Teks Khutbah Jumat 30 Oktober 2026 Singkat Menyentuh Hati: Karhutla dan Teguran Allah
JAKARTA, iNews.id - Teks khutbah Jumat edisi 30 Oktober 2026 bertepatan Bulan Jumadil Awal 1448 H bisa menjadi referensi bagi khatib untuk disampaikan ke jemaah shalat Jumat.
Saat ini, kasus kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) menjadi bencana lingkungan yang membutuhkan kepedulian bersama. Sudah saatnya para tokoh agama menyuarakan bahaya karhutla bagi manusia dan lingkungan.
Bencana merupakan suatu fakta kehidupan yang tidak dapat dihindari, kerap datang tiba-tiba, menimbulkan kerusakan bahkan kematian. Kerusakan alam yang dirasakan manusia tersebut, sering dikonotasikan dengan kehendak Allah SWT semata hingga memunculkan beragam tafsir dari ketidakpedulian Tuhan hingga azab untuk umat manusia.
Pembahasan bencana kaitannya erat dengan fenomena yang terjadi di Indonesia. Dalam beberapa bulan terakhir, bencana alam melanda sejumlah daerah di Indonesia, seperti kebakaran hutan dan lahan, kekeringan, gunung meletus, gempa bumi, hingga banjir bandang.
Dilansir dari laman MUI, Ibnu Manzūr dalam karyanya Lisān al-‘Arab menyebutkan istilah bencana dikenal dengan al-kaaritsah (الكارثة) yang berarti suatu keadaan yang diliputi kesulitan, al-baliyyah (البلية) dan ad-dahr (الدهر) yang berarti perkara yang tidak disukai oleh manusia, seperti kemalangan dan musibah. Sedangkan dalam KBBI, bencana berarti sesuatu yang menyebabkan atau menimbulkan kesusahan, kerugian atau penderitan.
Melalui ceramah, khutbah, dan kegiatan keagamaan, para ulama dan pemuka agama memiliki peran penting dalam mengajak masyarakat menjaga lingkungan serta membantu warga yang terdampak.
Berikut contoh teks khutbah Jumat singkat menyentuh hati tentang karhutla, kekeringan dan teguran dari Allah dilansir dari laman Kemenag DIY.
Teks Khutbah Jumat 30 Oktober 2026 Singkat Menyentuh Hati
اَلْحَمْدُ للهِ، اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِىْ جَعَلَ الْاِسْلَامَ طَرِيْقًا سَوِيًّا، وَوَعَدَ لِلْمُتَمَسِّكِيْنَ بِهِ وَيَنْهَوْنَ الْفَسَادَ مَكَانًا عَلِيًّا. أَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ، شَهَادَةَ مَنْ هُوَ خَيْرٌ مَّقَامًا وَأَحْسَنُ نَدِيًّا. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا محَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمُتَّصِفُ بِالْمَكَارِمِ كِبَارًا وَصَبِيًّا. اَللَّهُمَّ فَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَانَ صَادِقَ الْوَعْدِ وَكَانَ رَسُوْلاً نَبِيًّا، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الَّذِيْنَ يُحْسِنُوْنَ إِسْلاَمَهُمْ وَلَمْ يَفْعَلُوْا شَيْئًا فَرِيًّا،
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ، اُوْصِيْنِيْ نَفْسِىْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ .قَالَ اللهُ تَعَالَى : بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ، يَا اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ
Alḥamdulillāh, segala puji hanya milik Allah SWT., Rabb al-alamin, Tuhan semesta alam, yang telah menciptakan langit dan bumi, menundukkan matahari dan bulan, menurunkan hujan, menumbuhkan pepohonan, menciptakan flora dan fauna, dan menjadikan bumi ini sebagai hunian yang layak bagi manusia.
Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Rasul pilihan, Muhammad SAW., keluarga, sahabat, dan seluruh pengikutnya hingga akhir zaman. Sosok yang tidak hanya membawa risalah tauhid, tetapi juga teladan akhlak ekologis: memperlakukan hewan dengan kasih sayang, merawat tetumbuhan dengan sabda dan tindakannya, hemat dalam menggunakan air, dan melarang perusakan bumi.
Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat rahimakumullah
Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan sebenar-benarnya takwa. Takwa bukan hanya ketika berada di masjid, tetapi juga ketika kita mengelola tanah, menggunakan air, menebang pohon, membuang sampah, dan menjalankan amanah sebagai manusia di muka bumi.
Jemaah Jumat yang dimuliakan Allah
Beberapa bulan terakhir ini, kita menyaksikan berbagai peristiwa yang seharusnya menggugah hati. Hutan terbakar, lahan mengering, sumber air menyusut, sawah kesulitan mendapatkan air, dan sebagian masyarakat harus menghadapi panas yang semakin menyengat. Ketika hujan tidak kunjung turun, ketika sungai mulai dangkal, ketika sumur semakin sulit mendapatkan air, kita sering bertanya, “Mengapa semua ini terjadi?”
Al-Qur’an mengingatkan kita: Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali ke jalan yang benar.”
Ini Riwayat Pendidikan dan Karier Wisnu Hani Putranto, Kepala Lapas Cibinong yang Dinonaktifkan
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ
Artinya: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar-Rūm: 41).
Ayat ini bukan berarti setiap kebakaran atau kekeringan boleh langsung kita vonis sebagai hukuman Allah kepada orang tertentu. Kita tidak mengetahui seluruh hikmah di balik sebuah musibah. Namun, musibah semestinya menjadi teguran dan kesempatan untuk melakukan introspeksi. Jangan sampai ketika hutan terbakar kita hanya menghitung kerugian. Jangan sampai ketika kekeringan melanda kita hanya mengeluh tentang panasnya. Tetapi kita lupa bertanya kepada diri sendiri: Apakah selama ini kita telah menjaga amanah Allah terhadap bumi?
Lanjutan Khutbah Jumat Pertama
Jemaah Jumat rahimakumullah,
Makin Seru! Penampilan Budi Doremi Ditunggu Mahasiswa Untar di Hari Kedua iNews Campus Connect 2026
Allah telah memberikan alam yang indah kepada manusia. Hutan menyediakan udara, menyimpan air, menjaga tanah dan menjadi tempat hidup berbagai makhluk. Tetapi ketika hutan dibakar sembarangan, ketika pohon ditebang tanpa memperhatikan kelestarian, ketika lingkungan diperlakukan hanya sebagai sumber keuntungan, keseimbangan alam dapat terganggu.
Allah Swt. berfirman:
وَلَا تُفْسِدُوْا فِى الْاَرْضِ بَعْدَ اِصْلَاحِهَا وَادْعُوْهُ خَوْفًا وَّطَمَعًاۗ اِنَّ رَحْمَتَ اللّٰهِ قَرِيْبٌ مِّنَ الْمُحْسِنِيْنَ
Artinya: “Janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah diatur dengan baik. Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat dengan orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-A‘rāf: 56).
Karena itu, menjaga lingkungan bukan sekadar persoalan sosial. Ia juga merupakan bagian dari amanah agama.
Jemaah yang dirahmati Allah,
Kita sering menganggap air sebagai sesuatu yang tidak akan pernah habis. Keran dibuka begitu saja. Air dibiarkan mengalir ketika mencuci kendaraan. Sumur dipompa tanpa memperhatikan keadaan lingkungan. Sampah dibuang ke sungai, kemudian ketika banjir atau kekeringan datang kita bertanya, mengapa keadaan semakin sulit?
Rasulullah SAW mengajarkan agar kita tidak berlebihan menggunakan air. Bahkan ketika berwudu, Nabi SAW tidak mengajarkan pemborosan. Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa Nabi SAW melewati Sa’d yang sedang berwudu, lalu Rasulullah bersabda: Sa’d bertanya, “Apakah dalam wudu juga ada pemborosan?” Beliau menjawab: Ya, sekalipun engkau berada di sungai yang mengalir.”(HR. Ibnu Majah).
Lihatlah, jemaah sekalian. Ketika air melimpah pun Rasulullah mengajarkan agar tidak boros. Apalagi ketika saudara-saudara kita sedang mencari air untuk minum, memasak, mandi, memberi minum ternak, dan mengairi sawah.
