Anak Mulai Cemas Melihat Berita Bencana Setiap Hari? Begini Cara Orang Tua Meresponsnya
JAKARTA, iNews.id – Berita banjir, tanah longsor, kebakaran hutan, hingga kerusakan lingkungan yang muncul berulang kali bisa memunculkan pertanyaan sekaligus kekhawatiran pada anak.
Ketika anak mulai bertanya apakah bencana serupa akan terjadi di tempat tinggal mereka atau bagaimana nasib Bumi di masa depan, orang tua perlu merespons dengan tepat agar informasi yang diterima tidak justru memicu ketakutan berlebihan.
Psikiater anak dan remaja dr. Fransiska Kaligis, Sp.KJ(K) mengingatkan pentingnya menyesuaikan penjelasan tentang persoalan lingkungan dengan usia dan kemampuan anak dalam memahami informasi. Orang tua perlu menyampaikan fakta secara jujur, tetapi tidak dengan cara yang menakut-nakuti.
Menurut psikiater yang akrab disapa dr. Cika tersebut, anak sebaiknya diajak berdiskusi agar memiliki ruang untuk menyampaikan pertanyaan dan memahami persoalan yang sedang terjadi.
"Sebenarnya (membahas isu lingkungan dengan anak ini) susah-susah gampang, mungkin kita bisa sesuaikan dengan usia dan kemampuan anak mencerna," ujar dr Cika dalam sesi diskusi 'Dari Buku Ke Perubahan: Buku Anak, Ecocritical Literacy, dan Aksi Bersama' yang digelar Rintik Publishing (PT GTS Literanesia Adabi) di panggung Children Book Festival, Indonesia International Book Fair (IIBF) 2026, belum lama ini.
"Misal, bahasanya kita sesuaikan, jujur apa adanya, sampaikan bukan dengan menakut-nakuti, tetapi kita ajak anak berdiskusi, 'Apa ya yang bisa kita lakukan?', dan buku bisa menjadi media yang baik untuk memperkenalkan isu kompleks agar lebih mudah dicerna," ujar dr. Cika.
Pendekatan tersebut membantu orang tua mengarahkan percakapan dari sekadar paparan tentang bencana menuju pemahaman mengenai hal-hal yang dapat dilakukan. Anak tidak harus mengetahui seluruh kerumitan persoalan lingkungan sekaligus, terlebih jika informasi tersebut belum sesuai dengan tahap perkembangannya.
Orang tua juga dapat mendengarkan terlebih dahulu apa yang membuat anak khawatir. Jika anak bertanya tentang bencana yang dilihatnya dalam berita, misalnya, orang tua bisa menjelaskan kejadian tersebut sesuai fakta yang diketahui dan konteksnya, tanpa membuat generalisasi bahwa bencana serupa pasti akan menimpa mereka.
Jangan Membuat Anak Merasa Harus Menyelamatkan Bumi Sendirian
Persoalan lingkungan tidak berdiri sendiri. Perubahan iklim, pencemaran, dan kerusakan ekosistem berkaitan dengan berbagai faktor, mulai dari perilaku manusia hingga kondisi sosial-ekonomi dan kebijakan. Karena itu, anak perlu memahami persoalan tersebut secara bertahap, tanpa merasa bertanggung jawab menyelesaikan semuanya.
Mengenalkan kepedulian terhadap lingkungan bukan berarti membebani anak dengan rasa bersalah. Sebaliknya, orang tua dapat menunjukkan bahwa menjaga lingkungan merupakan tanggung jawab bersama yang melibatkan keluarga, masyarakat, dan berbagai pihak lainnya.
Pendiri Sekolah Cinta Anak Indonesia (Sekoci), Ajeng Satiti Ayuningtyas, menekankan bahwa pendidikan lingkungan tidak cukup hanya melalui penjelasan atau teori. Anak juga belajar dari perilaku yang dilihatnya dalam kehidupan sehari-hari.
