Ada Udang di Balik Batu, Ini Tujuan Israel Tawarkan Bantu Saudi Lawan Houthi

Ada Udang di Balik Batu, Ini Tujuan Israel Tawarkan Bantu Saudi Lawan Houthi

Terkini | inews | Rabu, 14 Oktober 2026 - 12:24
share

RIYADH, iNews.id - Israel ternyata memiliki kepentingan tersendiri di balik tawaran bantuan militer kepada Arab Saudi untuk menghadapi kelompok Houthi Yaman. Di balik upaya melawan milisi yang didukung Iran tersebut, Israel berharap kerja sama militer dengan Riyadh bisa membuka jalan menuju normalisasi hubungan diplomatik kedua negara.

Namun, harapan Israel itu ditolak mentah-mentah dari Arab Saudi. Putra Mahkota Mohammed bin Salman (MBS) dilaporkan tidak tertarik menerima bantuan militer Israel, meski Amerika Serikat (AS) turut campur tangan untuk melobi Riyadh.

Surat kabar Israel, Haaretz, mengutip sumber pejabat Israel, melaporkan pemerintah Israel ingin memanfaatkan kerja sama menghadapi Houthi untuk memperkuat hubungan bilateral dengan Arab Saudi. Langkah tersebut diharapkan menjadi pintu masuk bagi normalisasi hubungan di bawah Perjanjian Abraham yang diinisasi Presiden AS Donald Trump.

Dengan kata lain, tawaran bantuan Israel tidak semata-mata berkaitan dengan ancaman keamanan dari Houthi. Israel juga berupaya mendorong terobosan diplomatik dengan salah satu negara paling berpengaruh di dunia Arab tersebut.

Upaya itu bukan perkara mudah. Arab Saudi tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Israel dan tetap menegaskan bahwa normalisasi hubungan hanya dapat terwujud jika Palestina merdeka.

Sumber pejabat Israel lainnya mengatakan, kerja sama militer dengan Arab Saudi berpotensi memperkuat hubungan kedua negara. Namun, Riyadh menyadari bahwa langkah tersebut dapat memicu reaksi keras, bukan hanya dari publik internasional, melainkan juga dari masyarakat di dalam negeri.

Penolakan MBS menunjukkan bahwa meningkatnya ancaman keamanan dari Houthi belum cukup untuk mengubah sikap politik Arab Saudi terhadap Israel.

Laporan mengenai tawaran Israel itu muncul di tengah meningkatnya serangan Houthi ke wilayah Arab Saudi. Salah satu sasaran serangan adalah Bandara Internasional King Khalid di Riyadh, yang dalam laporan tersebut disebut menewaskan sedikitnya 15 orang dan melukai ratusan lainnya.

Serangan-serangan tersebut menambah tekanan terhadap pemerintah Saudi untuk melindungi wilayahnya dari ancaman militer Houthi. Meski demikian, Riyadh memilih tidak menerima tawaran bantuan Israel, yang berpotensi menimbulkan persoalan diplomatik dan politik lebih luas.

Eskalasi konflik Saudi-Houthi kembali meningkat pada Juli lalu, setelah kedua pihak mencapai kesepakatan gencatan senjata yang dimediasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada April 2022.

Sebelumnya, Arab Saudi memimpin koalisi militer yang terlibat dalam konflik Yaman sejak Maret 2015. Operasi tersebut bertujuan memulihkan pemerintahan Yaman yang diakui secara internasional, setelah kelompok Houthi menggulingkannya pada 2014.

Di tengah meningkatnya ancaman tersebut, Israel melihat peluang untuk menawarkan kerja sama keamanan kepada Riyadh. Akan tetapi, kepentingan strategis Israel untuk memperluas hubungan diplomatik di kawasan berhadapan dengan syarat utama Arab Saudi: kemerdekaan Palestina.

Topik Menarik