Perbedaan Penanganan GERD, Batu Empedu dan Kanker Usus

Perbedaan Penanganan GERD, Batu Empedu dan Kanker Usus

Gaya Hidup | inews | Selasa, 20 Oktober 2026 - 23:45
share

JAKARTA, iNews.id - Penanganan gangguan pencernaan seperti gastroesophageal reflux disease (GERD), batu empedu, dan kanker usus tidak bisa disamakan. Meski sama-sama berkaitan dengan sistem pencernaan, ketiganya membutuhkan pemeriksaan dan terapi berbeda, mulai dari perubahan gaya hidup dan obat-obatan hingga tindakan operasi.

Keluhan seperti sakit perut berulang, asam lambung naik, dan perubahan pola buang air besar kerap dianggap sebagai masalah kesehatan biasa. Namun, jika gejala terus muncul atau tidak kunjung membaik, pemeriksaan medis diperlukan untuk mengetahui penyebabnya.

Dokter spesialis bedah digestif Bethsaida Gading Serpong, dr. Eko Priatno, Sp.B, Subsp.BD(K), menjelaskan operasi bukan pilihan pertama untuk semua gangguan pencernaan. Penanganan harus ditentukan berdasarkan diagnosis, tingkat keparahan penyakit, dan kondisi pasien.

“Tidak semua gangguan pencernaan memerlukan operasi. Kami terlebih dahulu mencari penyebab keluhan dan mengevaluasi kondisi pasien, kemudian menentukan terapi yang paling sesuai. Tujuannya bukan hanya menangani penyakit, tetapi juga menjaga kualitas hidup pasien,” ujar dr Eko.

1. GERD, Penanganan Dimulai dari Perubahan Gaya Hidup

GERD merupakan kondisi ketika isi lambung naik kembali ke kerongkongan dan menimbulkan gejala, seperti sensasi terbakar di dada atau rasa asam di mulut. Keluhan ini dapat berulang dan mengganggu aktivitas sehari-hari.

Penanganan GERD umumnya dimulai dengan perubahan gaya hidup dan pemberian obat sesuai anjuran dokter. Pasien dapat diminta mengatur pola makan, menghindari makanan atau minuman pemicu, serta tidak langsung berbaring setelah makan.

Jika gejala tetap muncul meski pengobatan telah dilakukan secara optimal, dokter dapat mengevaluasi kemungkinan tindakan antirefluks. Namun, prosedur tersebut hanya dipertimbangkan berdasarkan hasil pemeriksaan dan kondisi pasien.

2. Batu Empedu, Operasi Bisa Diperlukan

Berbeda dengan GERD, batu empedu merupakan kondisi ketika material dalam cairan empedu mengeras dan membentuk batu di kantong empedu. Sebagian pasien tidak mengalami gejala, tetapi batu yang menyumbat saluran empedu dapat menimbulkan nyeri dan komplikasi.

Jika batu empedu menimbulkan keluhan atau komplikasi, dokter dapat mempertimbangkan operasi pengangkatan kantong empedu. Salah satu metode yang dapat digunakan adalah laparoskopi, yaitu prosedur dengan sayatan kecil.

Pada pasien tertentu, laparoskopi dapat membantu mempercepat pemulihan dibandingkan operasi terbuka. Meski demikian, pemilihan tindakan tetap mempertimbangkan kondisi pasien dan tingkat kesulitan kasus.

3. Kanker Usus, Penanganan Berdasarkan Kondisi Tumor

Kanker usus besar membutuhkan pendekatan yang berbeda karena berkaitan dengan pertumbuhan sel kanker. Gejala yang perlu diperhatikan antara lain perubahan pola buang air besar yang menetap, darah pada tinja, sakit perut, dan penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas.

Gejala tersebut tidak selalu menunjukkan kanker. Namun, pemeriksaan diperlukan untuk mengetahui penyebabnya, terutama jika keluhan menetap atau disertai tanda bahaya.

Dokter dapat merekomendasikan kolonoskopi untuk mengevaluasi kondisi usus besar dan mengambil sampel jaringan jika ditemukan kelainan. Setelah diagnosis dipastikan, penanganan ditentukan berdasarkan lokasi tumor, tingkat penyebaran, serta kondisi pasien.

Operasi dapat menjadi salah satu pilihan untuk mengangkat jaringan kanker. Pada kondisi tertentu, pasien juga membutuhkan terapi lain, seperti kemoterapi atau radioterapi, sesuai jenis dan stadium penyakit.

Sementara itu, kanker rektum atau kanker yang tumbuh di bagian akhir usus besar sebelum anus membutuhkan perencanaan tindakan yang mempertimbangkan pengangkatan kanker sekaligus fungsi organ.

Salah satu prosedur yang dapat dipertimbangkan pada pasien terpilih adalah Intersphincteric Resection (ISR). Teknik ini bertujuan mengangkat kanker dengan tetap mempertahankan fungsi anus apabila kondisi medis memungkinkan.

“Pada kanker rektum, kami berupaya mempertahankan fungsi organ bila kondisi memungkinkan. Namun, keamanan pasien dan pengangkatan kanker sesuai prinsip medis tetap menjadi prioritas,” ujar dr Eko.

Tidak semua pasien kanker rektum memenuhi kriteria untuk menjalani prosedur ISR. Keputusan tindakan harus didasarkan pada lokasi dan karakteristik tumor, serta hasil evaluasi tim medis.

Pemeriksaan Menentukan Pilihan Terapi

Untuk menentukan penanganan yang tepat, dokter dapat menyarankan pemeriksaan sesuai gejala dan dugaan penyakit. Pemeriksaan tersebut meliputi endoskopi, kolonoskopi, serta pencitraan medis seperti CT scan atau MRI.

Nyeri perut berulang, asam lambung yang tidak membaik, dan perubahan pola buang air besar yang menetap sebaiknya tidak diabaikan. Segera cari pertolongan medis jika sakit perut terasa sangat hebat atau mendadak, disertai muntah darah, BAB berdarah atau hitam, maupun pingsan.

Perbedaan penanganan GERD, batu empedu, dan kanker usus menunjukkan pentingnya diagnosis yang akurat. Dengan pemeriksaan yang tepat, dokter dapat menentukan apakah pasien membutuhkan perubahan gaya hidup, pengobatan, pemeriksaan lanjutan, atau tindakan operasi.

Topik Menarik