Ray Rangkuti Tiru Gimmick Gibran di Debat Pilpres 2024: Saya Lagi Cari-Cari Ijazah

Ray Rangkuti Tiru Gimmick Gibran di Debat Pilpres 2024: Saya Lagi Cari-Cari Ijazah

Terkini | inews | Selasa, 27 Oktober 2026 - 22:20
share

JAKARTA, iNews.id - Direktur Eksekutif Lingkar Madani, Ray Rangkuti, menirukan gimmick Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka saat debat Pilpres 2024 ketika membahas polemik ijazah. Ray menyindir penggunaan kalimat “belum menemukan” dan mempertanyakan perbedaan pemaknaan ijazah dalam konteks persyaratan pendidikan calon pejabat publik.

Ray menirukan gimmick tersebut dalam program Rakyat Bersuara bertajuk Ada Pasal Selundupan di Kasus Ijazah? yang disiarkan iNews, Selasa (27/10/2026) malam.

“Ini contoh ini ya. Saya lagi nyari-nyari. Saya tidak, saya belum menemukannya,” ujar Ray yang berdiri di panggung sambil menirukan gimmick Gibran saat debat Pilpres 2024.

Ray kemudian menjelaskan kekhawatirannya mengenai perbedaan pemahaman tentang ijazah. Menurutnya, masyarakat umumnya memahami ijazah sebagai dokumen yang menyatakan seseorang telah menyelesaikan pendidikan pada jenjang tertentu.

“Saya khawatirkan pemaknaan ijazah ini kita beda. Kita membayangkan ijazah itu selembar kertas yang menyatakan seseorang telah menyelesaikan studi, satu level pendidikan tertentu. Jangan-jangan yang mereka bayangkan itu juga ijazah itu gak harus itu,” ujarnya.

Ray juga menyinggung surat keterangan penyetaraan (suket) yang menurutnya dapat dimaknai tidak hanya sebagai penyetaraan dokumen, tetapi juga kemampuan pengetahuan. Dia mengaitkan persoalan tersebut dengan polemik persyaratan pendidikan Gibran.

"Sama dengan suket dengan tegas menyatakan bahwa ada penyetaraan antara produk SMA sana dengan produk SMA sini. Enggak pernah kebayang oleh kita itu bahwa bukan hanya ijazahnya yang bisa disertarakan, tapi kemampuan pengetahuannya juga bisa disetarakan. Kan ini kejadiannya. Kejadian pada kasus siapa? Pada kasus Gibran," katanya

Ray mengatakan publik perlu mencermati kembali bagaimana persyaratan ijazah dimaknai dan diterapkan dalam proses pemilihan. Dia juga menyinggung perkara di Pesawaran yang disebutnya berkaitan dengan ijazah sarjana dan persoalan ijazah SMA.

"Di republik ini bisa aneh-aneh. Jadi boleh jadi, makanya Kamis ini kita tunggu jangan-jangan makna ijazah itu tidak seperti yang kita bayangkan," ucapnya.

Menurut Ray, dalam kasus yang dia contohkan, ijazah S1 telah dimiliki, tetapi ijazah SMA bermasalah sehingga berujung pada pembatalan oleh Mahkamah Konstitusi (MK).

"Kenapa dibatalkan oleh Mahkamah Konstitusi? Karena alat ujinya adalah SMA-nya," ujarnya.

Dia menjelaskan, dalam proses pencalonan, pemeriksaan persyaratan pendidikan tidak semestinya hanya berfokus pada gelar tertinggi. Menurutnya, keabsahan ijazah pada jenjang pendidikan yang menjadi syarat juga perlu diperiksa.

Ray menilai, apabila persyaratan minimal yang ditetapkan adalah ijazah SMA, maka dokumen pada jenjang tersebut menjadi salah satu dasar untuk menguji pemenuhan syarat pencalonan.

"Yang kita diskusikan pasal 169 huruf R bahwa disebutkan di undang-undang itu minimal ijazah SMA. Berarti alat ujinya di mana? Bukan di S1, di S2, S3-nya. Alat ujinya ada di SMA," ujarnya.

"Kau bawa gelarmu sampai ke langit pun ijazah SMA-Mu bermasalah. Anda didiskualifikasi," katanya lagi.

Ray kembali menggunakan ungkapan “belum menemukan” untuk menyindir gimmick Gibran dalam debat Pilpres 2024. Dia menjelaskan bahwa kalimat tersebut menggambarkan seseorang yang sedang mencari sesuatu, tetapi belum menemukannya.

"Kalau ada kalimat belum menemukan ini sama dengan begini, lagi nyari nih. Setelah dicari tidak ditemukan," ujarnya.

Topik Menarik