Waspada! 5 Komplikasi Gagal Ginjal pada Anak Perlu Diketahui Orang Tua
JAKARTA, iNews.id - Penyakit ginjal kronik (PGK) tahap akhir pada anak tidak hanya mengganggu fungsi penyaringan darah, tetapi juga dapat memicu berbagai komplikasi serius, mulai dari tekanan darah tinggi, anemia, gangguan pertumbuhan, hingga penurunan fungsi jantung.
Dokter Spesialis Anak, dr Reza Fahlevi, menjelaskan terdapat lima komplikasi yang sering dialami anak dengan penyakit ginjal kronik tahap akhir atau gagal ginjal. Kondisi ini membutuhkan penanganan medis secara komprehensif untuk mencegah komplikasi berkembang dan memengaruhi kesehatan anak.
“Ini dia 5 komplikasi tersering yang dapat terjadi pada anak dengan penyakit ginjal kronik tahap akhir atau gagal ginjal,” ujar dr. Reza Fahlevi dalam unggahan video di akun Instagram pribadinya, dikutip Kamis (29/10/2026).
Berikut lima komplikasi yang perlu diwaspadai pada anak dengan penyakit ginjal kronik tahap akhir.
1. Hipertensi atau Tekanan Darah Tinggi
Komplikasi pertama adalah hipertensi. Gangguan fungsi ginjal dapat menghambat pengaturan tekanan darah dan keseimbangan cairan dalam tubuh. Akibatnya, tekanan darah anak berisiko meningkat.
“Yang pertama adalah hipertensi atau tekanan darah tinggi. Ini bisa terjadi karena gangguan pengaturan tekanan darah pada anak di ginjal dan juga kondisi kelebihan cairan yang terjadi secara kronik,” kata dr Reza.
Hipertensi yang tidak terkontrol juga dapat memperburuk kondisi kesehatan anak dan meningkatkan risiko komplikasi pada organ lain, termasuk jantung.
2. Anemia
Anemia juga kerap dialami anak dengan penyakit ginjal kronik. Salah satu penyebabnya adalah penurunan produksi hormon eritropoietin, yang berperan merangsang pembentukan sel darah merah.
Ketika fungsi ginjal menurun, produksi hormon tersebut dapat berkurang sehingga pembentukan sel darah merah terganggu. Namun, anemia pada pasien penyakit ginjal kronik juga dapat disebabkan oleh faktor lain.
“Yang kedua adalah anemia. Ini banyak mekanismenya. Salah satunya adalah pada anak dengan penyakit ginjal kronik itu kurangnya produksi hormon eritropoietin yang berfungsi untuk pembentukan sel darah merah ya, tapi tentunya ada penyebab-penyebab lainnya,” ujarnya.
Makin Seru! Penampilan Budi Doremi Ditunggu Mahasiswa Untar di Hari Kedua iNews Campus Connect 2026
3. Gangguan Elektrolit dan Asam Basa
Ginjal berperan menjaga keseimbangan elektrolit dan asam basa dalam tubuh. Ketika organ ini mengalami kerusakan berat, kemampuan tersebut dapat terganggu sehingga memicu ketidakseimbangan zat penting dalam darah.
Menurut dr. Reza, gangguan yang dapat terjadi antara lain hiperkalemia atau kadar kalium terlalu tinggi, hiponatremia atau kadar natrium terlalu rendah, serta asidosis metabolik, yaitu kondisi ketika tubuh mengalami peningkatan keasaman darah.
“Yang ketiga adalah gangguan elektrolit dan asam basa akibat gangguan proses pengaturan elektrolit dan asam basa di ginjal anak yang bermasalah ya. Jadi anak bisa mengalami hiperkalemi, kemudian bisa mengalami hiponatremi, kemudian juga asidosis metabolik,” tuturnya.
Gangguan elektrolit dan asam basa perlu mendapat perhatian medis karena dapat memengaruhi berbagai fungsi tubuh, termasuk kerja otot dan jantung.
4. Gangguan Mineral Tulang dan Pertumbuhan
Ini Riwayat Pendidikan dan Karier Wisnu Hani Putranto, Kepala Lapas Cibinong yang Dinonaktifkan
Komplikasi berikutnya berkaitan dengan kesehatan tulang dan pertumbuhan fisik anak. Ginjal berperan dalam metabolisme vitamin D serta pengaturan kadar kalsium dan fosfat yang dibutuhkan untuk menjaga kesehatan tulang.
Pada anak dengan penyakit ginjal kronik tahap akhir, gangguan fungsi ginjal dapat menurunkan kadar vitamin D aktif dan mengurangi penyerapan kalsium di usus. Kadar fosfat juga dapat meningkat dan memengaruhi hormon paratiroid yang berperan dalam pengaturan mineral tulang.
“Yang keempat adalah gangguan mineral tulang dan juga pertumbuhan pada anak. Yang ternyata ginjal ini juga berfungsi untuk metabolisme vitamin D, sehingga apabila ini terganggu, maka nanti kadar vitamin D aktifnya akan menurun, penyerapan kalsium di usus akan menurun, belum lagi pada anak dengan penyakit ginjal tahap akhir fosfatnya juga naik, nanti berpengaruh ke hormon paratiroid,” ungkapnya.
Menurutnya, gangguan tersebut dapat menurunkan kepadatan tulang dan menghambat pertumbuhan anak.
“Kompleks mekanismenya ya, tapi nanti akan menyebabkan tulang anak itu bermasalah, jadi kepadatannya itu akan menurun dan juga dapat menyebabkan perawakan pendek pada anak dengan penyakit ginjal kronik tahap akhir,” tambah dr. Reza.
5. Gangguan Jantung atau Kardiomiopati Dilatasi
Komplikasi kelima yang perlu diwaspadai adalah gangguan jantung, termasuk kardiomiopati dilatasi. Kondisi ini ditandai dengan pelebaran ruang jantung dan melemahnya kemampuan otot jantung untuk memompa darah.
Pada anak dengan gagal ginjal, gangguan jantung dapat berkaitan dengan sejumlah faktor, seperti hipertensi yang tidak terkontrol, kelebihan cairan dalam jangka panjang, anemia, dan gangguan elektrolit.
“Kemudian yang terakhir adalah penyakit masalah jantung, yaitu kita sebut sebagai kardiomiopati dilatasi ya. Kontraksi otot jantungnya itu akan melemah. Dan ini merupakan efek akumulasi dari berbagai penyebab. Bisa jadi karena hipertensi yang tidak ditangani, kelebihan cairan dalam jangka waktu yang panjang, kondisi anemia, kondisi hiperkalemi, ini juga bisa menyebabkan menurunnya fungsi jantung pada anak,” katanya.
Mengingat risiko komplikasi tersebut, dr. Reza mengingatkan pentingnya penanganan menyeluruh bagi anak yang mengalami penyakit ginjal kronik. Pemantauan berkala diperlukan untuk mendeteksi gangguan kesehatan sedini mungkin dan menentukan penanganan sesuai kondisi masing-masing pasien.
“Untuk itu, anak dengan penyakit ginjal kronik harus ditatalaksana secara komprehensif untuk melihat ya berbagai kemungkinan-kemungkinan komplikasi yang bisa terjadi pada anak tersebut,” ujar dr Reza.








