Viral Sound Horeg di Karnaval Mojokerto dari Siang hingga Pagi, Sejumlah Rumah Rusak
MOJOKERTO, iNews.id – Pertunjukkan sound horeg yang berlangsung dari siang hingga pagi hari dalam karnaval bertajuk Medali Spektakuler Carnival di Desa Medali, Kecamatan Puri, Kabupaten Mojokerto, viral di media sosial. Acara yang awalnya dimaksudkan sebagai perayaan Ruwah Desa dan pentas budaya ini justru menuai hujatan karena penggunaan sound horeg yang dinilai berlebihan.
Karnaval yang diikuti oleh 32 peserta ini menjadi sorotan lantaran durasi pelaksanaannya yang molor drastis, yakni mulai pukul 15.00 WIB hingga pukul 04.00 pagi.
Meski mengusung tema pelestarian budaya, kenyataan di lapangan didominasi oleh dentuman musik dari perangkat suara berkekuatan besar atau sound horeg. Suara yang menggelegar tersebut dikeluhkan mengganggu ketenangan masyarakat luas dan dianggap tidak mencerminkan nilai budaya yang diusung.
Warganet di berbagai platform media sosial ramai-ramai melayangkan kritik pedas. Selain masalah kebisingan, perizinan acara yang berlangsung hingga menjelang subuh tersebut juga dipertanyakan oleh publik.
Kepala Desa Medali, Miftahudin mengatakan, secara administratif, acara tersebut dijadwalkan selesai pada pukul 24.00 WIB. Namun, sejumlah kendala teknis di jalur karnaval membuat rombongan melaju sangat lambat.
"Ada kendala teknis seperti kabel PLN dan Wi-Fi yang tersangkut karena susunan sound di atas truk terlalu tinggi. Selain itu, ada truk pengangkut yang mengalami kerusakan mesin sehingga menghambat peserta di belakangnya," ujar Miftahudin.
Terkait isu kerusakan rumah warga akibat getaran suara, Miftahudin membantah kabar bahwa kerusakan terjadi secara masif. Ia mengakui ada beberapa rumah yang mengalami kerusakan ringan, namun pihak panitia mengeklaim telah melakukan perbaikan seketika.
Biaya Fantastis Rp1,6 Miliar
Gelaran megah ini ternyata telah dipersiapkan sejak setahun yang lalu. Tidak main-main, anggaran yang dihabiskan mencapai Rp1,6 miliar. Dana fantastis tersebut dikumpulkan secara swadaya melalui iuran warga, uang kas desa, serta sumbangan dari sejumlah pengusaha lokal.
Meski menuai pro dan kontra yang tajam, pihak Pemerintah Desa Medali menyatakan tetap ada kemungkinan untuk menggelar acara serupa di masa mendatang, tentunya dengan catatan tetap mengacu pada persetujuan warga desa.









