Sowan ke Mantan Panglima TNI Widodo AS, Menhan: Beliau Meninggalkan Warisan Loyalitas pada NKRI
Menteri Pertahanan (Menhan) Sjafrie Sjamsoeddin bersilaturahmi ke kediaman mantan Panglima TNI Laksamana TNI (Purn) Widodo Adi Sutjipto (Widodo AS) di Kelapa Gading, Jakarta, Kamis, 12 Februari 2026. Pertemuan tersebut sebagai momen untuk menyambung kembali nilai sejarah, pengabdian, dan keteladanan di Tentara Nasional TNI.
Sjafrie datang bersama Wakil Menteri Pertahanan (Wamenhan) Donny Ermawan, Wakil Panglima TNI (Wapang TNI) Jenderal TNI Tandyo Budi Revita, serta Kepala Badan Logistik Pertahanan (Kabaloghan) Marsdya TNI Yusuf Jauhari.
Kehadiran jajaran pimpinan pertahanan itu menegaskan kunjungan tersebut bukan sekadar silaturahmi personal, melainkan juga bentuk penghormatan institusional terhadap peran para senior TNI dalam membangun fondasi pertahanan negara.
Baca juga: Bangun SDM Unggul di Perbatasan, Menhan Tinjau Pendidikan Vokasi Pertahanan di Belu
Sjafrie menekankan arti penting keteladanan Widodo AS bagi generasi penerus prajurit. Menurut Sjafrie, sosok mantan Panglima TNI tersebut meninggalkan jejak kepemimpinan strategis yang relevan hingga saat ini.“Sebagai Panglima TNI pertama dari matra Angkatan Laut (1999–2002), beliau meninggalkan jejak kepemimpinan strategis, warisan nilai tentang integritas, disiplin, dan loyalitas kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pengalaman panjang beliau dalam menjaga kedaulatan maritim Indonesia adalah bagian dari fondasi kekuatan pertahanan kita hari ini,” katanya, Jumat (13/2/2026).
Widodo AS dikenal sebagai figur penting dalam sejarah TNI, terutama karena menjadi Panglima TNI pertama yang berasal dari matra laut pada era Reformasi. Masa kepemimpinannya dinilai menjadi salah satu periode krusial dalam penataan ulang peran TNI di tengah perubahan politik nasional, sekaligus penguatan visi pertahanan berbasis kepentingan maritim Indonesia sebagai negara kepulauan.
Lihat video: Menhan Sjafrie Kunjungi Batalyon Teritorial Pembangunan 857/Gana Gajahsora
Sjafrie menegaskan bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai para pendahulunya. Sjafrie menyebut pertemuan dengan para senior sebagai ruang belajar yang sarat nilai, bukan hanya secara militer tetapi juga dalam kepemimpinan kebangsaan.“Dari para senior, kita belajar tentang keteguhan sikap, kejernihan strategi, dan keberanian mengambil keputusan demi kepentingan bangsa dan negara,” ujarnya.
Silaturahmi tersebut mencerminkan upaya menjaga kesinambungan nilai dan tradisi kepemimpinan di tubuh TNI, di tengah tantangan pertahanan yang semakin kompleks.
Pemerintah, melalui Kementerian Pertahanan (Kemhan) dan TNI, terus mendorong penguatan profesionalisme prajurit dengan tetap berakar pada pengalaman sejarah dan keteladanan para pendahulu.










