Loading...
Loading…
Optimis Ekonomi DIJ Bisa Menyamai 2019

Optimis Ekonomi DIJ Bisa Menyamai 2019

Nasional | radarjogja | Senin, 09 Mei 2022 - 07:22

RADAR JOGJA Libur lebaran hari raya Idul Fitri kemarin membawa berkah di berbagai sektor. Diyakini DIJ memasuki masa kebangkitan pascapandemi. Mobilitas tinggi hingga padatnya lalu lintas jadi salah satu indikatornya.

Pakar Ekonomi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Ahmad Maruf mengaku optimis 100 persen ekonomi DIJ kembali pulih menyamai 2019. Hal ini dapat dilihat dari berbagai sektor yang bergeliat tumbuh dengan baik. Mobilitas masuk ke DIJ tinggi, menyebabkan fungsi konsumsi jasa transportasi, akomodasi seperti hotel dan restoran termasuk rekreasi ikut bergerak naik. Dalam banyak hal model lebaran itu meningkatkan pertumbuhan ekonomi, ungkap Maruf dihubungi Radar Jogja, kemarin (8/5).

Peningkatan signifikan ini tampak pada okupansi hotel naik di atas 80 persen. Selain itu, kunjungan wisata di Jogjakarta cenderung padat selama libur lebaran. Kepadatan wisata ini tampak merata di seluruh DIJ. Hal ini dinilai wajar. Pasalnya dua tahun terakhir model lebaran mudik sempat vakum.

Sehingga begitu pemerintah melonggarkan aturan mudik lebaran antusias masyarakat meningkat tajam. Dan berdampak pada mobilitas wisata tinggi.Meski, belum semuanya secara ekonomi masyarakat benar-benar pulih dari pandemi. Mereka mencari cara mengupayakan untuk bisa mudik, bebernya.

Baca Juga :
Astra targetkan transaksi Rp 800 miliar di GIIAS 2021

Dijelaskan, padatnya lalu lintas jalan mengkonfirmasi pergerakan orang diikuti konsumsi, perputaran uang dari pusat kota ke daerah periferi yang lebih rendah. Ketika diikuti konsumsi maka para pelaku usaha baik industri pariwisata kuliner jasa dan semua sektor mengalami peningkatan konsumen. Secara agregat atau makro ini mendorong pertumbuhan ekonomi. Jogja itu lebih mendapat cash flow atau uang masuk, jelasnya.

Dia menilai, pola ekonomi DIJ itu basisnya kerumunan yand dilandasi dengan pergerakan banyak orang. Maka yang perlu dicermati yaitu, pengembangan destinasi wisata yang tak sekedar fisik destinasi mana yang dikunjungi. Melainkan juga ekosistemnya. Yang masih menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah bagaimana menyediakan infrastruktur, akses layak menuju destinasi wisata. Seperti halnya di Gunungkidul, beberapa jalan menuju pantai maupun destinasi wisata lainnya belum support dan kurang memadahi untuk mobilitas tinggi dan menyebabkan antrean panjang.

Kemudian tata kelola berbisnis. Jangan sampai ada kasus harga nuthuk. Keterbukaan dalam berbisnis harus dinyatakan dengan jelas. Terutama wajib mencamtumkan daftar harga. Selanjutnya, kasus parkir nuthuk, memungut retribusi parkir secara berlebihan akan merusak citra industi pariwisata. Ketika hal itu terjadi dibutuhkan tindakan cepat atau justru malah mengantisipasi jangan sampai kasus itu muncul. Jadi fungsi pembinaan dan pengawasan menjadi penting, kritiknya.

Baca Juga :
Jika Kurva Covid-19 tak Turun, Ketidakpastian Berlanjut

Pertumbuhan ekonomi diprediksi terus bergerak naik seiring melandainya kasus Covid-19, kemudian 100 persen pendidikan tatap muka, libur akhir semester sekolah dan libur akhir tahun mendatang. Disebutkan, libur lebaran tahun ini menandai pertumbuhan ekonomi yang membaik pada kuartal pertama.

Hal senada juga disampaikan Pakar Ekonomi Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Yayasan Keluarga Pahlawan Negara (STIE YKPN) Jogjakarta Wing Wahyu Winarno. Dia menilai tingkat konsumsi berdasarkan kebutuhan rumah tangga pun mengalami kenaikan tajam. Indikatornya, dapat dilihat dari harga kebutuhan pokok di tingkat pasar tradisional, sampai saat ini masih stagnan relatif tinggi. Menandakan permintaan masih tinggi sementara persediaannya terbatas.

Pertumbuhan ekonomi tidak hanya terlihat dari segi transaksi tunai melainkan transaksi online yang dinilai naik pesat. Tren transaksi online yang semula hanya dilakukan kalangan ekonomi menengah atas. Saat ini sudah merata hingga kalangan bawah. Seperti halnya jasa ojek online. Berdasarkan informasi yang saya terima, pascasatu hari setelah lebaran ada peningkatan penggunaan jasa ojol dengan transaksi digital.

Kendati begitu, dia menilai budaya menonton film di bioskop, tidak semasif dulu. Perkembangan teknologi dan informasi media digital saat ini menjadi pilihan alternatif untuk mengisi hiburan waktu luang. Seperti menghabiskan waktu libur lebaran kemarin. Kalau dunia hiburan seperti bioskop saya kira belum begitu signifikan (pergerakannya), karena tumbuh budaya baru menonton melalui gadget yang dihubungkan pada tv digital, bebernya. (mel/pra)

Original Source

Topik Menarik