Trump Kian Agresif Jelang Pemilu, Perang Iran Jadi Senjata Kampanye?
WASHINGTON, iNews.id - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump semakin aktif mengangkat isu perang Iran dalam kampanye menjelang pemilu paruh waktu 3 November 2026. Konflik yang telah berlangsung berbulan-bulan itu kini bersinggungan langsung dengan perebutan kursi DPR dan Senat AS.
Dalam kampanye di Nebraska pada Senin (5/10/2026), Trump kembali menegaskan perang Iran akan segera berakhir seraya mengeklaim harga-harga akan turun setelah konflik selesai. Dia juga meminta pemilih memberikan kemenangan besar kepada Partai Republik dalam pemilu paruh waktu.
Trump sebelumnya mengaitkan perang Iran dengan pemilu November. Dia bahkan menuding Iran berupaya memengaruhi hasil pemilu AS, sementara Trump menyatakan perang akan berakhir setelah pemilu.
Isu perang Iran menjadi semakin sensitif karena konflik tersebut ikut mendorong kenaikan harga energi. Harga bensin dan minyak menjadi salah satu persoalan utama yang membayangi kandidat Republik menjelang pemungutan suara.
Reuters melaporkan Trump memulai tur kampanye selama 32 hari untuk membantu kandidat Partai Republik mempertahankan kendali Kongres. Dalam kampanye tersebut, dia membela kebijakan ekonomi pemerintah di tengah kritik terhadap kenaikan harga bensin dan solar akibat konflik Iran.
Harga minyak bahkan kembali berada di sekitar level 100 dolar AS per barel pada awal Oktober. Kondisi tersebut membuat isu energi menjadi salah satu tema penting dalam persaingan kursi DPR dan Senat.
Trump berulang kali berusaha meyakinkan publik bahwa dampak perang terhadap harga hanya sementara. Dalam pernyataannya, dia mengklaim harga-harga kebutuhan telah turun dan harga minyak akan turun drastis setelah perang Iran berakhir.
Namun, isu tersebut justru menjadi tekanan politik bagi Partai Republik. Sejumlah kandidat Republik di daerah pemilihan yang ketat bahkan mendorong pemerintahan Trump agar perang Iran segera diakhiri karena khawatir dampaknya terhadap harga energi dan pemilih.
Di sisi lain, perang Iran juga telah menjadi persoalan langsung di Kongres. DPR AS dalam beberapa kesempatan menggelar pemungutan suara terkait upaya menghentikan operasi militer Trump di Iran, sementara Senat juga menghadapi perdebatan serupa.
Hasil pemilu 3 November karena itu akan menentukan komposisi DPR dan Senat sekaligus memengaruhi ruang politik Trump pada sisa masa jabatannya. Jika keseimbangan kekuasaan di Kongres berubah, kemampuan parlemen melakukan pengawasan terhadap pemerintahan dan kebijakan perang Trump juga dapat berubah.
Trump sendiri tetap menyatakan Partai Republik akan memperoleh hasil sangat baik. Namun, perkembangan harga energi, perang Iran, dan persoalan biaya hidup kini menjadi bagian penting dari pertarungan politik menjelang pemilu paruh waktu AS.










