BRIN Uji Efektivitas Dry Ice untuk Atasi Asap Karhutla, Begini Cara Kerjanya

BRIN Uji Efektivitas Dry Ice untuk Atasi Asap Karhutla, Begini Cara Kerjanya

Terkini | inews | Senin, 19 Oktober 2026 - 11:34
share

JAKARTA, iNews.id - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mendukung evaluasi ilmiah penggunaan es kering atau dry ice dalam operasi modifikasi cuaca untuk membantu penanggulangan kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Teknologi ini tengah diuji untuk mengetahui kemampuannya memengaruhi kestabilan atmosfer yang dapat menghambat pergerakan asap dan pertumbuhan awan hujan.

Tebalnya kabut asap akibat karhutla tidak hanya dipengaruhi luas dan intensitas kebakaran, tetapi juga kondisi atmosfer yang menyebabkan asap tertahan di dekat permukaan bumi.

Perekayasa Utama Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air BRIN, Florentinus Heru Widodo mengatakan kondisi atmosfer di wilayah terdampak karhutla menjadi tantangan tersendiri dalam pelaksanaan operasi modifikasi cuaca.

Dalam kondisi atmosfer normal, suhu udara umumnya menurun seiring bertambahnya ketinggian. Kondisi tersebut memungkinkan udara hangat di dekat permukaan bergerak naik melalui proses konveksi sehingga mendukung pertumbuhan awan.

Namun, ketika terjadi inversi suhu, terdapat lapisan udara yang lebih hangat di atas lapisan udara yang lebih dingin. Kondisi ini menghambat pergerakan vertikal udara sehingga pertumbuhan awan menjadi lebih sulit dan asap berpotensi terakumulasi di dekat permukaan.

“Lapisan inversi ini dapat diibaratkan sebagai penutup yang menghambat pergerakan udara ke atas. Akibatnya, asap dari kebakaran sulit menyebar secara vertikal dan semakin terkonsentrasi di dekat permukaan. Pada saat yang sama, kondisi atmosfer yang stabil juga menghambat pertumbuhan awan hujan,” kata Heru dikutip dari laman resmi BRIN, Senin (19/10/2026).

Menurut Heru, salah satu pendekatan yang tengah dicoba oleh tim terpadu dalam operasi modifikasi cuaca adalah penyemaian es kering atau karbon dioksida padat.

Berbeda dengan penyemaian awan yang bertujuan meningkatkan peluang turunnya hujan pada awan dengan kondisi yang sesuai, penggunaan es kering dalam kajian ini diarahkan untuk menguji kemungkinan perubahan kondisi termal pada lapisan inversi.

Es kering memiliki suhu sekitar minus 78,5 derajat Celsius. Ketika dilepaskan ke atmosfer, bahan tersebut mengalami sublimasi, yakni perubahan dari fase padat menjadi gas, sambil menyerap panas dari lingkungan sekitarnya.

“Penggunaan es kering diharapkan dapat menimbulkan pendinginan lokal dan memengaruhi kestabilan udara pada lapisan inversi. Namun, mekanisme ini masih merupakan hipotesis ilmiah. Kita harus menguji apakah perubahan yang dihasilkan benar-benar cukup untuk melemahkan inversi dan mendukung pertumbuhan awan,” ujarnya.

Heru menegaskan, efektivitas metode tersebut tidak bisa disimpulkan hanya berdasarkan perkiraan mekanisme pendinginan. Pengujian harus didukung pengamatan dan analisis data atmosfer untuk mengetahui apakah penyemaian es kering benar-benar menghasilkan perubahan yang diharapkan.

Dalam mendukung evaluasi operasi, BRIN dapat menganalisis data pengamatan atmosfer yang dikumpulkan oleh instansi pelaksana operasi dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Data tersebut meliputi profil suhu udara secara vertikal, kelembapan, ketinggian dan ketebalan lapisan inversi, serta parameter kestabilan atmosfer.

Pengamatan sebelum, selama, dan sesudah penyemaian juga perlu dilakukan secara sistematis. Dengan demikian, perubahan kondisi udara dapat didokumentasikan dan dibandingkan untuk membantu menilai efektivitas teknologi tersebut.

Menurut Heru, pendekatan berbasis data sangat penting karena efektivitas teknologi modifikasi cuaca dipengaruhi kondisi atmosfer saat operasi berlangsung. Analisis juga diperlukan untuk membedakan perubahan yang berkaitan dengan penyemaian dari perubahan yang disebabkan dinamika cuaca lainnya.

“Kita ingin memastikan bahwa setiap teknologi yang digunakan dalam penanggulangan bencana memiliki dasar ilmiah yang kuat. Data pengamatan menjadi kunci untuk mengetahui apakah perlakuan yang diberikan benar-benar mempengaruhi lapisan inversi, atau apakah perubahan kondisi yang terjadi juga dipengaruhi dinamika cuaca lainnya,” pungkasnya.

Topik Menarik