Kemenkes Integrasikan Tracing TB dengan Cek Kesehatan Gratis, Masyarakat Dapat Pemeriksaan dan Edukasi Pencegahan

Kemenkes Integrasikan Tracing TB dengan Cek Kesehatan Gratis, Masyarakat Dapat Pemeriksaan dan Edukasi Pencegahan

Gaya Hidup | inews | Kamis, 8 Oktober 2026 - 15:50
share

JAKARTA, iNews.id - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) memperkuat upaya penemuan dan pencegahan Tuberkulosis (TB) melalui Tracing TB yang terintegrasi dengan Cek Kesehatan Gratis (CKG). Pelaksanaan kegiatan berlangsung di Aula Masjid Hikmatul Ilmi, Kramat Jati, Jakarta Timur, Rabu (7/10/2026).

Masyarakat yang merupakan kontak erat pasien TB yang tengah menjalani pengobatan dihadirkan untuk melakukan skrining TB berupa pemeriksaan X-ray portable untuk membantu mendeteksi kondisi paru secara lebih komprehensif. Selain itu, dilakukan pengukuran berat dan tinggi badan, cek tekanan, gula, dan lemak darah, serta pemeriksaan mata dan kesehatan lainnya, di samping mendapatkan edukasi mengenai TB, mulai dari langkah pencegahan, risiko penularan, hingga pentingnya pengobatan sampai tuntas.

“Pencegahan TB dimulai dari rumah sendiri. Kontak serumah merupakan salah satu sasaran pencegahan supaya penularan tidak terjadi di dalam rumah, apalagi sampai ke luar rumah. Karena itu, seluruh keluarga pasien diharapkan dapat ikut diperiksa,” ujar Yunita Wulandari, Kepala Satuan Pelaksana Upaya Kesehatan Masyarakat Puskesmas Kramat Jati.

Ia juga mengimbau masyarakat yang menjadi kontak serumah maupun kontak erat pasien TB untuk mengikuti skrining dan tidak menunda pemeriksaan.

“Kalau bapak ibu adalah kontak serumah atau kontak erat dengan pasien TB dan diberikan obat terapi pencegahan Tuberkulosis (TPT).  Harus diminum sesuai anjuran dokter supaya tercegah dari penularan TB,” katanya.

Melalui integrasi skrining TB dengan CKG, masyarakat mendapat lebih banyak manfaat, selain mengetahui status TB lebih dini dan memperoleh tindak lanjut, namun juga bisa mendapatkan berbagai pemeriksaan kesehatan lainnya secara gratis. Tahun ini, tracing TB terintegrasi dengan CKG dilakukan secara serentak di 53.335 lokus di 38 provinsi di Indonesia.

“Menurut saya skrining ini bagus buat kita, karena kita bisa tahu kondisi kesehatan lebih awal. Kita juga dapat ilmu tentang cara mencegah penyakit TB, jadi kita tahu apa yang harus dilakukan untuk menjaga kesehatan,” ujar Widati, istri dari penyintas TB yang mengikuti kegiatan tracing TB terintegrasi CKG.

Bagi masyarakat yang hasil skriningnya mengarah pada dugaan TB aktif, maka pemeriksaan dilanjutkan untuk memastikan diagnosis tersebut. Pasien yang selanjutnya terkonfirmasi akan mendapatkan pengobatan sampai tuntas. Sementara kontak erat atau kelompok berisiko yang tidak mengarah pada TB aktif dan memenuhi kriteria diberikan TPT untuk pencegahan.

“Karena saya serumah dengan pasien TB, saya juga mengikuti skrining untuk mencegah tertular dan mendapatkan obat pencegahan TB. Menurut saya, ini membantu sekali karena kita jadi tahu kondisi kesehatan dan bisa melakukan pencegahan sejak awal,” jelas Widati.

Mengutip data Global Tuberculosis Report 2025, Indonesia masih menjadi negara dengan beban TB tertinggi kedua di dunia, dengan estimasi sekitar 1,08 juta kasus TB dan 126 ribu kematian akibat TB setiap tahunnya. 

Kemenkes mengajak masyarakat, khususnya mereka yang memiliki kontak erat dengan pasien TB atau termasuk kelompok berisiko, untuk segera memanfaatkan layanan CKG yang terintegrasi skrining TB tanpa perlu menunggu munculnya gejala. Pemeriksaan sejak dini dan edukasi yang tepat diharapkan dapat membantu masyarakat mengenali risiko, mendapatkan pencegahan yang sesuai, dan bersama-sama memutus rantai penularan TB.

Topik Menarik