Bukan Podium, Pedro Acosta Sebut Finis Kelima sebagai Balapan Terbaiknya di MotoGP

Bukan Podium, Pedro Acosta Sebut Finis Kelima sebagai Balapan Terbaiknya di MotoGP

Olahraga | inews | Selasa, 1 September 2026 - 06:00
share

SILVERSTONE, iNews.id - Pedro Acosta mengejutkan dengan memilih finis kelima di MotoGP Inggris sebagai balapan terbaiknya di kelas utama, meski dia sudah delapan kali menjadi runner-up.

Pilihan Acosta tersebut cukup menarik karena pembalap KTM itu sebenarnya sudah 14 kali naik podium pada balapan Minggu sejak masuk MotoGP. Namun, dari 54 start di kelas utama, dia belum sekalipun meraih kemenangan.

Acosta bahkan tercatat sebagai pembalap dengan jumlah podium terbanyak dalam sejarah MotoGP tanpa kemenangan. Posisi runner-up terakhir dia raih di Aragon sebelum kembali bersaing di barisan depan.

Pembalap asal Spanyol berusia 22 tahun itu juga sudah merasakan kemenangan pada Sprint Buriram musim ini. Meski demikian, ketika ditanya soal balapan terbaiknya, Acosta justru menunjuk penampilan di Silverstone.

“Saya akan mengatakan Silverstone dua pekan lalu. Biasanya saya sangat kesulitan di sirkuit yang mengalir, dan untuk pertama kalinya saya mencapai akhir balapan dengan cukup kompetitif di trek seperti itu, dengan degradasi ban yang tinggi. Karena itu, saya pikir Silverstone adalah balapan terbaik saya sejauh ini,” ujar Acosta dikutip dari Crash.

Menurut Acosta, peningkatan tersebut tidak terlepas dari perubahan cara dia mengendarai motor. Dia mulai mengubah gaya balap demi menghemat penggunaan ban sepanjang perlombaan.

“Biasanya saya adalah pembalap yang selalu masuk lebih rapat ke tikungan dan menggunakan lebih banyak ban dibandingkan semua orang,” kata Acosta.

Acosta Mulai Ubah Gaya Balap

Acosta menyadari kemampuan mengelola ban menjadi salah satu aspek penting jika dia ingin terus bersaing di level teratas MotoGP. Karena itu, dia mulai mengeksplorasi cara berbeda ketika berada di lintasan.

“Sekarang saya mencoba sedikit mengubah gaya saya. Jika saya ingin siap ketika momen saya tiba, saya harus mulai melihat semua pilihan dan melihat semua cara untuk balapan,” ucapnya.

Perubahan tersebut mulai terlihat dalam performa Acosta. Di Aragon, dia mampu finis kedua dan hanya terpaut 1,754 detik dari Marc Marquez yang keluar sebagai pemenang.

Marquez pun tidak terkejut melihat Acosta mampu tampil kompetitif dalam balapan tersebut. Pembalap yang akan menjadi rekan setim Acosta di Ducati pada 2027 itu sudah memperkirakan rivalnya akan ikut bertarung memperebutkan kemenangan.

“Saya sudah tahu sebelum balapan jika Pedro akan menjadi salah satu pembalap yang bertarung untuk kemenangan,” kata Marquez.

Marquez juga menilai Acosta sangat cerdas dan agresif ketika mencari celah untuk menyalip. Performa tersebut sudah terlihat sejak Sprint hingga sesi pemanasan sebelum balapan utama.

“Terutama dengan semua masalah perangkat pengatur ketinggian motor saya di tikungan 2 dan 3, saya pikir itu membantunya menyalip para pembalap karena dia sangat cerdas dan agresif,” ujar Marquez.

“Sehari sebelumnya pada lap-lap terakhir Sprint dia sudah menjadi yang tercepat. Hari ini saat pemanasan dengan ban belakang bekas dia berada di posisi kedua. Jadi saya tahu Pedro adalah salah satu pembalapnya,” lanjutnya.

Kepala kru Paul Trevathan bahkan menyebut Acosta sebagai seorang legenda setelah penampilannya di Aragon. Acosta langsung merespons dengan nada merendah dan menilai perjalanan menuju status tersebut masih sangat panjang.

“Masih sangat panjang untuk menjadi legenda. Saya pikir kami melakukan hal-hal yang benar,” tutur Acosta.

Acosta finis 24 detik di depan pembalap KTM berikutnya, Enea Bastianini, yang mengakhiri balapan di posisi kedelapan. Konsistensi tersebut menjadi salah satu modal penting bagi Acosta yang masih memburu kemenangan pertamanya di kelas utama.

Dengan performa yang mulai stabil, Acosta menilai KTM sudah berada di jalur yang tepat setelah sempat mengalami sejumlah persoalan pada bagian awal musim.

“Dengan semua kesalahan yang kami lakukan terkait keandalan pada paruh pertama tahun ini, cukup sulit melihat posisi ketiga di klasemen menjauh dari kami,” kata Acosta.

“Sepertinya sekarang sudah berhasil. Kami menjalani balapan-balapan yang bagus. Memang benar kami masih jauh dari kemenangan, tetapi di sisi lain kami mendapatkan banyak konsistensi di lima besar,” lanjutnya.

Acosta masih memiliki sembilan kesempatan untuk meraih kemenangan bersama KTM di kelas utama, atau delapan jika balapan Qatar tidak dihitung. Setelah itu, dia akan memulai babak baru bersama Ducati pada musim 2027 sebagai rekan setim Marc Marquez.

Namun, Acosta masih memiliki pekerjaan rumah. Dia mengakui performanya dalam balapan jarak pendek, terutama kualifikasi, masih perlu diperbaiki agar peluang menang semakin besar.

“Saya masih banyak kekurangan dalam jarak yang lebih pendek, terutama kualifikasi,” ujar Acosta.

“Saya kesulitan berada di baris pertama yang biasanya memberi sedikit keuntungan pada awal balapan,” sambungnya.

Acosta kini berada di posisi keenam klasemen sementara MotoGP. Dia mengoleksi selisih 67 poin dari pemimpin klasemen Jorge Martin, tetapi hanya terpaut lima poin dari Ai Ogura yang sedang mengalami cedera.

“Saya ingin fokus pada hal-hal yang bisa membuat saya memenangkan balapan, bukan pada hal-hal yang tidak saya miliki,” pungkas Acosta.

Topik Menarik