Bukayo Saka Raih Socrates Award 2026, Kisah Anak Rwanda Bikin Tersentuh
PARIS, iNews.id – Bukayo Saka menyentuh hati publik dalam ajang Ballon d’Or 2026 setelah membacakan surat emosional dari seorang anak berusia 14 tahun asal Rwanda yang kembali memiliki harapan setelah mendapatkan bantuan medis dari badan amal BigShoe. Bintang Arsenal itu menerima Socrates Award atas kontribusinya dalam kegiatan kemanusiaan, lalu menggunakan momen pidatonya untuk menyuarakan kisah anak-anak yang hidupnya berubah berkat bantuan tersebut.
Saka merupakan salah satu mitra BigShoe, organisasi yang menghubungkan bintang sepak bola, penggemar, dan berbagai pihak untuk membantu anak-anak dari wilayah kurang beruntung. Melalui kerja sama itu, pemain sayap Arsenal tersebut ikut mendukung sejumlah program kesehatan bagi anak-anak yang membutuhkan perawatan medis.
Salah satu program terbaru BigShoe mendanai 120 operasi medis yang mengubah kehidupan anak-anak di Nigeria. Selain itu, Saka turut membantu pelaksanaan pemeriksaan kesehatan bagi lebih dari 580 anak di Rwanda.
Saat menyampaikan pidato penerimaan penghargaan, Saka mengeluarkan selembar surat dari saku jasnya. Surat itu ditulis oleh seorang anak berusia 14 tahun asal Rwanda bernama Biringiro, yang ingin membagikan pengalaman hidupnya setelah mendapatkan bantuan perawatan mata.
“Saya ingin berbagi cerita dari BigShoe Charity yang telah membantu mengubah kehidupan seorang anak, melalui kata-katanya sendiri. Jadi, saya akan membacakannya sekarang,” ujar Saka sebelum memulai pembacaan surat tersebut.
Biringiro kemudian memperkenalkan diri dan menceritakan kesulitan yang dia alami sejak berusia 12 tahun. Penglihatannya mulai menurun, sementara desa tempat tinggalnya tidak memiliki aliran listrik. Kondisi itu membuat aktivitas sehari-hari semakin sulit dilakukan.
“Ketika saya berusia 12 tahun, penglihatan saya mulai menurun. Desa saya tidak memiliki listrik, dan ketika penglihatan saya semakin memburuk, bahkan bergerak di dalam rumah menjadi sulit. Di sekolah, saya tidak bisa membaca tulisan guru di papan tulis dan saya kesulitan bermain bersama teman-teman. Saya hanya ingin bermain dengan bebas dan merasa seperti anak-anak lainnya,” demikian isi surat Biringiro yang dibacakan Saka.
Kondisi tersebut membuat Biringiro kesulitan mengikuti pelajaran di sekolah dan bermain bersama teman-temannya. Dia hanya ingin menjalani kehidupan seperti anak-anak seusianya tanpa harus merasa berbeda karena gangguan penglihatan.
Bantuan BigShoe Pulihkan Penglihatan, Anak Rwanda Kembali Berani Bermimpi
Perubahan mulai terjadi setelah Biringiro memperoleh perawatan mata melalui bantuan BigShoe. Penglihatannya membaik hingga dia mampu membaca tulisan di papan tulis dari bagian belakang ruang kelas.
“Lalu, berkat BigShoe, saya mendapatkan perawatan mata yang saya butuhkan. Hari ini, saya bisa membaca tulisan di papan tulis, bahkan dari bagian belakang kelas. Namun, yang lebih penting, saya tidak perlu lagi khawatir merasa berbeda. Saya bisa kembali menikmati masa kecil sebagai seorang anak. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, saya bersemangat menatap masa depan. Suatu hari nanti, saya ingin menjadi guru bahasa Inggris,” lanjut surat tersebut.
Biringiro juga menyampaikan keyakinannya untuk mewujudkan cita-cita setelah melihat orang-orang yang hadir dalam acara Ballon d’Or berhasil meraih impian masa kecil mereka.
“Saya tahu banyak dari kalian yang hadir malam ini telah mewujudkan impian masa kecil. Sekarang, saya percaya saya juga bisa meraih impian saya. Semoga Tuhan memberkati kalian semua dengan berlimpah. Dengan cinta dan rasa syukur, Biringiro. Terima kasih.”
Setelah menuntaskan pembacaan surat itu, Saka kembali menyampaikan rasa terima kasih atas penghargaan yang diterimanya. Dia menegaskan penghargaan tersebut bukan hanya untuk dirinya, melainkan juga untuk anak-anak yang telah menerima bantuan.
“Bagi saya, merupakan suatu kehormatan bisa berada di sini, dan merupakan kehormatan menerima penghargaan ini atas nama semua anak yang telah berhasil kami bantu. Terima kasih,” kata Saka.
Socrates Award diberikan kepada sosok yang berkontribusi dalam kegiatan kemanusiaan dan menggunakan pengaruhnya untuk membantu masyarakat. Penghargaan tersebut pertama kali diperkenalkan pada 2022 dan mengambil nama dari legenda sepak bola Brasil, Socrates, yang dikenal karena perlawanannya terhadap rezim militer di negaranya serta perjuangannya memperbaiki perlakuan terhadap pesepak bola.
Saka menjadi pemain Inggris pertama yang memenangkan penghargaan tersebut. Sebelumnya, Sadio Mane meraih gelar perdana pada 2022 berkat kontribusi amalnya di Senegal, sedangkan Vinicius Junior mendapatkannya pada 2023 atas kegiatan sosial di Brasil dan upayanya melawan rasisme.
Pada 2024, Jennifer Hermoso menjadi perempuan pertama yang memenangkan Socrates Award. Dia mendapat pengakuan atas upayanya meningkatkan kesadaran mengenai pelecehan seksual setelah insiden ciuman tanpa persetujuan yang melibatkan mantan Presiden Federasi Sepak Bola Spanyol, Luis Rubiales, seusai Spanyol menjuarai Piala Dunia Wanita.
Setahun kemudian, Luis Enrique menerima penghargaan tersebut berkat kiprahnya melalui Xana Foundation. Yayasan itu didirikan setelah putrinya yang berusia enam tahun, Xana, meninggal dunia dan berfokus membantu anak-anak yang menderita penyakit serius beserta keluarga mereka.
Kemenangan Saka pada Ballon d’Or 2026 menambah daftar pesepak bola yang menggunakan pengaruhnya untuk kegiatan sosial. Namun, perhatian dalam pidatonya kali ini juga tertuju pada kisah Biringiro, yang menggambarkan bagaimana akses terhadap perawatan medis dapat membantu seorang anak kembali menikmati masa kecil dan menatap masa depan dengan optimisme.










