Hong Kong Masih Jadi Pusat Miliarder Asia, Total Kekayaan Tembus Rp5.737 Triliun
HONG KONG, iNews.id - Hong Kong tetap menjadi pusat miliarder terbesar di Asia meski jumlah orang superkaya di kota tersebut menurun. Pada 2025, Hong Kong memiliki 106 miliarder, turun dua orang dibandingkan tahun sebelumnya, tetapi total kekayaan mereka justru meningkat menjadi 319 miliar dolar AS atau sekitar Rp5.737 triliun (kurs Rp17.987 per dolar AS).
Data tersebut berdasarkan Billionaire Census 2026 yang diterbitkan Altrata. Kondisi ini menunjukkan jumlah miliarder dan total kekayaan tidak selalu bergerak searah.
Melansir CEOWorld Magazine, Hong Kong berada di posisi kedua kota dengan jumlah miliarder terbanyak setelah New York. New York memiliki 164 miliarder, bertambah 12 orang dari tahun sebelumnya, sedangkan San Francisco berada di posisi berikutnya dengan 99 miliarder.
London, Singapura dan Los Angeles juga masuk dalam jajaran kota dengan populasi miliarder terbesar. Dari 15 kota dengan jumlah miliarder terbanyak, hanya Hong Kong dan London yang mengalami penurunan jumlah miliarder.
Jumlah miliarder Hong Kong turun sekitar 1,9 persen dari 108 orang pada tahun sebelumnya. Penurunan itu berbanding terbalik dengan populasi miliarder dunia yang tumbuh 8,2 persen, menjadi pertumbuhan tercepat dalam lima tahun.
Altrata mengaitkan penurunan jumlah miliarder Hong Kong dengan pelemahan sektor properti yang berkepanjangan, serta relatif terbatasnya eksposur kekayaan di kota tersebut terhadap kenaikan valuasi perusahaan teknologi yang terdorong oleh perkembangan kecerdasan buatan (AI).
Perbedaan ini berkaitan dengan struktur kepemilikan kekayaan. Kenaikan valuasi perusahaan teknologi cenderung memberikan keuntungan besar kepada pendiri dan pemegang saham utama yang memiliki porsi saham signifikan, sementara portofolio yang lebih banyak bertumpu pada properti menghadapi kondisi dan tekanan valuasi yang berbeda.
Perkembangan teknologi menjadi salah satu sumber pertumbuhan kekayaan baru secara global. Menurut Altrata, dari 150 perusahaan terbuka yang memberikan kontribusi terbesar terhadap kekayaan miliarder, perusahaan yang melakukan investasi signifikan di bidang AI mencatat pertumbuhan kapitalisasi pasar 23 persen lebih cepat selama 2024-2025 dibandingkan perusahaan yang tidak melakukan investasi tersebut.
Sementara tu, jumlah miliarder di Asia meningkat 6,5 persen menjadi 881 orang. Pertumbuhan tersebut didukung perkembangan teknologi dan penguatan pasar saham di sejumlah negara.
Korea Selatan mencatat salah satu kinerja pasar saham utama terbaik, sementara Taiwan, Jepang dan Hong Kong juga mengalami penguatan. Namun, kenaikan indeks saham secara keseluruhan tidak otomatis berarti jumlah miliarder di suatu wilayah ikut bertambah.
Secara global, total kekayaan miliarder juga tumbuh lebih cepat dibandingkan jumlah miliardernya. Sebanyak 29 orang dengan kekayaan lebih dari 50 miliar dolar AS atau setara Rp899,32 triliun, atau 27,2 persen dari total kekayaan miliarder pada 2025, naik dari 7,2 persen pada 2017.
Data tersebut menunjukkan pertumbuhan kekayaan semakin terkonsentrasi pada segelintir individu dengan kepemilikan aset dalam jumlah sangat besar.
Meski jumlah miliardernya turun, posisi Hong Kong sebagai pusat kekayaan tetap kuat. Data Altrata menunjukkan kota tersebut masih memiliki basis kekayaan agregat yang besar, meskipun pertumbuhan jumlah miliardernya tertinggal dibandingkan sejumlah pusat kekayaan lainnya.
Altrata menentukan lokasi miliarder berdasarkan alamat utama bisnis. Basis datanya mencakup perusahaan terbuka dan tertutup serta aset investasi lainnya.
Ke depan, perkembangan Hong Kong akan bergantung pada apakah jumlah miliardernya kembali meningkat dan sumber pertumbuhan tersebut. Pemulihan dapat berasal dari kenaikan valuasi perusahaan yang sudah ada, lahirnya kekayaan baru dari pengusaha atau perubahan lokasi bisnis.










