Alex Rins Dapat Ancaman Pembunuhan usai Acungkan Jari Tengah di MotoGP Mandalika 2026

Alex Rins Dapat Ancaman Pembunuhan usai Acungkan Jari Tengah di MotoGP Mandalika 2026

Olahraga | inews | Minggu, 11 Oktober 2026 - 06:00
share

LOMBOK, iNews.id – Alex Rins mendapat ancaman pembunuhan dari penggemar setelah terlibat keributan dengan marshal atau petugas lintasan di MotoGP Mandalika 2026. Pembalap Yamaha tersebut menjadi sorotan setelah videonya mengacungkan jari tengah kepada petugas beredar di media sosial.

Insiden tersebut terjadi seusai sesi latihan pada Jumat (9/10/2026). Rins terlihat terlibat perdebatan panas dengan sejumlah marshal setelah mengalami kecelakaan di lintasan.

Pembalap asal Spanyol itu akhirnya memberikan penjelasan pada Sabtu (10/10/2026), setelah sprint race. Dia mengaku terjadi kesalahpahaman dengan seorang marshal ketika berusaha kembali ke garasi tim Yamaha.

Rins menjelaskan seorang marshal memintanya naik ke skuter. Dia mengira petugas tersebut akan mengantarnya kembali ke paddock. Namun, setelah itu, dia justru diberi tahu perjalanan menuju paddock tidak bisa dilakukan menggunakan skuter tersebut.

Situasi tersebut memicu reaksi emosional Rins hingga mengacungkan jari tengah kepada marshal. Tindakannya menuai kritik dari penggemar MotoGP dan membuat dia harus memberikan penjelasan kepada pengawas balapan atau steward.

Menurut Rins, para steward sempat terkejut setelah mendengar penjelasannya mengenai kejadian sebenarnya. Dia kemudian mengakui sikapnya tidak pantas dan menyampaikan permintaan maaf secara terbuka.


Sudah Minta Maaf, tetapi Terima Ancaman Pembunuhan

Melalui akun X pada Sabtu sore, Rins menjelaskan kronologi insiden sekaligus meminta maaf atas tindakannya terhadap petugas lintasan.

"Saya ingin menjelaskan apa yang terjadi kemarin setelah kecelakaan saya. Ada kesalahpahaman dengan seorang marshal ketika saya berusaha kembali ke garasi," tulis Rins.

"Itu adalah momen yang penuh tekanan dan saya bereaksi dengan cara yang seharusnya tidak saya lakukan," lanjutnya.

Rins menyadari gestur tersebut tidak pantas ditunjukkan seorang pembalap profesional, terutama karena banyak penggemar muda menyaksikan MotoGP. Dia juga menegaskan tetap menghormati para marshal yang bertugas di lintasan.

"Saya meminta maaf atas gestur saya. Itu tidak benar, terutama karena saya tahu ada penggemar muda yang menyaksikan kami. Saya sangat menghormati para marshal dan pekerjaan yang mereka lakukan," ujarnya.

Namun, persoalan tersebut ternyata tidak berhenti pada kritik. Rins mengungkapkan dirinya menerima pesan-pesan bernada kekerasan, bahkan ancaman pembunuhan, setelah insiden itu menjadi perhatian publik.

"Namun, saya juga menerima sejumlah komentar yang sangat serius, termasuk yang menyebut kematian dan kekerasan," tulisnya.

"Saya memahami mengapa orang-orang marah atas reaksi saya, tetapi ancaman dan pelecehan tidak boleh dianggap dapat diterima," lanjut Rins.

Pembalap Yamaha itu menegaskan setiap orang bisa melakukan kesalahan. Dia pun menyatakan siap bertanggung jawab atas sikapnya terhadap marshal.

"Kita semua bisa melakukan kesalahan dan saya bertanggung jawab atas kesalahan saya," tegasnya.


Teror terhadap Pembalap Juga Terjadi di Formula 1

Ancaman pembunuhan yang diterima Alex Rins menambah daftar kasus pelecehan terhadap pembalap melalui media sosial. Hingga laporan tersebut diterbitkan, MotoGP belum memberikan komentar resmi mengenai ancaman yang diterima Rins.

Persoalan serupa sebelumnya terjadi di Formula 1. Basis penggemar pembalap Argentina, Franco Colapinto, sempat menjadi sorotan akibat gelombang serangan terhadap sejumlah pembalap melalui media sosial.

Rekan setim Colapinto di Alpine, Pierre Gasly, mengungkapkan keluarganya dan sang kekasih pernah menerima ancaman pembunuhan setelah insiden pada Grand Prix Spanyol.

Lando Norris juga menjadi sasaran serangan setelah melontarkan kritik terhadap Colapinto. Dia menilai pembalap Argentina tersebut tidak layak berada di Formula 1 dan seharusnya dijatuhi larangan mengikuti satu balapan setelah kecelakaan di Azerbaijan.

Sementara itu, Esteban Ocon menerima ancaman seusai bertabrakan dengan Colapinto di China. Colapinto sendiri pernah menjadi korban pelecehan setelah terlibat insiden dengan Ollie Bearman pada Grand Prix Jepang.

Kasus serupa juga pernah terjadi di MotoGP. Marc Marquez harus menenangkan para penggemarnya pada Oktober tahun sebelumnya setelah Marco Bezzecchi menerima gelombang komentar kasar akibat kecelakaan yang menyebabkan sang juara dunia mengalami cedera.

Kejuaraan balap motor dan mobil sejauh ini memiliki keterbatasan dalam menghadapi pelecehan di media sosial. Selain memblokir akun tertentu, belum banyak langkah yang dapat dilakukan untuk mengatasi ancaman semacam ini secara memadai.

Karena itu, diperlukan upaya bersama secara global agar ancaman kekerasan terhadap pembalap mendapatkan konsekuensi serius. Kasus Alex Rins di MotoGP Mandalika kembali memperlihatkan persoalan tersebut masih menjadi tantangan besar bagi dunia balap.

Topik Menarik