MUI Kecam Ritual Mirip Satanic di Karnaval Maulid Pekalongan: Jangan Menyimpang!
PEKALONGAN, iNews.id - Wakil Ketua Umum MUI KH M Cholil Nafis menyoroti Simbang Kulon Night Carnival (SKNC) 2026 di Pekalongan, Jawa Tengah, yang menampilkan atraksi mirip satanic hingga penyembelihan kambing di muka umum. Menurut dia, pertunjukan tersebut bertentangan dengan esensi peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.
Cholil menyampaikan pandangan tersebut sebagai respons terhadap pelaksanaan SKNC 2026. Acara itu semula digagas sebagai rangkaian peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW sekaligus khitanan massal ke-61.
Namun, gelaran tersebut menuai kontroversi setelah menampilkan pertunjukan bernuansa mistik yang dinilai menyerupai ritual satanic.
“Ini jelas berlawanan dengan semangat memperingati atau merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW,” kata Cholil dalam keterangannya yang dikutip, Selasa (15/9/2026).
Menurut Cholil, perayaan Maulid Nabi seharusnya diisi dengan kegiatan yang mendidik, menyejukkan, serta mencerminkan akhlak Rasulullah SAW. Ekspresi kegembiraan atas kelahiran Nabi juga semestinya diwujudkan melalui kegiatan syiar yang memperkuat keimanan.
Dia mengingatkan peringatan Maulid Nabi sebaiknya tidak diisi dengan unsur yang menghadirkan ketakutan, simbol iblis, maupun praktik yang mendekati animisme.
Cholil juga mengajak umat Islam merayakan Maulid Nabi dengan mengikuti sunnah Rasulullah, antara lain melalui pembacaan shalawat dan Alquran.
“Karnaval yang sifatnya mendidik tentu boleh, tetapi ketika itu menjadi animisme atau sesuatu yang menakutkan, tentu sangat bertentangan dengan haflah Maulid Nabi,” ujar Cholil.
Dia menilai penggunaan visualisasi horor dalam karnaval tersebut dapat menghilangkan makna spiritual dari peringatan Maulid Nabi. Terlebih, dalam rangkaian pertunjukan terdapat penyembelihan seekor kambing di tengah acara.
Cholil menilai penyembelihan hewan dengan cara yang dinilai tidak beradab dan dijadikan tontonan horor menyimpang dari nilai syariat.
Dalam konteks seni Islam dan upaya membangun keguyuban masyarakat, dia mengingatkan agar ekspresi budaya tidak berubah menjadi pertunjukan yang menampilkan simbol setan ataupun penyembelihan hewan dengan cara yang tidak baik.
“Itu bukan ajaran Rasulullah,” ujar Cholil.
Pengasuh Pesantren Cendekia Amanah itu mengimbau panitia penyelenggara serta masyarakat untuk mengembalikan tradisi peringatan Maulid Nabi sesuai arahan para ulama terdahulu, sebagaimana dirumuskan Imam As-Suyuthi.
Ketua Badan Pengurus DSN MUI itu juga berharap panitia penyelenggara di berbagai daerah lebih selektif, bijaksana, dan berhati-hati ketika merancang ekspresi seni budaya Islami.
Cholil menegaskan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW harus tetap menjaga kesuciannya. Momentum tersebut diharapkan menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT sekaligus memperkuat persaudaraan sesama umat.
“Jangan menyimpang,” kata Cholil.










