Wamen ESDM Sebut EBT Bikin Harga Listrik Lebih Murah, Begini Dampaknya ke Industri

Wamen ESDM Sebut EBT Bikin Harga Listrik Lebih Murah, Begini Dampaknya ke Industri

Terkini | inews | Rabu, 2 September 2026 - 14:54
share

JAKARTA, iNews.id - Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot Tanjung mengungkapkan harga energi di negara yang banyak memanfaatkan energi baru terbarukan (EBT) cenderung lebih murah. Kondisi ini dinilai turut mendorong pertumbuhan industri dan meningkatkan daya saing suatu negara.

Yuliot mengatakan, pemanfaatan EBT tidak hanya berkaitan dengan upaya transisi energi. Harga energi yang lebih rendah juga dapat memberikan keuntungan bagi industri karena biaya produksi bisa ditekan.

"Negara-negara yang memanfaatkan energi baru terbarukan dengan kapasitas yang cukup besar harga energinya itu justru sangat rendah. Sementara negara-negara yang lebih dominan menggunakan bahan bakar yang tidak terbarukan, itu justru harga energinya relatif lebih besar," ujar Yuliot dalam paparannya di acara Indo EBTKE ConEx and Exhibition ke-12 di JIExpo Kemayoran, Jakarta Pusat, Rabu (2/9/2026).

Yuliot mencontohkan negara Pakistan yang memiliki kapasitas listrik terpasang mencapai sekitar 50 gigawatt (GW), di mana sekitar 17 GW berasal dari pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) dan lebih dari 17 GW dari pembangkit listrik tenaga air (PLTA).

Komposisi pembangkit ini, kata Yuliot, membuat harga listrik yang dijual kepada masyarakat Pakistan relatif rendah, yakni sekitar 6 sen dolar AS per kilowatt hour (kWh).

"Dengan murahnya harga listrik di Pakistan, industri-industri manufaktur di Pakistan itu justru dikerjakan oleh masyarakat, skalanya adalah usaha mikro kecil," tuturnya.

Yuliot menyebut, kondisi tersebut memperlihatkan eratnya hubungan antara ketersediaan energi dengan aktivitas ekonomi. Harga energi yang murah dapat memberikan ruang bagi masyarakat dan pelaku usaha untuk mengembangkan kegiatan manufaktur, termasuk dalam skala mikro dan kecil.

Yuliot juga menyoroti China yang dinilai memiliki daya saing industri tinggi karena didukung harga listrik yang relatif murah. Industri teknologi tinggi (high-tech) di China bahkan memperoleh harga listrik khusus sekitar 4 sen dolar AS per kWh.

Menurut dia, harga listrik tersebut menjadi salah satu faktor yang membuat sektor manufaktur China dapat berkembang lebih pesat.

Harga tersebut jauh lebih rendah dibandingkan dengan harga listrik di Indonesia yang saat ini berada di kisaran 8 sen dolar AS per kWh.

"Sehingga daya saing industri China untuk produksi-produksi yang sifatnya masif itu justru lebih tinggi dibandingkan dengan negara-negara lain," ujar Yuliot.

Dia menilai, harga energi menjadi salah satu faktor penting dalam menentukan daya saing industri. Ketika biaya energi dapat ditekan, pelaku industri memiliki ruang lebih besar untuk meningkatkan produksi dan mengembangkan usahanya.

Karena itu, menurut Yuliot, pengembangan EBT perlu dilihat tidak hanya dari sisi keberlanjutan lingkungan, tetapi juga dari dampaknya terhadap perekonomian dan daya saing industri nasional.

Topik Menarik