Bukan Sekadar Olahraga, Yasha Chatab Ungkap Makna Lari Lewat Buku Lari dari Kenyataan
JAKARTA, iNews.id - Buku Lari dari Kenyataan karya Yasha Chatab resmi diluncurkan di Jakarta Running Festival (JRF) 2026, Istora Senayan, Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta, Kamis (22/10/2026). Buku terbitan Alitra ini mengangkat refleksi tentang perjalanan berlari, kehidupan, komunitas, hingga perubahan budaya lari di Indonesia.
Berbeda dari buku panduan olahraga yang berfokus pada kecepatan dan pencapaian waktu, Lari dari Kenyataan mengajak pembaca melihat lari dari sudut pandang yang lebih luas. Buku ini membahas alasan seseorang memilih berlari serta pengalaman personal yang tumbuh selama menjalani aktivitas tersebut.
Yasha merangkum pengalamannya selama lebih dari 17 tahun berkecimpung di dunia lari. Dia mengulas bagaimana aktivitas yang awalnya identik dengan olahraga berkembang menjadi bagian dari gaya hidup, sekaligus membentuk komunitas dan ekosistem yang semakin besar di Indonesia.
Sebagai salah satu pendiri IndoRunners, Yasha telah ikut mendorong perkembangan olahraga lari sejak 2008. Perjalanannya memberikan perspektif mengenai perubahan budaya lari, mulai dari aktivitas individu hingga kegiatan bersama yang melibatkan banyak orang.
Latar belakang Yasha di bidang pencitraan merek, hubungan masyarakat, dan media turut memengaruhi cara dia memandang perkembangan dunia lari. Dia tidak hanya melihatnya dari perspektif pelari, tetapi juga dari sisi komunitas, industri, merek, dan budaya yang tumbuh di sekitarnya.
Pandangan tersebut menjadi salah satu benang merah dalam buku ini. Lari tidak selalu berkaitan dengan target kecepatan, jarak tempuh, atau pencapaian prestasi. Bagi sebagian orang, aktivitas ini juga menjadi ruang untuk membangun hubungan sosial, mengambil jeda dari rutinitas, dan memahami diri sendiri.
Dee Lestari Soroti Makna Lari yang Lebih Dalam
Penulis Dee Lestari turut memberikan pandangannya mengenai pesan yang dibawa Lari dari Kenyataan. Menurut dia, buku tersebut mengajak pembaca memaknai lari secara lebih sadar, bukan semata-mata sebagai aktivitas fisik.
"Bahwa tidak semua orang harus berlari. Buku "Lari dari Kenyataan" justru menarik karena mengajak kita melihat lari dengan lebih mindfull alias bukan sekadar bergerak, tapi berhenti sejenak, hadir, bertemu orang lain, dan mungkin menemukan diri sendiri," ujar Dee Lestari.
Pemilihan Jakarta Running Festival 2026 sebagai lokasi peluncuran juga berkaitan dengan tema yang diangkat dalam buku tersebut. Festival yang berlangsung pada 22–25 Oktober 2026 itu menghadirkan lari sebagai bagian dari perayaan yang lebih luas, dengan melibatkan komunitas dan berbagai aktivitas di sepanjang rangkaian acara.
Sekitar 300 komunitas turut terlibat dalam kegiatan Jakarta Running Festival. Keterlibatan tersebut memperlihatkan besarnya peran komunitas dalam ekosistem lari, mulai dari mempertemukan para pelari hingga membangun hubungan di antara mereka.
Jakarta Running Festival yang diselenggarakan KLAB juga memiliki kaitan dengan gagasan dalam Lari dari Kenyataan. Ajang ini menggambarkan bagaimana semangat sejumlah pelari senior yang telah lama menekuni olahraga tersebut berkembang menjadi perhelatan berskala internasional, tanpa meninggalkan kedekatan antarpelari dan nilai kebersamaan.
Bagi Yasha, alasan seseorang berlari tidak selalu sama. Ada orang yang menjadikan lari sebagai cara menjaga kesehatan, sementara yang lain mencari teman, komunitas, atau tantangan untuk mencapai target pribadi.
Sebagian pelari juga membutuhkan waktu untuk diri sendiri di tengah tekanan pekerjaan dan rutinitas sehari-hari. Ada pula yang terus berlari tanpa sepenuhnya memahami alasan di balik kebiasaan tersebut.
Melalui Lari dari Kenyataan, Yasha menghadirkan beragam kemungkinan itu sebagai bahan refleksi. Buku ini tidak menawarkan satu jawaban untuk semua orang, melainkan membuka ruang bagi pembaca untuk memahami hubungan mereka sendiri dengan aktivitas lari, kehidupan, dan komunitas yang menyertainya.