Kebiasaan sederhana, seperti memilah sampah dan mematikan lampu ketika tidak digunakan, dapat menjadi contoh konkret bagi anak tentang bagaimana kepedulian diwujudkan melalui tindakan.
Melalui kegiatan tersebut, anak dapat memahami bahwa ada hal-hal yang bisa dilakukan sesuai kemampuan mereka. Orang tua pun tidak perlu selalu memberikan penjelasan panjang tentang persoalan lingkungan, tetapi dapat mengajak anak terlibat dalam kebiasaan positif secara konsisten.
Ajeng juga menyoroti pentingnya komunitas literasi sebagai ruang bagi orang tua, khususnya ibu, untuk bertukar informasi dan pengalaman. Dukungan komunitas dapat membantu orang tua merasa lebih percaya diri dalam mengenalkan nilai-nilai kepedulian lingkungan kepada anak.
Cerita Bergambar Membantu Anak Memahami Persoalan Lingkungan
Selain percakapan di rumah, buku anak dapat menjadi media untuk menjelaskan persoalan lingkungan yang rumit melalui cerita dan ilustrasi. Dengan pendekatan ini, anak tidak hanya menerima informasi, tetapi juga dapat mengamati hubungan sebab-akibat melalui situasi yang digambarkan.
Editor buku 'Pulihkan Kembali: Kisah Dua Kota, Satu Sungai, dan Harapan untuk Bumi', Ahliana Afifati Sani, menjelaskan bahwa elemen visual dapat membantu anak memahami keterhubungan antara manusia dan lingkungan.
Buku tersebut merupakan edisi bahasa Indonesia dari 'Turn It Around' karya Jenny Molendyk Divleli dan Somaye Mohamady. Ceritanya menggambarkan dua kota yang dipisahkan oleh sebuah sungai, tetapi tetap terhubung melalui dampak yang ditimbulkan oleh aktivitas manusia.
Dalam buku itu, ruang kosong atau white space di antara kedua kota berubah seiring memburuknya kondisi lingkungan. Ketika pemulihan mulai terjadi, ruang tersebut bergerak kembali ke arah berlawanan.
Teknik yang disebut dynamic negative space ini membuat perubahan lingkungan yang abstrak menjadi lebih mudah diamati melalui ilustrasi.
"Anak-anak akan melihat bahwa apa yang kita suarakan dan upayakan dapat membawa dampak nyata. Dalam buku ini, pergeseran white space menggambarkan bagaimana upaya kolektif dapat mengembalikan keseimbangan yang sempat terganggu," tutur Ahliana.
Cerita tentang sungai juga dapat digunakan untuk menjelaskan mengapa persoalan lingkungan bisa berdampak pada orang yang tinggal jauh dari sumber masalah. Sampah atau zat pencemar yang dibuang di hulu, misalnya, dapat terbawa aliran air menuju hilir dan memengaruhi wilayah lain.
Pemahaman semacam ini berkaitan dengan konsep environmental justice atau keadilan lingkungan, yakni bagaimana dampak persoalan lingkungan dapat dirasakan oleh kelompok atau masyarakat yang berbeda.
Berdasarkan teori perkembangan Jean Piaget, anak usia 7–10 tahun umumnya berada pada tahap operasional konkret. Pada tahap ini, mereka mulai mampu memahami hubungan sebab-akibat melalui contoh yang nyata. Cerita dan ilustrasi dapat membantu mengenalkan konsep tersebut sebelum anak mempelajari persoalan lingkungan yang lebih kompleks.
Pembicaraan tentang bencana dan kerusakan lingkungan pada akhirnya tidak harus dihindari dari kehidupan anak. Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana orang tua menyampaikan informasi, mendengarkan kekhawatiran mereka, dan membantu memahami bahwa ada upaya yang bisa dilakukan bersama.
Dengan pendampingan yang sesuai, anak dapat belajar mengenali persoalan lingkungan tanpa harus memikul beban untuk menyelesaikannya sendiri.










