Jaap Stam Murka! Bongkar 4 Pemain MU yang Jalan Santai saat Lawan 10 Pemain Man City
MANCHESTER, iNews.id - Manchester United mendapat kritik keras dari sang legenda Jaap Stam setelah kalah 0-1 dari Manchester City yang bermain dengan 10 pemain selama lebih dari satu jam.
Kekalahan dalam derbi di Old Trafford, Minggu, 14 September 2026, memang diwarnai kontroversi gol Erling Haaland pada menit ke-60. Gol tersebut sempat dianulir karena offside, tetapi VAR kemudian mengubah keputusan dan mengesahkannya.
Kontroversi semakin besar setelah badan perwasitan Pro Ref mengakui terjadi kesalahan dalam proses pemberian gol. Enzo Fernandez dinilai ikut memengaruhi jalannya permainan dalam posisi offside, tetapi VAR gagal mendeteksi pelanggaran tersebut.
Meski demikian, kontroversi VAR tidak sepenuhnya menutupi persoalan Manchester United. MU bermain menghadapi 10 pemain setelah Phil Foden menerima kartu merah langsung pada babak pertama, tetapi pasukan Michael Carrick tetap kesulitan membongkar pertahanan City.
Stam menilai Manchester United seharusnya tampil jauh lebih agresif setelah unggul jumlah pemain. Mantan bek MU tersebut bahkan mempertanyakan sikap empat pemain depan Setan Merah, yakni Bruno Fernandes, Marcus Rashford, Bryan Mbeumo dan Matheus Cunha.
Jaap Stam Soroti Mental Pemain MU
Stam menilai City justru mampu mengontrol pertandingan dengan mudah meski kehilangan satu pemain. Dia melihat para pemain depan Manchester United tidak memberikan tekanan maksimal ketika lawan menguasai bola.
"Jika melihat City dan pertandingan ini, bagi mereka pertandingan terasa mudah hari ini, bahkan dengan 10 pemain. Ada bola panjang, mereka memenangkannya, City mengambil alih dan lihat empat pemain depan United. Mereka hanya berjalan, mereka hanya melihat situasi," kata Stam kepada Viaplay.
Kritik Stam tidak berhenti pada fase bertahan. Dia juga mempertanyakan mentalitas para pemain Manchester United setelah pertandingan berakhir.
"Saya juga bertanya kepada diri sendiri: tim United yang meninggalkan lapangan, apa yang mereka pikirkan? Apakah mereka berpikir sudah melakukan semua yang mereka bisa? Apakah hanya itu?" ujar Stam.
Menurut Stam, Manchester United semestinya mampu memainkan bola dengan lebih efektif. Dia menilai City memberikan ruang untuk dimanfaatkan, tetapi MU tidak memiliki pola yang cukup jelas untuk menciptakan peluang.
"Melawan 10 pemain, meski itu City dengan kualitas yang mereka miliki, Anda tentu berharap United selalu berada di depan, sangat agresif, bahkan para penyerang ikut turun membantu. Kemudian, tentu saja, itu juga merupakan hal yang sangat penting," kata Stam.
Dia juga menilai MU gagal memanfaatkan lebar lapangan ketika City bertahan lebih dalam. Menurut Stam, penguasaan bola seharusnya diikuti pergerakan yang lebih aktif untuk membuka ruang.
"Jika Anda menguasai bola dan mereka sedikit lebih dalam, gunakan sisi lapangan, gunakan lebar permainan sedikit, masukkan umpan silang ke kotak penalti. Namun terkadang, Anda merasa ketika mereka bermain, tidak ada ide nyata tentang bagaimana menciptakan peluang dan bagaimana membuat lawan kesulitan untuk mencetak gol," lanjut dia.
Stam kemudian menyoroti proses sebelum gol kemenangan Haaland. Menurut dia, minimnya kerja keras empat pemain depan MU menjadi salah satu masalah utama.
"Ada bola panjang, mereka memenangkannya, City mengambil alih dan lihat empat pemain depan United. Mereka hanya berjalan, mereka hanya melihat situasi. Tim yang benar-benar ingin menang, para penyerang, ini tentang semua 11 pemain, ini tentang mengejar. Melawan 10 pemain, ini tentang membantu bertahan, tentang memenangkan duel. Setelah itu, Anda mempertahankan penguasaan bola, melakukan transisi dan mencoba menciptakan peluang serta mencetak gol," tutur Stam.
Statistik pertandingan ikut memperkuat kritik tersebut. Manchester United melepaskan 16 tembakan, tetapi hanya tiga yang mengarah ke gawang. Dua peluang mereka bahkan hanya membentur tiang melalui tendangan bebas Rashford dan sepakan Patrick Dorgu.
Di sisi lain, City mampu merespons kartu merah Foden dengan sangat baik. Permainan mereka justru berkembang dan pertahanan mampu meredam ancaman pemain seperti Fernandes dan Cunha untuk mengamankan kemenangan keempat secara beruntun.
Carrick baru memasukkan Benjamin Sesko pada menit ke-67. Penyerang asal Slovenia tersebut memang digunakan secara hati-hati sejak awal musim karena sebelumnya menjalani pemulihan cedera tulang kering.
Sesko sudah tampil sebagai pemain pengganti dalam empat pertandingan Premier League. Minimnya kesempatan sebagai starter kembali menjadi sorotan setelah MU gagal memaksimalkan keunggulan jumlah pemain ketika menghadapi City.
Wayne Rooney Ikut Soroti Lini Depan MU
Persoalan lini depan Manchester United juga mendapat perhatian Wayne Rooney. Legenda klub tersebut menilai aktivitas transfer MU pada musim panas membuat Carrick memiliki pilihan terbatas di sektor penyerangan.
"Ketika bursa transfer ditutup, saya merasa Manchester United dan Michael Carrick sebagai manajer berada dalam kondisi sedikit kekurangan, terutama di lini depan. Anda memiliki Sesko, yang tampil bagus dalam beberapa pertandingan terakhir, tetapi apakah ada kepercayaan terhadap dia untuk bermain sejak awal," kata Rooney dalam Match of the Day di BBC.
Rooney juga menyoroti posisi Cunha yang dinilai terlalu sering turun meninggalkan area berbahaya.
"Kemudian Anda memiliki Cunha, yang turun terlalu dalam. Dia tidak pernah benar-benar berada di kotak penalti. Jadi yang mereka dapatkan adalah peluang-peluang setengah matang dari tepi kotak penalti. Ketika Anda kekurangan peluang di depan gawang, saat melihat gawang dari jarak 18 hingga 30 yard, Anda akhirnya berpikir, 'Saya akan mengambil kesempatan dan mencoba mencetak gol', padahal peluang mencetak golnya rendah," ujar Rooney.
Manchester United memang melakukan pembenahan besar di lini tengah pada bursa transfer musim panas dengan mendatangkan Youri Tielemans, Andrey Santos dan Carlos Baleba.
Namun, klub memilih tidak mendatangkan penyerang baru. MU juga tidak merekrut bek kiri tambahan, sementara Luke Shaw absen saat menghadapi Manchester City karena cedera.
Kekalahan dari City akhirnya memperlihatkan dua persoalan sekaligus bagi Carrick: efektivitas lini depan dan kedalaman skuad. Dengan MU baru mengoleksi satu kemenangan dalam empat pertandingan Premier League, tekanan untuk segera menemukan solusi semakin besar.










