Iran Tunggu Jawaban AS soal Proposal Terbaru Pembukaan Selat Hormuz
TEHERAN, iNews.id - Iran masih menunggu jawaban resmi Amerika Serikat (AS) terkait proposal terbaru untuk membuka kembali Selat Hormuz. Sebelumnya Iran mengajukan proposal terbaru terkait pembukaan kembali jalur perairan strategis tersebut setelah pengajuan sebelumnya ditolak Presiden Donald Trump.
Menteri Luar Negeri (Menlu) Iran Abbas Araghchi mengatakan, pemerintahannya kini menunggu tanggapan resmi dari AS soal proposal tersebut. Menurut Araghchi, sejumlah gagasan mengenai poin-poin proposal Iran telah disampaikan oleh Qatar. Negara tersebut menjadi mediator yang membantu menyampaikan pesan antara Iran dan AS.
"Kami mendiskusikannya, mereka akan mengangkat isu ini dengan AS sekali lagi, setelah itu tanggapan akhir AS akan disampaikan kepada kami," kata Araghchi.
Araghchi menambahkan, Qatar berharap memperoleh respons dari AS pada Selasa (29/9/2026) waktu New York.
Jaminan Keamanan
Iran juga mengeluarkan peringatan keras bahwa infrastruktur negara-negara Timur Tengah dapat menjadi sasaran jika keamanan negaranya tidak mendapatkan jaminan.
Kepala negosiator Iran Mohammad Bagher Ghalibaf mengatakan, tidak akan ada infrastruktur yang aman di kawasan jika Iran sendiri tidak memperoleh jaminan keamanan.
"Di kawasan, di mana kita tidak bisa menjual minyak, tidak ada orang lain yang bisa menjual minyak; atau jika keamanan kita tidak terjamin, tidak ada infrastruktur yang tetap aman," kata pria yang juga menjabat ketua parlemen Iran itu.
Pernyataan tersebut disampaikan ketika negosiasi AS-Iran masih berlangsung di New York. Ancaman itu memperlihatkan kerasnya posisi Teheran di tengah upaya diplomatik untuk mencari jalan keluar terkait Selat Hormuz.
Selat Hormuz menjadi bagian penting dalam pembicaraan karena jalur tersebut merupakan salah satu rute utama perdagangan minyak dunia. Setiap perkembangan mengenai akses pelayaran di kawasan tersebut berpotensi berdampak pada arus perdagangan energi.
Kini, perhatian tertuju pada respons AS terhadap proposal Iran. Jawaban Washington akan menjadi salah satu faktor penting dalam menentukan perkembangan pembicaraan mengenai pembukaan kembali Selat Hormuz.










