terjadi karena terlalu bergantung pada karisma pribadi. Ketika karisma itu pergi, yang tersisa hanya kekosongan. Para santri yang dulu setia karena cinta pada sosok kiai, tiba-tiba kehilangan arah ketika sosok itu tiada. Mereka tidak punya ikatan dengan nilai atau lembaga, hanya dengan pribadi.

Dari sini kita belajar: karisma adalah anugerah, tapi sistem adalah keharusan. Karisma bisa menarik orang datang, tapi hanya sistem yang bisa membuat mereka bertahan.

Pelajaran untuk Kita Semua

Apa yang bisa dipelajari dari pengalaman pesantren-pesantren ini?

Pertama, pelembagaan nilai. Nilai-nilai inti harus dirumuskan, diajarkan, dan dijaga agar tidak bergantung pada interpretasi pribadi. Di Gontor, ada Panca Jiwa dan Panca Jangka. Di Darunnajah, ada Panca Bina, Panca Dharma, ada falsafah pohon pisang. Di Sidogiri, ada prinsip ekonomi sebagai perpanjangan dakwah. Tanpa pelembagaan, nilai akan mudah luntur ketika penjaganya tiada.

Kedua, sistem kaderisasi yang panjang. KH Imam Zarkasyi menggembleng penerusnya selama delapan tahun. KH Mahrus Amin menanamkan falsafah sejak santri masih muda. KH Nawawi Thoyib memberi ruang bagi ustadz muda untuk belajar dan berinovasi. Tidak ada pemimpin instan dalam organisme yang sehat. Kaderisasi bukan hanya transfer ilmu, tapi juga transfer energi batin. Doa, restu, dan warisan spiritual.

Ketiga, mekanisme transisi yang jelas. Badan Wakaf di Gontor, Dewan Nazir di Darunnajah, pemisahan manajemen di Sidogiri, semua adalah mekanisme yang memastikan transisi berjalan mulus ketika pemimpin wafat. Tanpa mekanisme ini, yang terjadi adalah kekosongan kekuasaan dan potensi konflik.

Keempat, kemandirian jaringan. Cabang-cabang pesantren harus diberi ruang untuk tumbuh mandiri, beradaptasi dengan kondisi lokal, tapi tetap terhubung dalam jaringan nilai. Tunas pohon pisang harus dipisahkan, tapi ia tetap membawa DNA yang sama.

Yang Abadi Bukan Pemimpin, Tapi Nilai

Kembali ke pertanyaan awal. Ketika karisma pergi, apakah organisme ini akan bertahan?Jawabannya: ia akan bertahan, jika karisma telah berhasil mengkristal menjadi nilai, dan nilai telah berhasil terlembagakan menjadi sistem. Ia akan bertahan, jika tunas-tunas telah siap sebelum induk mati. Ia akan bertahan, jika jaringan tidak hanya terikat pada figur, tapi pada visi bersama.

KH Hasan Abdullah Sahal pernah berkata dalam suasana haru saat melepas kepergian KH Abdullah Syukri Zarkasyi. Di hadapan ribuan santri yang menangis, beliau berkata dengan suara bergetar.

Pondok sebesar ini. Tidak mungkin pondok ini saya pimpin orang sekecil saya, setua saya, sekuat saya, tidak mungkin. Hanya dengan jiwa besar, hanya dengan kebersamaan yang besar, hanya dengan pengorbanan yang besar.

Inilah jawaban atas kegelisahan kita. Organisme ideologis bertahan bukan karena satu orang besar, tapi karena kebersamaan yang besar, pengorbanan yang besar, dan nilai yang besar.

Di Iran, ujian sesungguhnya baru saja dimulai. Di pesantren-pesantren kita, ujian itu datang silih berganti setiap kali seorang kiai wafat. Tapi selama nilai-nilai itu terus dirawat, selama tunas-tunas terus tumbuh, selama jaringan tetap terhubung, maka organisme ini akan tetap hidup.

KH Mahrus Amin mengajarkan falsafah pohon pisang. Beliau tahu bahwa tidak semua tunas tumbuh. Ada yang mati, ada yang kerdil, ada yang dimakan hama. Tapi beliau juga tahu bahwa dari seratus tunas, akan ada beberapa yang tumbuh besar, berbuah lebat, lalu meninggalkan tunas lagi.

Begitulah keabadian bekerja. Bukan karena tidak pernah mati, tapi karena selalu ada yang baru tumbuh.

Wallahu a'lam bish-shawab.

Muhammad Irfanudin Kurniawan, peneliti pesantren. Penulis buku: Organisme Pesantren, Dakwah Model Canvas, The Essence of Islamic Leadership, Menjejaki Alam Filsafat. Masih terus belajar dari pesantren-pesantren di Nusantara.

Topik Menarik