Pahlawan Nasional Dibawa ke Era Fashion Modern lewat Batik, Ada Pesan di Baliknya!
JAKARTA, iNews.id - Batik selama ini lekat dengan kesan formal. Kain tradisional Indonesia tersebut kerap hadir dalam bentuk kemeja kantor, kebaya, beskap, atau busana yang dikenakan pada acara tertentu.
Namun, di tengah perkembangan dunia fashion, muncul cara baru untuk melihat batik sebagai busana yang lebih fleksibel dan relevan dengan zaman. Salah satunya ditunjukkan melalui campaign bertajuk 'Heroes Interpreted' yang menginterpretasikan kembali sosok pahlawan nasional dan ikon sejarah Indonesia dalam balutan batik dengan potongan modern.
Alih-alih mempertahankan citra formal yang selama ini melekat, sosok-sosok tersebut diterjemahkan ke dalam gaya yang lebih kekinian. Konsep tersebut sekaligus ingin menunjukkan bahwa batik dapat bergerak mengikuti perkembangan fashion tanpa harus kehilangan akar budayanya.
Owner Garuda Kencana Batik, Yos Christian Addyputra, mengatakan gagasan tersebut berangkat dari keinginannya untuk mengubah cara pandang masyarakat terhadap batik tulis.
"Sebenarnya sudah lama kami ingin memberikan gambaran bahwa batik tulis itu tidak harus melulu cuttingan tradisional, tidak harus jadi bawahan kebaya, beskap, atau kemeja kantor," ujar Yos saat ditemui di salah satu gerai Garuda Kencana Batik, belum lama ini.
Menurut Yos, pemilihan sosok pahlawan nasional dalam campaign tersebut bukan tanpa alasan. Tokoh-tokoh sejarah selama ini memiliki citra yang kuat dengan busana formal dan konservatif. Namun, ketika diterjemahkan melalui potongan batik modern, karakter tersebut tetap dapat dipertahankan sekaligus terlihat lebih relevan dengan perkembangan fashion masa kini.
"Ketika kami reimagined national heroes dengan cuttingan batik tulis yang modern, menurut kami itu menjadi bridge antara masa lalu dan masa sekarang. Ketika bisa dilakukan dengan baik, secara langsung mengabarkan bahwa batik itu tidak lekang oleh waktu," katanya.
Pesan tersebut menjadi bagian penting dari konsep Heroes Interpreted. Batik tidak ditempatkan sebagai sesuatu yang hanya berkaitan dengan masa lalu, tetapi sebagai warisan budaya yang masih dapat berkembang dan digunakan lintas generasi.
Yos menilai anggapan bahwa batik harus selalu terlihat formal justru dapat membatasi ruang eksplorasinya. Padahal, perkembangan fashion menunjukkan bahwa pakaian tradisional maupun formal dapat mengalami perubahan bentuk tanpa harus kehilangan identitas.
"Overall message-nya, kami ingin menunjukkan bahwa batik tulis itu tidak sekaku itu dan bisa dikenakan oleh semua generasi. Bahkan ketika dipakai ikon-ikon historical yang memiliki very conservative image, masih bisa terlihat bagus dan fashionable," tegasnya.
Menurut dia, perubahan cara memakai batik juga tidak berarti meninggalkan nilai budaya yang sudah melekat. Kreativitas justru dapat menjadi cara untuk memperluas penggunaan batik, selama tetap memahami karakter dan pakem yang ada.
"Masalah cutting dan cara pakai batik ini kan masih jadi perdebatan di tengah masyarakat. Di sinilah kami hadir untuk menunjukkan bahwa batik dapat dikreasikan bergaya modern, namun tetap menghormati nilai-nilai budaya dan pakem yang selama ini sudah tertanam di dalamnya," ujar Yos.
Perubahan tersebut juga terlihat dari perkembangan material dan teknik dalam industri fashion. Yos mencontohkan tren batik tulis dengan potongan slim fit yang mulai berkembang sekitar 2010. Saat itu, batik tulis menggunakan material yang tidak elastis sehingga potongan yang sangat mengikuti bentuk tubuh belum umum digunakan.
Seiring perkembangan material dan teknologi, eksplorasi terhadap potongan busana batik pun semakin terbuka.
Yos kemudian membandingkan perkembangan tersebut dengan fashion Barat. Jas yang dahulu identik dengan aturan berpakaian formal kini dapat dipadukan dengan berbagai elemen kasual. Menurut dia, batik juga memiliki peluang untuk mengalami evolusi serupa.
Eksplorasi batik dalam bentuk busana modern pun semakin beragam. Batik tulis kini tidak hanya hadir sebagai kemeja, tetapi juga dikembangkan menjadi jaket, jas hingga outer dengan potongan yang lebih modern.
Perubahan gaya tersebut juga dinilai mulai mendapat respons dari konsumen yang semakin terbuka mengenakan batik untuk berbagai kesempatan, termasuk aktivitas yang tidak bersifat formal.
Meski demikian, masih ada tantangan untuk mengubah persepsi bahwa batik hanya cocok dikenakan pada hari tertentu atau acara resmi. Yos berharap masyarakat Indonesia dapat mulai menjadikan batik sebagai bagian dari gaya berpakaian sehari-hari.
"Kita sebagai warga negara Indonesia yang berkewajiban menyuarakan batik ke mancanegara, bisa dimulai dengan tidak hanya memakai batik di hari Jumat," ungkapnya.
Menurut Yos, kebiasaan masyarakat Indonesia mengenakan batik secara lebih luas dapat menjadi langkah awal untuk memperkenalkan warisan budaya tersebut kepada masyarakat internasional.
"Kalau mereka liburan summer bisa memakai shirt bermotif floral, kenapa tidak dengan batik?" ujarnya.
Bagi dia, pertanyaan tersebut menjadi gambaran bahwa batik memiliki peluang untuk ditempatkan sejajar dengan berbagai fashion item lain yang telah lebih dahulu diterima secara global.
Lebih jauh, dia berharap batik tidak hanya berhenti sebagai simbol budaya Indonesia, tetapi juga dapat berkembang menjadi bagian dari industri fashion dunia dan membuka peluang kolaborasi dengan berbagai brand internasional.
Anak Sering Ngorok dan Tidur Mulut Terbuka Jangan Dianggap Sepele, Bisa Jadi Tanda Bahaya!
Pada akhirnya, Heroes Interpreted bukan hanya tentang mengubah tampilan pahlawan nasional melalui busana. Ada upaya untuk mempertemukan nilai sejarah dengan selera zaman sekarang.
Melalui pendekatan tersebut, batik kembali diingatkan sebagai warisan budaya yang tidak harus berhenti pada bentuk tradisional. Selama nilai dan identitasnya tetap dijaga, batik dapat terus berevolusi mengikuti zaman sekaligus memperkenalkan cerita Indonesia kepada generasi yang lebih muda dan masyarakat dunia.