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Kebakaran hutan dan kekeringan seharusnya membuat kita semakin dekat kepada Allah, bukan semakin jauh. Ketika langit belum menurunkan hujan, mungkin Allah sedang mengajarkan kepada kita arti sebuah tetes air. Ketika tanah menjadi kering, mungkin Allah sedang mengingatkan bahwa selama ini kita terlalu sering melupakan nikmat-Nya.
Ketika sumber air mengecil, mungkin Allah sedang mengajarkan bahwa sesuatu yang selama ini kita anggap biasa ternyata merupakan karunia yang luar biasa. Maka jangan hanya meminta hujan turun. Mintalah juga agar hati kita diturunkan hujan rahmat. Jangan hanya berharap tanah kembali basah.
Berharaplah agar hati kita kembali lembut setelah sekian lama mengeras oleh dosa. Jangan hanya takut melihat hutan terbakar. Takutlah ketika dosa-dosa kita terus membakar kehidupan kita, sementara kita tidak pernah merasa perlu bertobat. Allah berfirman:
وَلَوْ اَنَّ اَهْلَ الْقُرٰٓى اٰمَنُوْا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكٰتٍ مِّنَ السَّمَاۤءِ وَالْاَرْضِ وَلٰكِنْ كَذَّبُوْا فَاَخَذْنٰهُمْ بِمَا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ
Artinya: Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akanmelimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi. Tetapi mereka mendustakan, maka Kami siksa mereka disebabkan apa yang telah mereka kerjakan.”(QS. Al-A’raf: 96)
Ayat ini mengajarkan kepada kita bahwa iman dan takwa bukan hanya mendatangkan keselamatan di akhirat, tetapi juga menjadi sebab datangnya keberkahan dalam kehidupan. Maka mari kita mulai dari hal -hal sederhana. Jangan membakar hutan dan lahan sembarangan. Jangan membuang sampah ke sungai. Jangan boros menggunakan air.
Tanamlah pohon jika mampu. Jagalah sumber mata air. Ingatkan keluarga dan anak-anak kita untuk mencintai lingkungan. Dan yang paling penting, perbanyak istighfar dan tinggalkan kemaksiatan. Sebab ketika musibah datang, orang beriman tidak hanya mencari siapa yang harus disalahkan. Tetapi, dia akan menundukkan kepala dan berkata: “Ya Allah, mungkin kami telah banyak lalai, maka ampuni kami. Perbaiki kami. Selamatkan bumi kami. Turunkanlah hujan -Mu sebagai rahmat, bukan sebagai azab.
”Semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita, menjaga negeri kita dari kebakaran, kekeringan dan berbagai bencana, serta menjadikan hujan yang turun sebagai rahmat dan keberkahan bagi seluruh makhluk".
بَارَكَ الله لِى وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِى وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنْ اْلآيَةِ وَاْلذْكُرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ اِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ، أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَاسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم
Khutbah Kedua
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ أَنْعَمَنَا بِنِعْمَةِ الْإِيْمَانِ وَالْإِسْلَامِ. وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ خَيْرِ الْأَنَامِ، وَعَلٰى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْكِرَامِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلٰهَ اِلَّا اللهُ الْمَلِكُ الْقُدُّوْسُ السَّلَامُ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَحَبِيْبَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَاحِبُ الشَّرَفِ وَالْإِحْتِرَامِ. أَمَّا بَعْدُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. اِتَّقُوْ اللهَ، وَاعْمَلُوا الصَّالِحَاتِ وَاجْتَنِبُوا الْمُنْكَرَاتِ وَاذْكُرُوا اللهَ فِي أَيَّامٍ مَعْلُوْمَتٍ وَاشْكُرُوْا لِلّٰهِ الَّذِيْ بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ.
قَالَ اللهُ تَعَالَى: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يٰأَ يُّها الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ.
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ، اَلْأَحْياءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ. اَللَّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا إِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عامَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. اللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلًا وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَاَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ
عٍبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتاءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشاءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ








