DPR Minta Perpustakaan Daerah Diperhatikan

DPR Minta Perpustakaan Daerah Diperhatikan

Nasional | okezone | Rabu, 14 Januari 2026 - 18:56
share

JAKARTA – Anggota Komisi X DPR RI Bonnie Triyana mengkritisi layanan iPusnas dan kondisi perpustakaan daerah saat mengikuti Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Kepala Perpustakaan Nasional (Perpusnas) di Gedung DPR RI, Rabu (14/1/2026).

Misalnya, gangguan layanan digital sekaligus kondisi fisik beberapa perpustakaan milik pendiri bangsa dan daerah. Salah satunya, perpustakaan di Pandeglang yang merupakan daerah pemilihan (dapil) Bonnie Triyana.

"Kalau lagi sedang malas pergi, saya biasanya akses iPusnas. Tetapi belakangan ini iPusnas sering macet," kata Bonnie sembari menunjukkan ponselnya kepada anggota rapat dan jajaran Perpusnas di ruang sidang Gedung Parlemen, Jakarta, Rabu.

Lebih lanjut, Bonnie bercerita pernah mengalami proses unduh buku yang terhenti karena sistem terkunci sendiri, dan menemukan pengumuman pemeliharaan yang seharusnya selesai pada 8 Januari, tetapi faktanya akses masih terganggu hingga hari ini, 14 Januari.

Anggota Fraksi PDI Perjuangan ini memperingatkan agar upaya efisiensi anggaran tidak mengorbankan layanan publik paling dasar. Politisi berlatar belakang sejarawan ini mendorong Perpusnas mencari solusi inovatif meski dengan keterbatasan anggaran.

Selain masalah iPusnas, legislator dapil Pandeglang–Lebak ini juga mengungkap kondisi perpustakaan di daerah yang memprihatinkan. Menurut data yang disebutkan Bonnie, Indonesia memiliki 21.086 perpustakaan di tingkat desa/kelurahan, 807 di tingkat kecamatan, dan 495 di tingkat kabupaten/kota dari 514 daerah.

"Artinya, masih ada 19 kabupaten/kota yang belum punya perpustakaan," katanya sembari menambahkan ada lima provinsi baru yang juga belum memiliki perpustakaan.

Bonnie mengingatkan pentingnya fasilitas dasar seperti penyimpanan yang layak untuk koleksi buku. "Saya datang ke sana, koleksinya disimpan di satu ruangan tanpa pendingin; lembap. Kita tahu kondisi kelembapan tinggi di Indonesia, buku harus dirawat," ujarnya.

Bonnie juga menyoroti pentingnya perhatian terhadap perpustakaan tokoh bangsa, khususnya perpustakaan Bung Karno dan Bung Hatta. "Perpustakaan Bung Karno dan Bung Hatta ini juga tolong diperhatikan," katanya.

Bonnie mencontohkan perpustakaan pribadi Bung Hatta yang berada di lantai dua rumahnya di kawasan Jalan Proklamasi, Jakarta, yang menurutnya perlu perhatian khusus. Bonnie juga menyampaikan bahwa koleksi buku Bung Karno tersebar di beberapa lokasi.

"Sebagian buku Bung Karno ada di Istana Bogor, sebagian ada di Balai Kirti. Itu buku-buku yang beliau bawa ketika diasingkan," ujar Bonnie sembari mendorong Perpusnas berkomunikasi dengan Balai Kirti agar koleksi tersebut dapat dibuka dan diakses publik sebagai sumber pengetahuan sejarah.

Isu repatriasi naskah kuno juga mendapat perhatian dari politisi yang pernah menjadi kurator di Rijksmuseum, Amsterdam, ini. Bonnie menyambut baik upaya pemulangan 42 naskah kuno Nusantara yang baru dilakukan Perpusnas, yang sebelumnya dimiliki almarhum Timothy Behrend di Australia.

Menurut Bonnie, hal tersebut merupakan bagian dari upaya mendekolonisasi pengetahuan, tetapi ia mempertanyakan kesiapan anggaran untuk merawat manuskrip tersebut. "Ketika saya lihat anggaran, kira-kira sanggup enggak merawat naskah-naskah kuno yang dipulangkan tadi? Kita saja kadang tidak mampu merawat karena keterbatasan anggaran," katanya.

Topik Menarik